Kuliner Fermentasi Unik Hasil Riset Bakal Hadir di Alkulturasa ITB

Kuliner Fermentasi Unik Hasil Riset Bakal Hadir di Alkulturasa ITB

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Selasa, 02 Jun 2026 19:46 WIB
Alkulturasa 2026
Alkulturasa 2026 (Foto: Nur Khansa Ranawati/detikJabar).
Bandung -

Pernah membayangkan tape ubi ungu, selai kacang merah, dan kudapan fermentasi lainnya disajikan dalam bentuk hidangan fine dining? Pengalaman kuliner yang tidak biasa itu akan menjadi salah satu daya tarik utama dalam Alkulturasa 2026, festival pangan dan budaya yang akan digelar di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 20-21 Juni 2026.

Festival tersebut merupakan wadah untuk memperkenalkan berbagai hasil riset dan inovasi pangan ITB pada masyarakat. Acara digelar lewat kolaborasi sejumlah fakultas seperti Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Fakultas Teknologi Industri melalui bidang teknologi pangan, Sekolah Farmasi, hingga Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD).

"Ternyata banyak sekali hasil penelitian yang sebetulnya inspiratif. Salah satunya 'Fermenstation', makanan fermentasi yang dibuat konsep fine dining skala kecil di akhir semester. Tahun ini akhirnya dibuat lebih besar dengan nama Alkulturasa, yaitu gabungan kultur dan rasa," ungkap Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian dan Administrasi ITB Andryanto Rikrik Kusmara di ITB, Selasa (2/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Festival yang juga menjadi bagian dari Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB tersebut nantinya akan menghadirkan beragam kegiatan. Mulai dari pameran, diskusi, lokakarya, pertunjukan seni, aktivitas luar ruang, hingga adu masak. Pengunjung juga dapat bertemu langsung dengan akademisi, pelaku industri, komunitas, serta berbagai jenama kuliner yang akan meramaikan acara.

Fermenstation sendiri akan menjadi magnet utama acara. Rikrik memaparkan, pada sesi tersebut, tamu akan menikmati sajian fine dining yang seluruhnya berangkat dari bahan dan teknologi fermentasi.

ADVERTISEMENT

"Teknologi-teknologi fermentasi tersebut akan diolah menjadi sajian fine dining delapan tahap. Dalam setiap sajian akan diceritakan narasi mengenai teknologi yang dikembangkan, misalnya tape, jahe yang difermentasi, dan berbagai bahan lainnya yang kemudian menjadi makanan unik," kata Rikrik.

Setelah fine dining di tanggal 19 Juni, di tanggal 20-21 Juni masyarakat umum dapat datang dan mencicipi berbagai kudapan hasil fermentasi tersebut beserta sajian unik lainnya di Alkulturasa.

"Jadi acara tahun ini adalah festival makanan yang menampilkan makanan-makanan unik yang telah dikurasi. Bukan makanan yang sudah umum seperti bakso dan sebagainya. ITB ingin mengantarkan kita bersama-sama untuk menguatkan industri kreatif di bidang kuliner," katanya.

Rikrik berharap kegiatan tersebut dapat menjadi jembatan yang mempertemukan berbagai potensi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Unsur budaya juga akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari festival tersebut.

"Yang ditampilkan adalah produk-produk lokal dan unik. Selain itu nanti juga ada unsur budaya. Tradisi-tradisi lama yang kita miliki akan ditampilkan dalam festival tersebut. Jadi ada pengolahan makanan tradisional, bahan pangan tradisional, kearifan tradisional, dan juga inovasi yang lahir dari sains dan teknologi," katanya.

"Kita sebenarnya tidak kekurangan potensi. Yang perlu dilakukan adalah mempertemukan semua potensi tersebut," ujarnya.

Lebih lanjut, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat Iendra Sofyan mengatakan, inovasi yang lahir dari kampus perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat agar dapat memberikan dampak nyata. Termasuk bagi pelaku UMKM dan industri pangan.

"Kalau berkolaborasi dengan pemerintah dan pelaku usaha, riset akan lebih berdampak dan bermanfaat. Agenda ini sejalan dengan program gastronomi Jabar. Didorong dengan penelitian, gastronomi kita bisa lebih maju," ungkapnya dalam kesempatan yang sama.

Iendra menambahkan, Jawa Barat memiliki kekayaan bahan pangan lokal yang melimpah dan belum sepenuhnya dimanfaatkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, hasil-hasil riset yang ditampilkan dalam Alkulturasa diharapkan dapat menjadi contoh hilirisasi skala kecil yang dapat diterapkan oleh masyarakat maupun pelaku UMKM.

"Sebenarnya semua jenis makanan bahan bakunya ada. Ini semacam hilirisasi kecil-kecilan supaya bisa menjadi produk yang lebih bernilai. Teknologi yang dikembangkan seperti ini bisa digunakan untuk berbagai komoditas yang ada di sekitar kita sehingga olahannya menjadi lebih variatif dan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi," kata Iendra.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Ada 'Paus Raksasa' Terdampar di Pasar Seni ITB"
[Gambas:Video 20detik]
(mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads