Inovasi Lumpia Kwetiau Mang Uhe, Modal Nekat Berbuah Manis

Serba-serbi Warga

Inovasi Lumpia Kwetiau Mang Uhe, Modal Nekat Berbuah Manis

Firyal Hanan Maulida - detikJabar
Minggu, 19 Apr 2026 13:30 WIB
Inovasi Lumpia Kwetiau Mang Uhe, Modal Nekat Berbuah Manis
Lumpia Kwetiau Mang Uhe. Foto: Firyal Hanan Maulida
Bandung -

Asep Wildan berdiri tegak menyeka keringat di dahi di balik bisingnya klakson dan kepulan asap kendaraan. Di bawah tenda sederhana, pria yang akrab disapa Mang Uhe ini adalah potret nyata ketangguhan seorang lelaki yang menolak menyerah pada keadaan.

Tangannya yang terbiasa bersahabat dengan panas kompor bergerak lincah, memadukan setiap bahan di atas wajan panas demi meracik harapan dalam tiap porsi lumpia.

Baginya, setiap porsi yang terjual bukan sekadar transaksi rupiah, melainkan napas panjang untuk dapur rumahnya yang sempat hampir berhenti mengepul saat hantaman pandemi beberapa tahun silam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan Mang Uhe sebagai pelapak kuliner tidak berjalan mulus seperti air mengalir. Ia pertama kali memberanikan diri terjun ke dunia dagang pada 2018. Namun, hantaman pandemi pada 2020 memaksanya berhenti berjualan sementara waktu. Butuh waktu tiga tahun bagi Mang Uhe untuk mengumpulkan modal dan keberanian hingga akhirnya ia kembali membuka usahanya pada 2023 dan terus bertahan hingga saat ini.

ADVERTISEMENT

Lumpia basah bukanlah pilihan pertamanya saat baru mengenal dunia wirausaha. Di awal langkahnya, ia mencoba mencari rezeki dengan menjual menu yang sangat berbeda.

"Yang untuk pertama kali jualan tuh sebenarnya bukan lumpia basah, tapi kupat petis, cuman sepi jadi berganti ke lumpia langsung dan di sini lokasinya gitu," kenang Mang Uhe saat ditemui oleh detikJabar, Senin (6/4/2026).

Kegagalan di menu kupat petis tidak mematikan langkahnya. Mang Uhe justru melakukan evaluasi cepat. Ia menyadari bahwa untuk bertahan hidup di tengah kerasnya persaingan kuliner harus menjual sesuatu yang memang dikuasai dan digemari. Keputusannya beralih ke lumpia basah bukan tanpa alasan; baginya makanan adalah perpaduan antara pengetahuan teknis dan rasa suka.

Bagi Mang Uhe, mengolah makanan bukan sekadar soal mengenyangkan perut pembeli, melainkan menyalurkan minat pribadinya ke dalam setiap porsi yang disajikan.

"Karena salah satu keahlian, bukan keahlian sih pengetahuan tentang kuliner tuh ini lumpia. Lebih berat ke lumpia, jadi ya sudah saja diperjual belikan nyoba-nyoba, alhamdulillah sampai sekarang," tuturnya.

Namun, di tengah ramainya persaingan kuliner kota, penjual lumpia basah ada di setiap sudut jalan. Mang Uhe tahu betul bahwa ia tidak bisa hanya menjadi satu di antara seribu; ia butuh identitas.

Jika lumpia basah pada umumnya mengandalkan irisan bengkuang manis, Mang Uhe melakukan langkah berani dengan membuat perbedaan. Ia menghadirkan kwetiau sebagai pengganti tekstur utama di dalam kulit lumpianya.

Inovasi lumpia kwetiau ini ternyata menjadi magnet bagi para pemburu kuliner yang bosan dengan rasa yang itu-itu saja. Ia juga terus bereksperimen dengan berbagai tambahan topping.

"Ya itu kan jarang gitu ada yang jual, jadi kesempatan ini dicoba. Jadi inovasi lah lumpia yang pakai kwetiau, untuk kedepannya kemarin kan nambah ini, siomai kering sama telur ceplok. Nanti mah ada, kalau ada umur mau tambah kornet sama keju mozarella lah yang kayak gitu, cuman harus ditester dulu sendiri," jelasnya penuh semangat.

Keberanian untuk berinovasi ini membuahkan hasil yang manis. Jika dulu ia sempat merasakan getirnya menjadi karyawan dengan kondisi finansial yang sulit berkembang, kini gerobak lumpianya telah menjadi tiang penyangga ekonomi keluarga. Harga satu porsi lumpia Mang Uhe hanya Rp 12 ribu. Pembeli bisa menambah topping dengan harga Rp 3 ribu.

Perubahan kondisi ekonomi ini ia syukuri sebagai buah dari ketekunan yang tidak mengkhianati hasil.

"Alhamdulillah, kan emang sempat dulu teh awalnya kerja gitu ya, dua tahunan ya gitu ekonomi teh sulit berkembang. Terus kalau usaha, asal kita rajin, alhamdulillah rezeki selalu ada. Paling setidaknya ada gitu, ada aja uang jangan sampai nol gitu," ungkapnya.

Bukan sekadar urusan materi, bagi Mang Uhe, menjadi pedagang mandiri memberikannya sebuah kemerdekaan diri. Ia merasa jauh lebih tenang ketika menjadi penentu bagi nasibnya sendiri, tanpa harus terikat pada aturan kaku atau tekanan dari orang lain.

Prinsip kebebasan inilah yang membuatnya betah berdiri berjam-jam di balik panasnya kompor setiap harinya.

"Sempat berpikir jualan begini kan enak gitu, gak mendengar omongan orang lain gitu. Jadi memang mau jualan ya jualan, memang mau libur ya gak ada yang marahin gitu," pungkasnya.

(sud/sud)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads