Deretan bacang berbentuk limas segitiga itu menggantung rapi di rak besi. Terikat tali bambu, dibalut daun hanjuang yang masih segar, aromanya langsung menyeruak begitu didekati. Manis, gurih, dengan sentuhan pedas yang tipis, menghadirkan sensasi 'lekoh' dari kuah jando yang khas di lidah.
Di dapur produksi sederhana miliknya, Christian (37), owner Bacang Panas 88 Sukabumi, tampak sibuk bersama para pekerjanya. Tangan-tangan terampil itu melipat daun, mengisi beras dan daging, lalu mengikatnya satu per satu sebelum direbus.
Rasa bacang ini dominan manis, gurih, dan sedikit pedas. Tak hanya itu, aroma daun hanjuang yang menenangkan membuat sensasi berbeda ketimbang bacang yang dibungkus daun bambu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: 4 Kuliner Legendaris Sukabumi selain Mochi |
Usaha Bacang Panas 88 ini, kata dia, mulai dirintis sejak 2017. Berawal dari kegemarannya di dunia kuliner-ditambah pengalaman kerja di hotel-Christian mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda dari bacang pada umumnya.
"Jadi, kita tuh baru mulai produksi itu tahun 2017. Istimewanya itu kita lebih simpel, pakai bahan-bahan natural. Kita pakai daun hanjuang sama talinya tali bambu, jadi bebas dari kimia," katanya kepada detikJabar di tokonya, Jalan Pemuda, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, belum lama ini.
Menurutnya, kekuatan utama produknya ada pada cita rasa yang disesuaikan dengan lidah lokal. Ia ingin bacang yang identik dengan kuliner Tionghoa bisa lebih mudah diterima masyarakat luas.
"Dari lain-lain kita mengutamakan cita rasa yang unik. Jadi lidah orang Sunda sama orang Indonesia itu cocok," katanya.
Tak seperti bacang pada umumnya yang disajikan dingin, di tempat ini pelanggan punya pilihan. Bacang bisa dinikmati panas maupun dingin, sesuai selera. "Jadi kita jualnya bisa panas, bisa dingin juga. Tergantung selera orang-orang," ucapnya.
Varian rasanya pun beragam, mulai dari ayam, sapi, hingga ketan isi ayam dan sapi. Ada pula tambahan topping mulai dari varian jadul hingga telur asin. Bahkan, pelanggan bisa memesan sesuai keinginan.
Bacang Panas 88 Sukabumi Foto: Siti Fatimah/detikJabar |
Proses pembuatannya dimulai dari pemilihan daun hanjuang. Daun dibersihkan, bagian batang dikupas agar lentur, lalu direbus. Setelah itu dibentuk limas segitiga, diisi beras dan daging, kemudian diikat dan direbus hingga matang.
"Dari daun kita kopekin batangnya biar lentur, habis itu direbus. Baru dibentuk, diisi nasi sama daging, diikat, terus direbus," jelasnya.
Dalam sehari, dapurnya mampu memproduksi sekitar 300 hingga 400 bacang, dengan kebutuhan beras mencapai 25 kilogram. Usaha ini kini ditopang oleh lima hingga enam pekerja.
Meski terus bertahan, Christian mengakui usahanya tak lepas dari tantangan, terutama kenaikan harga bahan baku dan kemasan. "Terdampak banget sih. Daging, ayam, beras naik semua. Sama plastik juga terasa banget," ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia sempat menaikkan harga jual sebesar Rp1.000. Kini satu bacang dijual sekitar Rp12.000. "Masih terjangkau lah. Cuma buat usaha kecil kayak gini tetap terasa," katanya.
Meski begitu, permintaan tetap stabil bahkan meningkat saat musim liburan. Bacang buatannya kerap diburu wisatawan sebagai oleh-oleh praktis khas Sukabumi. "Biasanya ramai kalau musim libur. Orang-orang wisata mampir, beli buat dibawa pulang. Praktis, langsung bisa dimakan," ucapnya.
Menariknya, meski bacang dikenal sebagai makanan khas Tionghoa, Christian memastikan produknya halal dan telah mengantongi sertifikasi resmi.
Di balik kepulan uap dari panci rebusan, Bacang Panas 88 Sukabumi terus menjaga rasa dan tradisi-menghadirkan kuliner sederhana yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
(iqk/iqk)











































