Kisah Ude, Eks Bankir Hijrah Jadi Pedagang Es Goyobod di Garut

Kisah Ude, Eks Bankir Hijrah Jadi Pedagang Es Goyobod di Garut

Hakim Ghani - detikJabar
Sabtu, 04 Apr 2026 08:30 WIB
Ude, pemilik Goyobod Ude yang legendaris di Garut
Ude, pemilik Goyobod Ude yang legendaris di Garut (Foto: Hakim Ghani/detikJabar)
Garut -

Di balik hingar-bingar perkotaan Garut setiap hari, seorang lelaki bernama Ude konsisten menghidupi keluarganya. Dari gelas demi gelas es goyobod yang dijualnya, Ude sukses mengantar anak-anaknya hingga berpendidikan tinggi.

Panas terik matahari di Garut saat siang hari belakangan ini, membuat penulis tergoda untuk mampir di sebuah lapak es goyobod, yang nyempil di Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Garut.

Mampir bersama kolega, kami memesan dua gelas es goyobod yang sedari jauh terlihat sangat menggiurkan dengan serutan es dan kental manis di atasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sana, kami disambut Ude, pria berusia setengah abad yang merupakan pemilik dari lapak es goyobod bernama Es Goyobod Ude tersebut.

Kami adalah pembeli terakhir saat itu. Mampir sekitar pukul 2 siang, Ude hendak menutup lapak jualannya karena barang dagangannya sudah hampir habis.

ADVERTISEMENT

Sembari menikmati es goyobod buatannya, kami berbincang tipis dengan Ude. Bagi penulis, Ude adalah sosok yang menarik. Sebab, dia merupakan sosok penerus lapak es goyobod legendaris, yang diyakini telah eksis sejak tahun 1970-an tersebut.

"Jadi es goyobod ini merupakan warisan bapak saya. Pak Asep. Beliau berjualan sejak tahun 70-an," ucap Ude.

Meskipun hanya sekadar penjual es goyobod, tapi Asep tak ingin anaknya hidup sengsara. Tahun 90-an, Ude dikuliahkan orang tuanya di Bandung. Dia kemudian menyandang gelar sarjana ekonomi pada tahun 1997.

Setelah menjadi mahasiswa, Ude kemudian memulai karirnya sebagai seorang bankir di sebuah bank milik negara. Tak bertahan lama, dia kerja hanya hingga tahun 2002 saja.

"Waktu itu momennya saat saya pulang ke Garut lihat bapak sudah mulai tua. Saya mulai kepikiran untuk melanjutkan bisnis bapak saya," katanya.

"Di sisi lain, saya juga merasa kurang nyaman kalau bekerja. Harus bangun pagi, setrika baju dan dasi sendiri. Serasa bukan yang saya cari," katanya menambahkan.

Ude merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, lebih dahulu bekerja di perusahaan bahan bangunan. Sedangkan adiknya, wanita, ikut bersama suami ke luar kota.

Hal itu yang kemudian membulatkan tekad Ude untuk meneruskan jejak sang ayah berjualan es goyobod. Meskipun pada mulanya, Ude ragu apakah penghasilannya berdagang akan sama besarnya dengan gaji dia menjadi bankir atau tidak saat itu.

Singkat cerita, Ude akhirnya memberanikan diri untuk keluar dari pekerjaannya yang nyaman dan memilih jalan yang tidak pasti untuk berjualan. Namun, setelah melalui suka-duka menjadi pengusaha, Ude kemudian menemukan jati dirinya.

Ude menilai, keputusannya banting setir dari bankir menjadi pedagang es goyobod adalah langkah yang tepat. Sebab, pada akhirnya, keluarganya sejahtera dari hasil jualan es goyobod ini.

Es Goyobod Ude yang legendarisEs Goyobod Ude yang legendaris Foto: Hakim Ghani/detikJabar

Resep es goyobod legendaris dari sang bapak saat itu membuat Ude tak takut sepi pembeli saat berdagang. Banyak langganan hingga pembeli baru yang mampir setiap harinya di lapak jualan Ude.

"Dulu karena saingannya belum banyak, bisa kejual banyak setiap harinya. Kalau sekarang, di hari biasa ya paling sekitar 100 sampai 150 gelas setiap hari di hari biasa," kata Ude.

Berkah berdagang sangat dirasakan oleh Ude. Tak terasa, Ude yang kini memiliki lima buah hati, bisa menjamin kehidupan anak dan istri, bahkan hingga menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

"Anak saya lima. Empat sudah dan sedang kuliah, yang satu lagi masih sekolah," katanya.

Bagi Ude, pendidikan adalah yang utama. Terlepas kelak anak-anaknya akan memilih jalan hidupnya sendiri, atau bahkan menjadi generasi ketiga yang menjual racikan es goyobod legendarisnya.

Obrolan yang berlangsung sekitar 20 menit itu menemui 'peluit akhir' tanda berakhir setelah dua gelas es goyobod yang kami pesan tak terasa sudah habis.

Setelah perbincangan hampir berakhir, Ude sempat berbagi kiat suksesnya kepada kami.

"Bagi saya, konsistensi adalah kunci. Banyak pesaing yang muncul cepat, istilahnya viral, dan booming. Tapi enggak lama redup lagi. Menurut saya itu karena tidak konsisten dan tidak mempertahankan kualitas," pungkas lelaki berbadan kekar tersebut.

(yum/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads