Maja-ne Lengka, yang berarti pohon Maja tiba-tiba hilang dan menjadi langka menurut asal-usul nama Kota Majalengka. Namun, meski dalam legenda pohonnya hilang, kota ini tetap berkembang dengan ragam budaya yang menarik.
Kota ini dilintasi dan menjadi tujuan banyak orang. Kehadiran Tol Cisumdawu yang terhubung dengan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati membuat Kabupaten Majalengka semakin strategis sebagai jalur perlintasan pemudik dari berbagai daerah.
Seiring berkembangnya infrastruktur dan sektor pariwisata, daerah ini juga semakin dikenal memiliki kekayaan kuliner tradisional yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat lokal.
Jalakotek? Ya, camilan ini sejauh ini paling dikenal sebagai ikon kuliner khas Majalengka. Kudapan berbentuk segitiga dengan isian tahu dan oncom tersebut memang telah lama menjadi favorit masyarakat.
Namun, Majalengka juga punya ragam kuliner lain, mulai dari produk fermentasi kedelai, camilan gurih, hingga pemanis tradisional. Berikut ini adalah 5 kuliner khas Majalengka selain jalakotek yang layak dijajal saat liburan atau melintas di sana.
1. Kecap Majalengka
Salah satu produk kuliner paling legendaris dari Majalengka adalah kecap manis lokal yang telah diproduksi sejak era 1940-an. Hingga kini, kecap Majalengka masih dibuat oleh industri rumahan dengan resep turun-temurun yang mempertahankan teknik tradisional.
Berbeda dengan kecap produksi massal, kecap khas Majalengka memiliki tekstur lebih kental dengan rasa manis gurih yang kuat karena menggunakan gula aren asli tanpa tambahan pemanis buatan. Beberapa merek yang dikenal luas antara lain Kecap Maja Menjangan dan Kecap Segitiga.
Proses pembuatannya dimulai dari kacang kedelai hitam pilihan yang direbus, kemudian difermentasi menggunakan kapang selama beberapa hari. Setelah itu, kedelai yang telah difermentasi direbus bersama gula merah aren serta campuran rempah dalam tungku besar hingga menghasilkan kecap dengan konsistensi pekat dan aroma khas.
Produk kecap ini dapat ditemukan di toko oleh-oleh di sekitar Jalan KH Abdul Halim maupun kawasan Alun-alun Majalengka, dengan harga berkisar Rp16.000 hingga Rp31.000 per botol.
2. Oncom Goreng
Kuliner khas lainnya yang cukup populer di Majalengka adalah oncom goreng kering. Berbeda dengan olahan oncom di daerah lain yang biasanya dimasak basah, oncom di Majalengka diolah menjadi camilan renyah yang tahan lama.
Konon, makanan ini awalnya dibuat sebagai cara masyarakat lokal untuk memperpanjang masa simpan oncom, sehingga bisa dijadikan bekal perjalanan atau disimpan lebih lama di rumah.
Bahan utama camilan ini berasal dari bungkil kacang tanah yang telah difermentasi menjadi oncom. Oncom kemudian dihancurkan atau diiris kecil, lalu dibalut dengan tepung beras yang sudah dibumbui bawang putih, garam, irisan kencur, serta daun bawang.
Untuk menghasilkan tekstur yang benar-benar renyah, oncom biasanya digoreng dua kali hingga kering. Hasilnya adalah camilan gurih dengan aroma rempah yang khas dan dapat bertahan hingga beberapa minggu, bahkan dua bulan.
Oncom goreng banyak diproduksi oleh pelaku UMKM di Kecamatan Kadipaten serta dijual di pasar tradisional seperti Pasar Maja, dengan harga sekitar Rp15.000 hingga Rp30.000 per bungkus.
3. Ampas Kecap
Kuliner unik khas Majalengka lainnya adalah tumis ampas kecap. Makanan ini lahir dari proses produksi kecap tradisional. Meski terdengar sederhana, hidangan ini justru menjadi lauk favorit masyarakat setempat.
Ampas kecap berasal dari kedelai hitam sisa penyaringan dalam proses pembuatan kecap. Alih-alih dibuang, bahan tersebut dimanfaatkan kembali menjadi hidangan yang gurih dan kaya rasa.
Biasanya, ampas kecap diolah menjadi tumis atau oseng dengan tambahan cabai hijau, bawang merah, bawang putih, serta potongan tomat. Beberapa orang juga menambahkan sedikit kecap untuk memperkaya cita rasanya.
Hidangan ini sering dijadikan lauk pendamping nasi hangat. Rasanya yang gurih dan sedikit manis membuatnya tetap digemari hingga sekarang.
Ampas kecap bisa ditemukan di pasar tradisional seperti Pasar Cigasong dan Pasar Kadipaten, baik dalam bentuk mentah maupun sudah diolah menjadi masakan siap santap. Harganya relatif murah, mulai dari Rp5.000 hingga Rp15.000.
(orb/orb)