Wajib Coba! 3 Kuliner Legendaris Khas Banjar Selain Pepes Ikan

Wajib Coba! 3 Kuliner Legendaris Khas Banjar Selain Pepes Ikan

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Sabtu, 28 Mar 2026 10:00 WIB
kue rangi di ragunan
Kue rangi. (Foto: Detikfood)
Bandung -

Kota Banjar yang dikenal sebagai gerbang utama Jawa Barat dari arah Jawa Tengah menyimpan kekayaan kuliner yang unik. Selain 'anti mainstream', kuliner-kuliner ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat di sini.

Selama ini, banyak orang mengenal Banjar melalui hidangan pepes ikan khas Sunda yang kerap dijajakan di rumah makan sepanjang jalur lintasan mudik. Tak sekadar pepes, kuliner khas Banjar jauh lebih beragam dan memiliki cerita panjang yang berkaitan dengan tradisi masyarakat agraris di wilayah Priangan Timur.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi Anda yang berencana melintas di Kota Banjar, tidak ada salahnya menyempatkan diri mencicipi sejumlah makanan legendaris yang masih bertahan hingga kini. Berikut tiga kuliner khas Banjar selain pepes ikan yang patut dicoba.

3 Kuliner Legendaris Khas Banjar

ADVERTISEMENT

1. Pepes Lubang

Kuliner tradisional yang cukup unik dari Banjar adalah Pepes Lubang. Menurut kamus Sundadigi, lubang adalah ikan sejenis belut, lebih tepatnya ikan moa atau yang banyak dikenal sebagai sidat; belut besar yang hidup di sungai.

Ya, Banjar memang dekat dengan Sungai Citanduy yang kaya akan sumber daya hewani ikan. Dari kemudahan mendapatkan lubang ini, warga sejak zaman agraris mengkreasikan masakannya menjadi Pepes Lubang.

Sejak dahulu, hidangan ini menjadi makanan sehari-hari masyarakat agraris di Banjar. Belut yang mudah ditemukan di sawah dan lubang di sungai menjadi sumber protein yang diolah dengan cara sederhana namun tetap melimpah bumbu.

Proses pembuatannya dimulai dengan membersihkan belut segar lalu memotongnya menjadi beberapa bagian. Belut kemudian dilumuri bumbu halus yang terdiri dari kunyit, jahe, kemiri, bawang merah, bawang putih, dan cabai. Agar aroma amis berkurang, biasanya ditambahkan daun kemangi dan serai dalam jumlah cukup banyak.

Setelah dibumbui, belut dibungkus dengan daun pisang, kemudian dikukus hingga matang. Untuk menghasilkan aroma yang lebih khas, pepes biasanya kembali dibakar di atas arang kayu sebelum disajikan.

Kuliner ini dapat ditemukan di berbagai warung nasi Sunda di kawasan Langensari atau di rumah makan sekitar Terminal Kota Banjar, dengan harga berkisar Rp25.000 hingga Rp45.000 per porsi.

2. Kacang Umpet

Selain makanan berat, Kota Banjar juga memiliki camilan khas bernama kacang umpet. Nama tersebut berasal dari bentuk camilan ini yang memperlihatkan kacang tanah seolah 'bersembunyi' di dalam balutan kulit tepung renyah.

Kacang umpet mulai dikenal luas sebagai salah satu kue kering Lebaran yang populer di Banjar. Rasanya yang gurih dan manis membuat camilan ini banyak dipilih sebagai suguhan tamu saat hari raya.

Proses pembuatannya cukup sederhana. Kacang tanah terlebih dahulu disangrai hingga matang, kemudian dibungkus dengan adonan tepung terigu tipis yang menyerupai kulit pangsit. Setelah itu, adonan digoreng menggunakan teknik deep fry hingga berwarna keemasan. Bentuk dari kudapan ini memanjang dengan kulit pangsit menggulung kacang.

Beberapa produsen kemudian menambahkan gula karamel dan taburan wijen saat proses penggorengan untuk memberikan cita rasa manis dan aroma khas. Hasil akhirnya adalah camilan renyah dengan perpaduan rasa manis di luar dan gurih kacang di bagian dalam.

Saat ini, kacang umpet banyak diproduksi oleh pelaku UMKM di Kecamatan Pataruman dan dijual di berbagai toko oleh-oleh di sepanjang Jalan Letjen Suwarto. Harganya berkisar Rp15.000 hingga Rp30.000 per kemasan.

3. Rangi

Hampir saja menyebut 'Ranginang' kudapan yang dalam bahasa Indonesia dinamai rengginang. Tapi, ini namanya Rangi saja. Lebih tepatnya, Kue Rangi.

Camilan ini berbahan dasar kelapa dan memiliki rasa manis gurih. Meski kue rangi juga dikenal di beberapa daerah lain seperti di Betawi, versi Kota Banjar memiliki karakter tersendiri.

Teksturnya cenderung lebih padat dan memiliki aroma bakaran yang kuat karena masih dibuat menggunakan cetakan besi tradisional di atas tungku. Kue Rangi dibuat dengan cetakan yang sama seperti cetakan bandros.

Adonan rangi dibuat dari campuran parutan kelapa tua dan tepung ketan atau tepung kanji. Ini juga yang membedakannya dengan rangi khas Betawi yang memakai tepung sagu. Campuran tersebut kemudian dipanggang dalam cetakan khusus tanpa menggunakan minyak hingga matang dan kering.

Setelah kue matang, bagian atasnya disiram dengan cairan gula merah atau gula aren kental, sebagai saus manis yang menambah cita rasa kue ini.

Kue rangi biasanya dijual oleh pedagang tradisional di Pasar Subuh Kota Banjar atau di sekitar alun-alun Banjar pada sore hari. Harganya relatif terjangkau, sekitar Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.

(orb/orb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads