Kabupaten Kuningan yang bertengger di kaki Gunung Ciremai menjadi salah satu destinasi mudik favorit di wilayah timur Jawa Barat. Saat momen Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah pada Maret 2026 mendatang, kawasan ini diprediksi bakal diserbu para perantau yang pulang kampung serta wisatawan yang merindukan udara sejuk pegunungan.
Selain tersohor dengan panorama alamnya, Kuningan menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang menggoda selera. Daerah ini memang identik dengan tape ketan manis nan legit yang dikemas unik dalam ember. Satu ember biasanya berisi 80 hingga 100 buah tape ketan.
Namun, selain tape ketan ember, Kuningan memiliki deretan makanan tradisional lain yang lahir dari perpaduan budaya lokal dan Tionghoa. Berikut adalah enam kuliner khas Kuningan selain tape ketan yang wajib Anda cicipi atau dibawa pulang sebagai buah tangan.
6 Makanan Khas Kuningan Selain Tape Ketan
1. Hucap
Salah satu primadona kuliner Kuningan adalah Hucap, yang merupakan akronim dari tahu dan kecap. Hidangan ini menjadi menu sarapan wajib bagi masyarakat lokal karena perpaduan rasanya yang gurih, manis, dan mengenyangkan.
Hucap sering dianggap sebagai simbol akulturasi kuliner Sunda dengan pengaruh Tionghoa. Sekilas, tampilannya mirip dengan kupat tahu. Namun, hucap memiliki karakter rasa yang berbeda dan lebih pekat.
Bahan utamanya adalah tahu goreng khas Kuningan yang bertekstur padat dengan semburat rasa asam yang tipis. Tahu tersebut disajikan bersama potongan ketupat, lalu disiram saus kacang yang teksturnya sangat halus dan kental.
Kunci kelezatannya terletak pada penggunaan kecap manis lokal yang memiliki cita rasa manis-gurih yang kuat, serta limpahan taburan bawang goreng di atasnya.
Salah satu tempat legendaris untuk mencicipi hidangan ini adalah Hucap Ma Iroh di Jalan Dewi Sartika, atau menyambangi beberapa kedai di kawasan Pasar Baru Kuningan. Harga satu porsinya cukup terjangkau, berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000.
2. Nasi Kasreng
Awalnya 'Kasri', lama-lama menjadi 'Kasreng'. Demikian silsilah nama Nasi Kasreng khas Kabupaten Kuningan. Nasi Kasreng memiliki komposisi yang unik; nasi putih yang biasanya disajikan di atas kertas nasi, lalu diberi taburan udang rebon goreng, tauge mentah, dan sambal terasi pedas. Lauk pendamping yang paling pas adalah gorengan hangat seperti bakwan atau gehu.
Dahulu, makanan ini merupakan menu andalan para sopir bus dan kernet yang singgah di Terminal Luragung pada era 1970-an. Menurut arsip detikJabar, nama 'Kasreng' sendiri berasal dari seorang pedagang bernama Kasri, tepatnya Bu Kasri, yang pertama kali menjajakan nasi dengan lauk sederhana ini. Perpaduan nama Kasri dan gorengan inilah yang kemudian melahirkan sebutan Kasreng.
Kini, Nasi Kasreng telah naik kelas menjadi kuliner favorit wisatawan. Sebuah tempat bernama Nasi Kasreng Luragung Mandiri bisa menjadi tujuan utama untuk menikmati hidangan ini. Harga satu porsinya mulai dari Rp15.000, tergantung pada lauk tambahan yang Anda pilih.
3. Kwecang
Kuliner berikutnya yang tak kalah unik adalah Kwecang. Kudapan berbahan dasar ketan ini memiliki bentuk segitiga yang menyerupai bacang. Makanan ini berakar dari tradisi masyarakat Tionghoa yang biasanya disajikan saat perayaan Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga. Seiring berjalannya waktu, kwecang diadopsi oleh masyarakat Kuningan menjadi camilan sehari-hari.
Kwecang terbuat dari beras ketan yang direndam dalam air abu merang, sehingga menghasilkan warna kuning transparan dengan tekstur yang kenyal. Ketan tersebut dibungkus daun bambu berbentuk limas segitiga, lalu direbus selama berjam-jam hingga matang sempurna.
Kwecang biasanya dinikmati dengan siraman gula aren cair yang memberikan sensasi manis legit. Kudapan ini mudah ditemukan di toko oleh-oleh sepanjang Jalan Siliwangi atau pedagang tradisional di pagi hari dengan harga Rp5.000 hingga Rp7.500 per buah. Biasanya, kwecang dijual per ikat berisi 10 buah.
(orb/orb)