Tiga Varian Karedok, Kuliner Warisan Sunda yang Cocok untuk Buka Puasa

Tiga Varian Karedok, Kuliner Warisan Sunda yang Cocok untuk Buka Puasa

Dian Nugraha Ramdani - detikJabar
Senin, 16 Mar 2026 11:00 WIB
Resep Karedok Sunda
Karedok Sunda (Foto: iStock)
Bandung -

Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2026 ini menetapkan Karedok, kuliner khas Sunda yang berbahan dasar sayuran segar dengan cara pembuatan yang khas sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb). Kuliner ini di antara produk budaya lainnya, ditetapkan sebagai warisan budaya yang berkembang di Priangan.

Karedok, memang kuliner yang sangat lezat. Wangi kencur dan kemangi yang digerus pada ulekan, pedas dari cabai mentah, gurih terasi, dan segarnya sayuran mentah membuat lidah termanjakan. Bedanya dengan lotek yang menggunakan sayuran rebus dan bumbu kacang, karedok kurang cocok digado. Kuliner ini harus dijadikan teman nasi.

Mengutip laman Indonesia Kaya, dikatakan budayawan Ajip Rosidi dalam Ensiklopedi Sunda: Alam, Manusia, dan Budaya menegaskan karedok memang umumnya disantap bareng nasi. Ajip memberi keterangan ada tiga macam karedok: karedok leunca, karedok terong, dan karedok kacang panjang. Betapa segarnya pilihan tiga jenis karedok itu!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karedok, tiada salahnya disajikan sebagai menu berbuka puasa. Mulut yang terasa asam karena sepanjang hari berpuasa boleh jadi kembali fresh setelah 'dibilas' dengan sayuran segar sedikit pedas.

ADVERTISEMENT

Coba yuk! Berikut ini tiga resep karedok yang bisa detikers coba untuk membuatnya di rumah:

Tiga Varian Karedok untuk Teman Nasi Saat Buka Puasa

1. Karedok Leunca

"Karedok, karedok leunca. Karedok, karedok cinta," demikian penyanyi Pop Sunda, Rika Rafika mendendangkan lagu Sunda berlatar kuliner karedok.

Salah satu varian karedok yang cukup digemari dan paling punya kesan sebagai 'karedok' yang sesungguhnya adalah karedok leunca ini. Leunca (ranti) merupakan buah (sayuran?) kecil berwarna hijau yang memiliki cita rasa khas sedikit pahit. Warnanya ada yang hijau dan warna hitam kalau sudah tua.

Proses pembuatan Karedok Leunca, dimulai dengan menyiapkan bahan-bahan segar. Leunca dipetik yang masih muda agar teksturnya renyah. Ini adalah bahan utama. Jarang leunca dicampur dengan lalapan lain.

Resep Karedok LeuncaResep Karedok Leunca Foto: Getty Images

Resep paling sederhana adalah membuat ulekan cabai rawit, bawang putih, kencur, kemangi, gula merah, dan sedikit garam. Terasi bisa dibubuhkan jika suka. Sebagian peracik menambahkan air asam jawa atau perasan jeruk limau untuk menghadirkan sentuhan segar. Proses mengulek dilakukan perlahan hingga teksturnya lembut.

Setelah bumbu siap, leunca secukupnya dimasukkan ke dalam cobek. Leunca biasanya sedikit diulek sampai pecah, ini agar bumbu lebih meresap. Setelah semua tercampur dengan bumbu, itu berarti karedok leunca pun siap disajikan untuk menemani nasi hangat.

2. Karedok Kacang Panjang

Berbeda dengan varian leunca, karedok kacang panjang lebih menonjolkan tekstur renyah dari potongan kacang panjang segar. Hidangan ini kerap menjadi pilihan dengan alasan bahan-bahannya mudah didapat di pasar tradisional.

Langkah awal dimulai dengan memilih kacang panjang yang masih muda, ditandai dengan warna hijau cerah dan mudah dipatahkan. Tidak alot. Kacang panjang dipotong kecil-kecil sepanjang dua hingga tiga sentimeter. Tergantung selera. Bisa juga dibubuhi tambahan kol iris, mentimun, dan tauge.

Bumbunya, sama saja dengan pembuatan bumbu untuk karedok leunca. Namun, bahan sayurannya saja yang diganti dengan potongan-potongan kacang panjang dan potongan sayuran lainnya.

Setelah bumbu siap, sayuran mentah dimasukkan ke dalam cobek berisi bumbu, lalu diaduk perlahan hingga seluruh potongan kacang panjang terbalut sambal. Proses pengadukan tidak terlalu lama agar tekstur renyah tetap terjaga. Sajian ini umumnya langsung dinikmati agar kesegarannya tidak berkurang. Tidak basi.

3. Karedok Terong

Kocap Tercerita, Pangeran Aria Soeria Atmadja, pangeran Sumedang Larang singgah di suatu kampung. Dia yang merasa lapar karena suatu agenda di wilayah itu, disuguhi karedok terong oleh masyarakat setempat.

Karedok terong itu, yang menggunakan terong hijau bulat, bukan terong ungu, membuat sang pengangung puas. Kuliner itu bahkan sampai diceritakan oleh sang pengangung kepada koleganya. Kampung Dobol tempat masyarakat memberi suguhan karedok itu bahkan namanya diganti menjadi Desa Karedok.

Nah, ini pilihan bahan yang ketiga. Karedok Terong. Karedok terong menghadirkan karakter rasa yang berbeda. Lebih tebal daging sayuran yang bisa digigitnya.

Tahap persiapan dimulai dengan memilih terong yang masih muda. Supaya rasanya lebih manis dan teksturnya masih 'nyakrek'. Terong dicuci bersih, kemudian dipotong kecil/cukup, supaya ketika diulek tidak perlu menghabiskan banyak tenaga. Bumbunya, sama saja dengan karedok sebelumnya.

Asal Usul Karedok

Selain kisah Pangeran Aria Soeria Atmadja tadi, karedok dilacak sampai ke akar budaya orang Sunda yang senang mengonsumsi sayuran mentah atau lalapan. Dari laman Indonesia Kaya, ahli sejarah kuliner Fadly Rahman mengaitkan tradisi lalapan pada apa yang tertera dalam Prasasti Panggumulan (902) dari Sleman, Jawa Tengah (dari abad ke-10 M) yang disejajarkan dengan data dari naskah Sunda kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518 M).

"Prasasti itu menyebut makanan dari sayuran bernama rumwah-rumwah (lalap mentah), kuluban (lalap yang direbus), dudutan (lalap mentah yang diambil dengan cara dicabut dari akarnya), dan tetis (sejenis sambal atau petis)."

"Kemudian sebuah naskah Sunda tinggalan abad ke-16, Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518) menyebut "kalingana asak deung atah" (sebenarnya hanya mentah dan masak)." tulis laman tersebut.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads