Cuanki tersohor sebagai salah satu kuliner khas Bandung yang merakyat dan mudah dijumpai di setiap sudut kota. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan yang kerap mengundang perdebatan: Apakah cuanki benar-benar kependekan dari 'Cari Uang Jalan Kaki'? Penelusuran asal-usul menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Bakso Tahu Kuah 'Choan Kie'
Secara historis, cuanki bukanlah singkatan dari frasa bahasa Indonesia, melainkan berakar dari merek dagang makanan Tionghoa. Dalam Jurnal Publikasi Sistem Informasi dan Manajemen Bisnis Volume 4 Nomor 2 Mei 2025 berjudul Strategi dan Analisis Pemasaran Usaha Home Industry Cuanki Asep Pride Sebagai Upaya Meningkatkan Volume Penjualan, dijelaskan bahwa cuanki berasal dari produk Bakso Tahu Kuah Choan Kie.
Choan Kie merupakan istilah dalam bahasa Hokkien yang berarti rezeki atau keberuntungan. Makanan ini awalnya diproduksi oleh pabrik Tim Sam (dimsum) di wilayah Bandung-Cimahi dengan target konsumen utama warga Tionghoa.
Cuanki sendiri berbentuk siomay atau bakso tahu kering yang disajikan dengan siraman kuah kaldu gurih. Seiring waktu, sajian ini bermutasi menjadi jajanan khas Bandung yang menggunakan bahan dasar ikan, daging sapi, tepung tapioka, serta bumbu penyedap lainnya. Dalam satu porsi cuanki, biasanya terdapat bakso, siomay kukus, siomay goreng, tahu goreng, dan tahu rebus, yang ditaburi bawang goreng serta daun seledri.
Modifikasi Resep agar Dapat Dikonsumsi Masyarakat Luas
Menurut berbagai sumber, pada dekade 1980-an, sejumlah mantan pegawai pabrik Choan Kie mulai memproduksi dan menjual cuanki secara mandiri. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Bandung, Garut, dan Ciamis. Untuk menyesuaikan dengan selera serta kebutuhan masyarakat umum, resep asli yang sebelumnya menggunakan minyak dan daging babi kemudian dimodifikasi.
Bahan-bahan tersebut diganti dengan ikan, terutama ikan tenggiri, sehingga cuanki dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas (non-Tionghoa). Respons pasar saat itu sangat positif, menjadikan cuanki sebagai alternatif baru yang bersaing di antara bakso dan mi ayam.
(iqk/iqk)