Harmoni Dua Dunia di Kawan Kopi Ciumbuleuit

Harmoni Dua Dunia di Kawan Kopi Ciumbuleuit

Gheyna Sabila Z - detikJabar
Minggu, 01 Feb 2026 15:30 WIB
Harmoni Dua Dunia di Kawan Kopi Ciumbuleuit
Ngopi di Kawan Kopi Ciumbuleuit Bandung. (Foto: Gheyna Sabila Z/detikJabar)
Bandung -

Maraknya coffee shop di Kota Bandung membawa budaya baru, terutama di kalangan Generasi Z. Ngopi bukan lagi sekadar soal rasa, melainkan juga tentang ruang. Coffee shop kini menjadi wadah berbagai aktivitas, mulai dari nongkrong santai, mengerjakan tugas, hingga work from cafe (WFC).

Di beberapa tempat, kedua kegiatan tersebut kerap berjarak; yang satu butuh keriuhan, yang lain butuh ketenangan. Namun, Kawan Kopi Ciumbuleuit membuat dua hal berbeda itu berjalan berdampingan tanpa perlu saling menyingkir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Udara sejuk dengan hamparan rumput dan pepohonan membuat sore di sana tak perlu tergesa. Beberapa orang terlihat sibuk menatap layar laptop dengan jari-jari yang bergerak cepat dan earphone terpasang, sementara di sudut lain sekelompok orang tertawa sambil berbagi cerita. Tak ada garis tegas yang memisahkan mereka.

Pemandangan seperti itu nyaris menjadi rutinitas harian. Menariknya, ruang ini tidak dirancang sebagai kantor kedua sejak awal. Perubahan datang perlahan, mengikuti cara anak muda memaknai coffee shop saat ini. Wage, Store Manager Kawan Kopi Ciumbuleuit, menyebut tempat ini mulanya memang ditujukan untuk tempat nongkrong.

ADVERTISEMENT

"Awalnya untuk nongki. Mungkin karena sekarang banyak orang mulai kerja di kafe, jadi bisa langsung menjadi tempat WFC juga," ujarnya belum lama ini.

Wage menyambut fenomena tersebut dengan baik. Ia senang karena ruang yang dikelolanya berfungsi maksimal dalam membantu pengunjung. Ia menilai, sejauh ini tidak ada benturan suasana antara pengunjung yang ingin fokus dan yang ingin bersantai. Keduanya bisa berjalan beriringan dalam satu tempat.

"Selama ini sih aman-aman saja. Jadi tidak ada yang merasa terganggu," katanya.

Di tengah udara sejuk dan meja-meja yang tak pernah benar-benar kosong, Kawan Kopi seperti menemukan ritmenya sendiri. Ini bukan hanya soal minuman, melainkan bagaimana orang-orang merayakan ruang tersebut.

Pengalaman itulah yang dirasakan Tasya (20). Datang bersama teman untuk sekadar nongkrong, ia justru menemukan hal lebih. Di sela obrolan, pandangannya kerap tertuju pada pengunjung lain yang serius menatap laptop. Ia menyadari ruang ini bukan hanya milik mereka yang ingin berbincang, tapi juga mereka yang datang membawa daftar tugas.

Bagi Tasya, suasana Kawan Kopi terasa cukup lentur untuk dua kebutuhan berbeda. "Belum sampai merasakan WFC di sini sih, tapi harga dan ambience-nya memang cocok banget dan mendukung untuk itu," katanya.

Pelayanan yang ramah dan suasana tenang membuatnya ingin kembali. Tasya menilai pelayanan di sana cukup sigap, terutama saat dimintai rekomendasi. "Mereka sangat membantu. Kalau tanya rekomendasi, jawabannya sesuai keinginan. Terus mereka juga cepat tanggap membersihkan meja, keren banget di sini," ujarnya.

Pengalaman serupa dirasakan Nurfitria, mahasiswi yang sering menjadikan Kawan Kopi sebagai tempat menyelesaikan tugas akhir. Ia terbiasa duduk berjam-jam tanpa merasa terganggu meski pengunjung silih berganti. Menurutnya, keramaian di sini justru menjadi latar suara yang menemani, bukan mengganggu.

Bagi Nurfitria, mengerjakan tugas di coffee shop adalah cara menemukan jeda dari rutinitas. Rumah, dengan segala keterbatasan ruang, kerap terasa menjemukan. Keluar mencari udara segar dan pemandangan hijau menjadi cara sederhana untuk mengembalikan fokus.

"Alasan aku WFC di sini, selain karena banyak orang, kita juga bisa merasakan suasana baru dan udaranya pasti beda," katanya.

Kebiasaan ini bukan lagi cerita satu atau dua orang. Di kalangan Gen Z, coffee shop perlahan beralih fungsi menjadi ruang alternatif untuk belajar dan bekerja. Bukan semata karena kopi, melainkan suasana yang menawarkan jarak dari kebisingan ritme kota.

Di titik itu, Kawan Kopi Ciumbuleuit menawarkan jeda yang pas. Ada ruang untuk berbagi cerita, ada pula sudut untuk mengejar tenggat. Dua suasana yang biasanya saling menjauh, di sini justru bertemu tanpa perlu saling mengalah.

(iqk/iqk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads