Sejarah Tahu Sumedang, Berawal dari Tradisi Imigran Tiongkok

Sejarah Tahu Sumedang, Berawal dari Tradisi Imigran Tiongkok

Nur Azis - detikJabar
Minggu, 20 Mar 2022 10:32 WIB
Tahu Sumedang
Gerai tahu Bungkeng yang berada di Jalan 11 April, Kotakaler, Sumedang. (Foto: Nur Azis)
Sumedang -

Tahu menjadi salah satu panganan yang sangat familier di Indonesia. Selain rasanya nikmat, tahu juga menjadi salah satu sumber protein nabati yang harganya terbilang cukup murah.

Tahu umumnya berwarna putih atau kekuningan dengan tekstur sangat lembut saat digigit dan berbentuk kotak. Hal itu mengacu pada arti kata tahu itu sendiri.

Tahu, dikutip dari berbagai sumber merupakan kata serapan dari bahasa Tionghoa, yakni tao hu atau teu hu (tao artinya kacang kedelai, sementara hu artinya lumat atau menjadi bubur).


Jadi, tahu adalah kacang kedelai yang dibuat bubur. Maka tidak heran tahu yang bentuknya kotak itu begitu empuk saat digigit. Dari sana kita dapat mengetahui bahwa tradisi makanan satu ini asalnya dari mana.

Tahu SumedangTahu Sumedang Foto: Nur Azis

Sebab, jika jauh ditarik kebelakang, bangsa Tionghoa memang telah melakukan hubungan perdagangan ke Nusantara jauh sebelum datangnya Vereenigde Oost Indische Compagnie (VoC) pada 1600-an.

Untuk sejarah tahu Sumedang sendiri tidak terlepas dari keberadaan imigran Tiongkok di Jawa Barat. Kisah tahu Sumedang dimulai dari imigran Tiongkok bernama Ong Kino bersama istrinya yang tinggal di Sumedang pada awal abad 20-an atau pada sekitar 1900-an.

"Ong Kino bikin tahu awalnya tidak untuk jualan tapi awalnya untuk membahagiakan istrinya yang rindu akan makanan tradisional khas Tiongkok sana, lantaran saking sayangnya ia pun akhirnya membuatkannya," ungkap Edric Wang generasi kelima dari Ong Kino atau anak dari Suryadi Ukim pemilik gerai tahu Bungkeng saat diwawancara detikjabar belum lama ini.

Sekilas untuk diketahui, tahu Bungkeng merupakan pioner dari berdirinya para perajin tahu di Sumedang yang masih eksis hingga kini. Secara silsilah dapat dirunut bahwa usaha tahu Bungkeng dimulai dari Ong Kino (1900), Kemudian Ong Bungkeng (1917), Ong Yukim (1970) dan Suryadi Ukim bersama anaknya, Edric Wang hingga sekarang.

Edric memaparkan, Ong Kino yang telah membuat tahu tersebut kemudian membaginya kepada orang-orang di lingkungan sekitar untuk mencicipinya.

"Dan orang-orang yang dikasih itu bilang bahwa tahu buatan Ong Kino enak, mereka pun menyarankan Ong Kino untuk membuka usaha tahu di Sumedang," paparnya.

Gerai tahu Bungkeng yang berada di Jalan 11 April, No 53, Kotakaler, Kecamatan Sumedang Utara menjadi tempat jualan tahu Sumedang pertama.

"Pertama jualan memang disini, di depan situ, di tempat yang sekarang ini," ucapnya.

Suryadi Ukim di tempat yang sama menambahkan, Ong Kino sendiri datang ke Sumedang tidak lain tujuannya untuk berdagang pada sekitar tahun 1900-an.

"Jadi datang ke Sumedang ini ya tujuannya memang berdagang, waktu itu selain tahu juga dagang yang lain," ujarnya.

Pasalnya, sambung Suryadi, makanan tahu belum begitu populer seperti sekarang atau boleh dibilang belum laku.

"Iya tahu kan makanan ciri khas orang Cina, jadi belum begitu laku dan dijualnya pun masih kepada rekan-rekan terdekat ke sesama Cina perantauan," terangnya.

Baru pada sekitar tahun 1917, anaknya Ong Kino, yakni Ong Bungkeng menyusul ke Sumedang untuk melanjutkan usaha ayahnya itu.

Di tangan Ong Bungkeng inilah makanan olahan kedelai itu sangat laku terjual hingga populer seperti sekarang.

Olahan tahu dikreasikan sedemikian rupa menjadi serupa cemilan dengan warna kecoklatan, bertekstur renyah diluarnya saat digigit namun empuk dan berisi di dalamnya. Nama Ong Bungkeng sendiri kini dijadikan sebagai nama tokonya yakni tahu Bungkeng.

"Ong Kino sendiri memilih kembali lagi ke Tiongkok pada sekitar tahun 1940-an, sementara Ong Bungkeng sejak tahun 1917 tidak pulang lagi dan melanjutkan usahanya dan meninggal di Sumedang," ungkapnya.

Suryadi menyebutkan, Ong Bungkeng sendiri melanjutkan usaha ayahnya dari tahun 1917 sampai 1980-an. Darisana dilanjutkan oleh Ong Yukim, ayah dari Suryadi Ukim pada sekitar tahun 1950 - 1960.

"Setelah ayah saya, baru dilanjutkan oleh saya dan sekarang mulai diturunkan ke anak saya, Edric," ujarnya.

Seiring terkenalnya tahu Sumedang, kata Suryadi, seiring itu pula mulai bermunculan perajin-perajin tahu lainnya, seperti Babah Hek, Babah Kincay, Aniw (sekarang berganti jadi toko Elektronik di Jalan Mayor Abdurahman) dan Ceq xi Gong.

"Kalau yang bekas dari karyawan Ong Bungkeng yang sukses itu tahu Saribumi dan tahu Ojo," sebutnya.

Yayang (60) pemilik rumah makan sekaligus gerai tahu Sumedang Palasari, mengatakan usaha jualan tahu yang digelutinya merupakan usaha turun temurun yang dimulai dari buyutnya, yakni Babah Hek.

"Babah Hek ini satu angkatan dengan Ong Bungkeng namun Ong Bungkeng yang pertama merantau ke Sumedang dan Ong Bungkeng yang pertama membuka toko tahu cukup permanen di Sumedang kala itu" ungkapnya.

Yayang mengatakan, sebagai pendatang dari Tiongkok, Babah Hek membuat tahu itu awalnya hanya untuk dikonsumsi di kalangan sendiri. Pasalnya, saat itu di Sumedang belum ada makanan khas Tiongkok tersebut.

"Asalnya tahu itu untuk dikonsumsi kalangan sendiri untuk keluarga mereka semua," terangnya.

"Jadi meski cerita ini tidak di dengar secara langsung, namun dulu awalnya bikin tahu itu rame-rame dan dikonsumsi rame-rame," Yayang menambabkan.

Dari tradisi itu, lanjut Yayang, sebagian ada yang melanjutkan ke usaha tahu, Sebagiannya lagi memilih usaha yang lain.

Yayang sendiri merupakan generasi ketiga dari Babah Hek yang menjadi salah satu perajin tahu Sumedang. Ia melanjutkan usaha tahu dari ayahnya yang bernama Encun.

"Untuk nama Tahu Palasari dan rumah makan sendiri berdiri pada 1973 oleh orang tua saya tapi jauh sebelumnya usaha tahu diimulai dari kakek saya, Babah Hek," ujarnya.

Tahu SumedangTahu Sumedang Foto: Nur Azis

Berawal dari para perajin imigran asal Tiongkok, kini perajin tahu Sumedang sudah banyak tersebar bahkan banyak dari penduduk lokal pun yang pandai membuat panganan berbahan dasar kedelai tersebut.

Bukan hanya di Sumedang tapi kini para perajin ada juga yang tersebar di luar Sumedang. Seolah tidak lekang dimakan zaman, tahu Sumedang hingga kini masih tetap eksis dan masih banyak peminatnya.



Simak Video "Menikmati Berbagai Kuliner Khas Kota Sumedang"
[Gambas:Video 20detik]
(yum/tya)