Kota Bandung yang dijuluki Parijs van Java, bukan hanya terkenal karena keindahan alam dan udara sejuknya, tetapi juga sebagai pusat pendidikan tinggi yang memiliki sejarah panjang. Sejak masa kolonial Belanda hingga era kemerdekaan, Bandung telah menjadi rumah bagi berbagai perguruan tinggi yang melahirkan tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia.
Dari kampus teknik pertama di Nusantara hingga universitas-universitas yang lahir dari inisiatif masyarakat, jejak pendidikan tinggi di Bandung membentang lebih dari satu abad.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tulisan ini mengajak detikers menelusuri tujuh kampus tertua di Bandung yang hingga kini masih terus eksis dan berkontribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
1. Institut Teknologi Bandung
Institut Teknologi Bandung (ITB) menempati posisi pertama sebagai kampus tertua di Bandung dan juga di Indonesia. Sejarah pendidikan tinggi teknik di Tanah Air berawal dari pendirian de Technische Hoogeschool te Bandung (TH) pada 3 Juli 1920 oleh pemerintah kolonial Belanda di atas lahan seluas 30 hektar.
Perjalanan panjang kampus ini mengalami beberapa transformasi nama dan status. Setelah kemerdekaan, lembaga ini sempat menjadi bagian dari Universitas Indonesia dengan nama Universitas Indonesia Bandung.
Baru kemudian pada 2 Maret 1959, Presiden Ir. Soekarno meresmikan nama Institut Teknologi Bandung sebagai institusi mandiri yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan Indonesia.
Pada 3 Juli 2020, ITB genap berusia 100 tahun sebagai Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI), menandai satu abad kontribusinya dalam melahirkan insinyur dan ilmuwan bagi bangsa.
2. Universitas Padjadjaran
Universitas Padjadjaran (Unpad) menempati posisi kedua dalam daftar kampus tertua di Bandung. Unpad resmi berdiri pada 11 September 1957 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1957 tertanggal 18 September 1957.
Kehadiran Unpad merupakan hasil dari keinginan kuat para pemuka masyarakat Sunda yang menginginkan adanya perguruan tinggi tempat pemuda-pemudi Sunda memperoleh pendidikan tingkat lanjut untuk mempersiapkan pemimpin masa depan.
Proses kelahiran Unpad dimulai pada 14 Oktober 1956 dengan terbentuknya Panitia Pembentukan Universitas Negeri (PPUN) di Bandung. Kemudian pada 2 Februari 1957, pemerintah menerbitkan SK Menteri PPK No. 11181/S yang memutuskan pembentukan Panitia Negara Pembentukan Universitas Negeri (PNPUN) di Kota Bandung.
Badan Pekerja yang dibentuk pada 25 Agustus 1957 dan diketuai oleh R. Ipik Gandamana, Gubernur Jawa Barat, berhasil mempercepat proses tersebut sehingga Unpad lahir pada 11 September 1957.
Presiden Soekarno kemudian meresmikan Universitas Padjadjaran pada 24 September 1957, menandai dimulainya perjalanan panjang kampus yang kini berstatus sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) dengan akreditasi A dari BAN-PT.
3. Universitas Katolik Parahyangan
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) merupakan kampus tertua ketiga di Bandung. Sejarah Unpar dimulai pada 17 Januari 1955 dengan pendirian Akademi Niaga sebagai hasil kerja sama antara Uskup Bandung, Pierre Marin Arntz, O.S.C., dan Uskup Bogor, Prof. Dr. Paternus Nicholas Joannes Cornelius Geise, O.F.M.
Pendirian lembaga ini merupakan respons terhadap kurangnya tenaga ahli berpendidikan tinggi untuk membangun Indonesia setelah Perang Kemerdekaan.
Perkembangan Unpar terus berlanjut dengan pembukaan fakultas-fakultas baru. Pada 17 Januari 1961, Presiden Ir. Soekarno mengunjungi kampus Unpar dalam perayaan Dies Natalis ke-6, dan pada tahun yang sama didirikan juga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Tahun 1960 menjadi tonggak penting dengan berdirinya Fakultas Teknik yang menjadi fakultas ketiga setelah sebelumnya telah ada fakultas ekonomi dan hukum. Pada 19 April 1962, melalui Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan No. 50 Tahun 1962, Parahyangan Catholic College ditetapkan sebagai universitas dengan status yang setara dengan perguruan tinggi negeri.
Perubahan nama dari Parahyangan Catholic College menjadi Catholic University of Parahyangan juga terjadi pada tahun 1961 seiring dengan diterbitkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1961 tentang Pendidikan Tinggi.
4. Universitas Islam Bandung
Universitas Islam Bandung (UNISBA) menempati posisi keempat sebagai kampus tertua di Bandung yang masih eksis. Sejarah UNISBA bermula dari gagasan sejumlah tokoh umat Islam Jawa Barat bersama beberapa ulama yang menjadi anggota Konstituate pada tahun 1957 untuk melakukan kaderisasi pemimpin umat yang faqih fiddin di masa mendatang.
Gagasan tersebut diwujudkan pada 15 November 1958 melalui pendirian Perguruan Islam Tinggi (PIT) di bawah Yayasan Pendidikan Islam dengan Akta Notaris Lie Kwie Nio Nomor 42.
Satu tahun kemudian, pada 1960, kegiatan akademik PIT dipindahkan ke Jalan Abdul Muis nomor 73, Bandung. Fakultas yang pertama kali didirikan adalah Fakultas Syariah pada 1958, kemudian disusul Fakultas Ushuludin atau kini Fakultas Dakwah, dan Fakultas Tarbiyah atau kini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan pada 1961.
Pada 1967, Perguruan Islam Tinggi (PIT) berubah nama menjadi Universitas Islam Bandung (UNISBA) yang saat itu dipimpin oleh Prof. T. M. Soelaeman, M.Sc., EE. Dalam perkembangannya, UNISBA terus membuka fakultas-fakultas baru, antara lain Fakultas Hukum (1971), Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam atau MIPA (1972), Fakultas Psikologi (1973), Fakultas Teknik (1973), Fakultas Ekonomi (1979) yang kini menjadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Ilmu Komunikasi (1982).
5. Universitas Kristen Maranatha
Universitas Kristen Maranatha menempati posisi kelima dalam daftar kampus tertua di Bandung. Sejarah panjang Maranatha dimulai pada 1965 dengan didirikannya Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha.
Pendirian yayasan ini dirintis oleh Badan Pendidikan Kristen Komisi Pembantu Setempat dari Gereja Kristen Indonesia dan Badan Perguruan Tinggi dan Pendidikan Kristen dari Gereja Kristen Pasundan, atas anjuran Perkumpulan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) cabang Bandung.
Pada 9 April 1964, PIKI cabang Bandung mengadakan pertemuan yang bersepakat dengan para tokoh dan cendekiawan untuk mendirikan Universitas Kristen Maranatha di Bandung, guna menampung mahasiswa Fakultas Kedokteran UKI Immanuel yang melepaskan diri dari UKI Immanuel.
Akta pendirian Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha dibuat pada 14 Juni 1965 oleh notaris Lie Kwee Nio di Bandung. Kemudian pada hari Sabtu, 11 September 1965 pukul 17.00, bertempat di GKI-Jabar Jalan Kebon Jati 40 atau kini nomor 100 Bandung, diresmikan berdirinya Universitas Kristen Maranatha dengan Fakultas Kedokteran sebagai fakultas pertamanya.
Gedung kampus pertama di Jalan Cihampelas dibangun pada 1970, diikuti gedung kedua di Jalan Surya Sumantri pada 1983.
6. Politeknik Negeri Bandung
Politeknik Negeri Bandung (Polban) menempati posisi keenam sebagai kampus tertua di Bandung yang masih aktif hingga sekarang. Sejarah Polban bermula dari pelaksanaan Program Pendidikan Diploma tiga tahun dalam bidang teknik dan akuntansi yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi No. 03/DJ/Kep/1979 tertanggal 27 Januari 1979.
Lembaga pendidikan pertama di Indonesia yang resmi menyandang dan menggunakan nama "Politeknik" adalah Politeknik Mekanik Swiss (PMS-ITB) yang diresmikan pada Januari 1976 atau sekarang menjadi Politeknik Manufaktur Bandung atau Polman. Sementara itu, institusi bentukan DPU yang kemudian bernama LPPU-ITB baru membuka program diploma bidang teknik dan akuntansi yang menjadi cikal bakal Polban pada tahun 1979.
Pada awal berdirinya, Politeknik ITB melaksanakan empat program studi dalam tiga jurusan, yaitu Program Studi Teknik Sipil (Jurusan Teknik Sipil), Program Studi Teknik Mesin (Jurusan Teknik Mesin), serta Program Studi Teknik Elektronika dan Teknik Listrik (Jurusan Teknik Elektro).
Dalam perkembangannya, pada 1997 Politeknik ITB menjadi institusi mandiri yang berpisah dari ITB secara passing out dengan nama baru Politeknik Negeri Bandung (Polban) melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 085/O/1997.
7. Universitas Widyatama
Universitas Widyatama menempati posisi ketujuh sebagai kampus tertua di Bandung yang masih eksis hingga kini. Sejarah Widyatama dimulai dengan pendirian Institut Akuntansi Bandung (IAB) pada Maret 1973 yang membina program studi Akuntansi Strata 1.
Yayasan Widyatama semula bernama Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Akuntansi Bandung (YPPAB) yang didirikan di Bandung pada 3 Januari 1973 atas prakarsa Ibu Dra. Koesbandijah Abdoel Kadir, Ak atau kini Prof. Dr. Hj. Koesbandijah Abdoel Kadir, MS, Ak., Ketua Badan Pengurus Yayasan Widyatama.
Dalam perkembangannya, IAB bergabung dengan institusi lain menjadi Sekolah Tinggi Akuntansi dan Manajemen Perusahaan Bandung (STAMPB), yang kemudian pada 3 September 1979 berubah menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bandung (STIEB).
Pada tahun 1995, Yayasan Widyatama mulai menyelenggarakan pendidikan di bidang Teknik melalui pendirian Sekolah Tinggi Teknologi Bandung-Widyatama yang mendapat status terdaftar dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 50/D/0/1996 tertanggal 8 Agustus 1996.
Pada akhirnya, pada 2 Agustus 2001, empat sekolah tinggi di lingkungan Yayasan Widyatama bergabung membentuk Universitas Widyatama berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 137/D/0/2001.
Keempat sekolah tinggi tersebut adalah STIEB, Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Bandung (STIBB), Sekolah Tinggi Teknologi Bandung Widyatama (STTW), dan Sekolah Tinggi Desain Komunikasi Visual (STDKV).
(orb/orb)
