8 Landmark Bersejarah Bandung yang Wajib Diketahui

8 Landmark Bersejarah Bandung yang Wajib Diketahui

Yogi Bagus Prasetyo - detikJabar
Senin, 05 Okt 2026 09:00 WIB
Villa Isola Sekarang
Villa Isola Bandung. (Foto: Muhammad Fariz At Thariqi)
Bandung -

Kota Bandung tidak hanya dikenal sebagai tujuan wisata dengan udara sejuk, kuliner beragam, dan kawasan kreatif yang dinamis. Di balik perkembangan kotanya, Bandung menyimpan banyak landmark yang menjadi saksi perubahan zaman, mulai dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perjalanan Indonesia sebagai negara yang berperan dalam percaturan dunia.

Bangunan dan monumen tersebut bukan sekadar objek untuk berfoto, melainkan ruang yang menyimpan cerita tentang pemerintahan, pendidikan, pergerakan nasional, kebudayaan, dan perjuangan rakyat.

Mengetahui sejarah landmark di Kota Bandung dapat membuat perjalanan detikers terasa lebih bermakna. Ini berkaitan karena setiap sudut bangunan memiliki latar belakang yang memperlihatkan bagaimana Bandung tumbuh dari wilayah perkebunan menjadi kota penting di Jawa Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut deretan landmark di Kota Bandung yang perlu detikers ketahui sejarahnya.

Pasanggrahan Pancarasa, wajah baru Gedung SatePasanggrahan Pancarasa, wajah baru Gedung Sate Foto: Bima Bagaskara/detikJabar

1. Gedung Sate

Gedung Sate merupakan salah satu landmark paling terkenal di Kota Bandung, bahkan tak jarang warganya sendiri menganggap sebagai landmark Jawa Barat. Bangunan yang berada di Jalan Diponegoro Nomor 22 ini mulai dibangun pada 1920 dan selesai pada 1924.

ADVERTISEMENT

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Kota Bandung, pembangunan Gedung Sate merupakan bagian dari rencana Pemerintah Hindia Belanda untuk mengembangkan Bandung sebagai pusat pemerintahan dan memindahkan sejumlah aktivitas penting dari Batavia.

Pada masa kolonial, Gedung Sate dikenal dengan nama Gouvernements Bedrijven atau disingkat GB. Bangunan tersebut dirancang sebagai pusat perkantoran berbagai instansi pemerintah.

Tim perancangnya dipimpin oleh arsitek J Gerber bersama Eh De Roo, G Hendriks, serta Gemeente van Bandoeng yang saat itu dipimpin VL Sloors. Seiring waktu, fungsi gedung ini berubah dan sejak 1980 digunakan sebagai Kantor Gubernur Jawa Barat.

Keunikan Gedung Sate terletak pada perpaduan gaya arsitekturnya. Bangunan ini memadukan unsur Renaisans Italia, desain jendela yang dipengaruhi gaya Moor Spanyol, serta elemen arsitektur Asia yang terlihat pada bentuk atapnya.

Pada bagian puncak terdapat enam ornamen berbentuk tusuk sate. Menurut laman resmi Pemerintah Kota Bandung, enam ornamen tersebut melambangkan biaya pembangunan gedung yang mencapai enam juta gulden atau setara dengan Rp 55,635 miliar. Bentuk inilah yang kemudian membuat warga Bandung menyebutnya sebagai Gedung Sate.

Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika, Bandung (Alfons/detikcom)Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika, Bandung (Alfons/detikcom) Foto: Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika, Bandung (Alfons/detikcom)

2. Gedung Merdeka

Gedung Merdeka yang berada di Jalan Asia Afrika merupakan landmark yang memiliki hubungan erat dengan sejarah diplomasi Indonesia. Pada mulanya, bangunan ini didirikan pada 1895 sebagai tempat berkumpul masyarakat Eropa kelas atas dengan nama Societeit Concordia. Tempat tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, pesta, dan pertemuan.

Memasuki masa pendudukan Jepang, gedung ini berganti nama menjadi Dai Toa Kaman dan difungsikan sebagai pusat kebudayaan. Setelah Indonesia merdeka, bangunan tersebut memperoleh peran yang jauh lebih penting.

Gedung Merdeka menjadi tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada 1955, sebuah pertemuan bersejarah yang mempertemukan negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas kolonialisme, perdamaian, serta kerja sama antarnegara.

Gedung Merdeka juga dirancang oleh Van Galen Last dan CP Wolff Schoemaker, yang dikenal sebagai pengajar di Technische Hogeschool, cikal bakal Institut Teknologi Bandung.

Kini, sebagian gedung digunakan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat dokumentasi, foto, dan berbagai benda yang berkaitan dengan konferensi tersebut.

Museum Geologi.Museum Geologi. Foto: Fahmy Fauzy Muhammad/detikJabar

3. Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung menjadi salah satu landmark edukasi yang penting di Kota Bandung. Bangunan ini berada di Jalan Diponegoro Nomor 57, tidak jauh dari kawasan Gedung Sate. Museum tersebut menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan perkembangan bumi, kehidupan purba, geologi Indonesia, serta kekayaan sumber daya alam.

Museum ini penting karena memperlihatkan bahwa sejarah Bandung tidak hanya berkaitan dengan manusia dan bangunan, tetapi juga dengan proses alam yang membentuk wilayah Jawa Barat. Pegunungan, gunung api, dan kondisi tanah di sekitar Bandung merupakan bagian dari perjalanan geologis panjang yang menjadikan kota ini memiliki karakter geografis yang khas.

Monumen di Taman Tegallega dibangun sebagai pengingat akan peristiwa Bandung Lautan Api. Hari Bandung Lautan Api diperingati setiap 24 Maret.Monumen di Taman Tegallega dibangun sebagai pengingat akan peristiwa Bandung Lautan Api. Hari Bandung Lautan Api diperingati setiap 24 Maret. Foto: Wisma Putra/Detikcom

4. Monumen Bandung Lautan Api

Monumen Bandung Lautan Api berdiri di kawasan Lapangan Tegallega, Jalan BKR, Kecamatan Regol. Monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa Bandung Lautan Api, yaitu keputusan rakyat dan pejuang Bandung untuk membumihanguskan sebagian kota pada masa revolusi kemerdekaan.

Peristiwa tersebut berlangsung pada Maret 1946 ketika rakyat meninggalkan Bandung setelah membakar rumah dan sejumlah bangunan agar kota tidak dapat dimanfaatkan oleh pasukan Sekutu dan NICA sebagai markas strategis.

Tindakan tersebut merupakan bentuk pengorbanan besar rakyat Bandung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Monumen Bandung Lautan Api memiliki tinggi sekitar 45 meter dan terdiri atas sembilan bidang. Bentuknya menyerupai tiga batang bambu yang menjadi penyulut kobaran api. Rancangan monumen tersebut dibuat oleh seniman Sunaryo Soetono setelah memenangkan sayembara pada 1984.

Kehadirannya tidak hanya memperingati peristiwa sejarah, tetapi juga menjadi simbol keberanian, pengorbanan, dan semangat perjuangan yang terus menyala.

Selain monumen utama, Kota Bandung juga memiliki sejumlah stilasi yang tersebar di berbagai titik. Stilasi tersebut menandai lokasi yang berkaitan dengan rangkaian peristiwa Bandung Lautan Api, termasuk tempat pembacaan proklamasi oleh rakyat dan lokasi perjuangan para pemuda.

Gedung Indonesia MenggugatGedung Indonesia Menggugat Foto: Bima Bagaskara/detikJabar

5. Gedung Indonesia Menggugat

Gedung Indonesia Menggugat berada di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan. Bangunan ini memiliki posisi penting dalam sejarah pergerakan nasional karena pernah digunakan sebagai tempat berlangsungnya persidangan Soekarno bersama sejumlah tokoh pergerakan lainnya.

Lokasi tersebut pada awalnya merupakan rumah tinggal yang dibangun pada 1906. Bangunan kemudian dikembangkan pada 1917 dan difungsikan sebagai Landraad atau pengadilan. Pada 1930, Soekarno bersama Gatot Mangkoepradja, Maskoen Soemadipoetera, dan Soepriadinata diadili oleh pemerintah kolonial Belanda.

Persidangan berlangsung selama lima bulan, sejak 18 Agustus hingga 22 Desember 1930. Dalam proses tersebut, Soekarno menyampaikan pembelaan yang kemudian dikenal dengan judul "Indonesia Menggugat".

Pidato itu menjadi salah satu dokumen penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan karena berisi kritik terhadap kolonialisme dan ketidakadilan yang dialami rakyat Indonesia.

Kini, Gedung Indonesia Menggugat berfungsi sebagai ruang sejarah, diskusi, dan kegiatan kebudayaan. Bangunan ini mengingatkan masyarakat bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui pertempuran, tetapi juga melalui gagasan, tulisan, dan keberanian menyampaikan pendapat.

Museum Pos IndonesiaMuseum Pos Indonesia Foto: Shifa Lupiah Ajijah/detikJabar

6. Museum Kantor Pos

Museum Kantor Pos atau bangunan Kantor Pos Besar Bandung merupakan landmark bersejarah yang berada di kawasan Jalan Asia Afrika. Bangunan ini dibangun pada 1928 hingga 1931 dan pada awalnya digunakan sebagai Posten Telegraf Kantoor, yaitu kantor pos dan telegraf.

Bangunan yang dirancang oleh J Van Gendt ini mengusung gaya arsitektur modern fungsional dengan ciri Art Deco geometris. Desainnya kemudian dipadukan dengan elemen atap yang menyesuaikan iklim tropis.

Kehadiran bangunan ini menunjukkan bahwa Bandung sejak masa kolonial telah menjadi kota yang memiliki sistem komunikasi dan administrasi modern.

Kantor Pos Besar juga memperlihatkan bagaimana teknologi komunikasi berkembang pada masa lalu. Sebelum telepon seluler dan internet hadir, surat, telegram, serta layanan pos menjadi sarana utama untuk menghubungkan masyarakat antarkota dan antarwilayah.

Karena itu, bangunan ini bukan hanya penting dari segi arsitektur, tetapi juga berkaitan dengan sejarah komunikasi Indonesia.

Villa Isola SekarangVilla Isola Sekarang Foto: Muhammad Fariz At Thariqi

7. Villa Isola

Villa Isola merupakan bangunan bersejarah yang berada di kawasan Universitas Pendidikan Indonesia, bagian utara Kota Bandung. Bangunan ini didirikan pada 1933 untuk D.W. Beretty, seorang pengusaha Belanda. Pada masa pembangunannya, Villa Isola berada cukup jauh dari pusat kota dan dikelilingi pemandangan pegunungan.

Menurut laman resmi Pemerintah Kota Bandung, Villa Isola dirancang oleh CP Wolff Schoemaker dengan gaya Streamline Moderne. Bangunan ini memiliki bentuk melengkung, garis horizontal, dan tata ruang yang menonjolkan kesan modern.

Sumbu bangunannya diarahkan ke Gunung Tangkuban Perahu sehingga memperlihatkan hubungan kuat antara arsitektur dan lanskap alam Bandung.

Setelah Indonesia merdeka, Villa Isola mengalami perubahan fungsi dan kemudian menjadi bagian dari lingkungan perguruan tinggi. Hingga kini, bangunan tersebut tetap dikenali sebagai salah satu karya arsitektur penting di Bandung.

Bunga Tabebuya bermekaran di Jalan Braga BandungBunga Tabebuya bermekaran di Jalan Braga Bandung Foto: Wisma Putra

8. Jalan Braga

Jalan Braga merupakan salah satu kawasan paling ikonik di Kota Bandung. Kawasan ini dikenal melalui bangunan-bangunan tua, trotoar, kafe, galeri, dan suasana kota lama yang masih terasa hingga sekarang. Pada masa kolonial, Jalan Braga berkembang sebagai kawasan perdagangan dan hiburan yang banyak didatangi masyarakat Eropa.

Lebih dari itu, Jalan Braga termasuk bagian penting dari perkembangan arsitektur kolonial dan Art Deco di Bandung. Sejumlah bangunan di sepanjang kawasan ini memperlihatkan bentuk fasad, jendela, serta ornamen yang mencerminkan gaya arsitektur Eropa pada awal abad ke-20.

Jalan Braga menjadi menarik karena sejarahnya tidak berhenti pada masa kolonial. Setelah Indonesia merdeka, kawasan ini terus mengalami perubahan fungsi dan menjadi ruang publik yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat.

Pada akhirnya, landmark Bandung bukan sekadar latar foto atau tujuan perjalanan singkat. Setiap tempat menyimpan suara dari masa lalu yang membantu menjelaskan bagaimana kota ini terbentuk dan berkembang.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads