Jadwal Fenomena Langit September 2026: Ada Harvest Moon!

Jadwal Fenomena Langit September 2026: Ada Harvest Moon!

Nur Khansa Ranawati - detikJabar
Kamis, 03 Sep 2026 06:01 WIB
Ilustrasi Fenomena Astronomi September 2026
lustrasi Fenomena langit (Foto: Jonny Gios/Unsplash)
Bandung -

Langit September 2026 akan dihiasi sejumlah fenomena astronomi menarik yang bisa diamati sepanjang bulan. Ada hujan meteor, Bulan yang tampak berdekatan dengan sejumlah planet, hingga kemunculan purnama Harvest Moon.

Sejumlah fenomena dapat diamati menggunakan mata telanjang, terutama ketika kondisi langit cerah dan minim polusi cahaya. Sementara itu, beberapa objek langit akan lebih mudah ditemukan dengan bantuan binokular atau teleskop.

Waktu pengamatan dalam daftar berikut disesuaikan dengan Waktu Indonesia Barat (WIB) atau GMT+7, sehingga pembaca di wilayah Jawa Barat, Jakarta, dan daerah lain yang menggunakan WIB dapat menjadikannya sebagai panduan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Daftar Fenomena Langit September 2026

Berikut sejumlah fenomena yang akan menghiasi langit sepanjang September 2026, sebagaimana dilansir dari NASA, Space.com, dan berbagai sumber lainnya:

1. Hujan Meteor Aurigid (1 September)

September dibuka dengan puncak hujan meteor Aurigid. Fenomena ini sebenarnya sudah aktif sejak 28 Agustus dan akan berlangsung hingga sekitar 5 September.

ADVERTISEMENT

Hujan meteor tersebut tampak berasal dari arah rasi Auriga. Dalam kondisi pengamatan ideal, Aurigid dapat menghasilkan sekitar enam meteor per jam.

Untuk pengamatan dari wilayah Indonesia, waktu terbaik adalah dini hari hingga menjelang Matahari terbit. Di waktu WIB, titik radian Aurigid mulai muncul di atas cakrawala timur sekitar pukul 01.33 WIB dan dapat diamati hingga fajar sekitar pukul 05.29 WIB.

2. Bulan dan Mars Berdekatan (6-7 September)

Bulan akan tampak berdekatan dengan Mars pada 6 hingga 7 September. Keduanya terlihat bersanding secara visual di sekitar kawasan rasi Gemini.

Peristiwa tersebut dapat diamati pada dini hari. Dari wilayah Indonesia, Bulan dan Mars dapat dicari di arah timur menjelang Matahari terbit.

Fenomena ini akan terjadi pada 7 September sekitar pukul 01.24 WIB. Setelah itu, keduanya tetap dapat menjadi objek pengamatan selama berada di atas cakrawala.

3. Okultasi Bulan dan Jupiter (8 September)

Bulan juga akan melintas di depan Jupiter pada September. Fenomena ketika sebuah benda langit tampak menutupi benda langit lain dari sudut pandang pengamat di Bumi disebut okultasi.

Namun, okultasi Bulan terhadap Jupiter ini dapat disaksikan dari seluruh wilayah Bumi. Peristiwa penutupan Jupiter tersebut hanya terlihat dari area tertentu, termasuk sebagian wilayah Rusia bagian timur.

4. Hujan Meteor Perseid (9 September)

Hujan meteor September Perseid mencapai puncaknya sekitar 9 September. Fenomena ini aktif antara 5 hingga 21 September.

Namun, jumlah meteor yang dihasilkan relatif sedikit dibandingkan hujan meteor besar seperti Perseid pada Agustus. Dalam kondisi ideal, aktivitasnya diperkirakan hanya beberapa meteor per jam.

Pengamatan hujan meteor ini dapat dilakukan mulai ketika rasi Perseus muncul di atas ufuk timur laut hingga menjelang fajar. Langit gelap dan lokasi yang jauh dari cahaya kota akan meningkatkan peluang melihat meteor.

5. Bulan Baru (11 September)

Fase Bulan Baru terjadi pada 11 September sekitar pukul 10.27 WIB. Pada fase ini, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari.

Sehingga, bagian Bulan yang menghadap Bumi tidak mendapatkan cahaya Matahari secara langsung. Akibatnya, Bulan hampir tidak terlihat di langit malam.

Fase Bulan Baru ini akan menciptakan kondisi langit yang lebih gelap. Malam-malam di sekitar fase tersebut menjadi waktu yang baik untuk mencari objek "deep sky", seperti galaksi, nebula, gugus bintang dan bagian Bima Sakti.

6. Bulan Sabit Muda dan Venus (13-14 September)

Beberapa hari setelah Bulan Baru, Bulan mulai muncul kembali sebagai sabit muda. Pada 13-14 September, Bulan sabit akan tampak berdekatan dengan Venus di langit barat.

Waktu terbaik untuk mencarinya adalah sesaat setelah Matahari terbenam. Pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang memiliki pandangan terbuka ke arah barat karena kedua objek berada cukup rendah di atas cakrawala.

7. Kemunculan Antares dan Teapot (14-20 September)

Pada 14-20 September 2026, NASA merekomendasikan untuk menggunakan Bulan sebagai penunjuk beberapa objek langit menarik.

Sekitar satu jam setelah Matahari terbenam, arahkan pandangan ke langit selatan. Dari malam ke malam, posisi Bulan akan bergeser terhadap latar belakang bintang dan melewati area dekat Antares, bintang kemerahan yang menjadi salah satu bintang utama rasi Scorpius.

Selanjutnya, pengamat dapat mencari kelompok bintang di rasi Sagittarius yang dikenal sebagai Teapot karena susunannya menyerupai teko.

Jika langit sangat gelap dan bebas polusi cahaya, bagian Bima Sakti dapat terlihat seperti kabut tipis yang seolah keluar dari cerat "teko" tersebut.

8. Venus Mencapai Puncak Terang (18 September)

Venus menjadi salah satu objek langit yang paling mencolok di September ini. Di 18 Desember, NASA mencatat waktu di mana Venus akan mencapai puncak terangnya untuk penampakan malam.

Sesaat setelah Matahari terbenam, Venus akan terlihat sebagai titik cahaya sangat terang di langit barat. Planet ini bahkan akan tampak lebih terang dibandingkan bintang-bintang di sekitarnya.

Karena posisinya cukup rendah, waktu pengamatan tidak berlangsung terlalu lama.

9. Ekuinoks September (23 September)

Ekuinoks September terjadi ketika Matahari berada tepat di atas garis ekuator Bumi. Peristiwa ini membuat durasi siang dan malam menjadi relatif seimbang di berbagai wilayah.

Untuk zona waktu Indonesia bagian barat, ekuinoks September 2026 berlangsung pada 23 September sekitar pukul 07.05 WIB.

Adapun fenomena Ekuinoks September menandai dimulainya musim gugur di Belahan Bumi Utara dan musim semi di Belahan Bumi Selatan. Setelah ekuinoks, durasi siang di Belahan Bumi Utara secara bertahap menjadi lebih pendek, sementara di Belahan Bumi Selatan menjadi lebih panjang.

10. Purnama Harvest Moon (26 September)

Salah satu fenomena paling menarik pada September adalah Bulan Purnama Harvest Moon yang mencapai puncaknya pada 26 September sekitar pukul 23.48 WIB.

Harvest Moon merupakan sebutan tradisional untuk Bulan Purnama yang waktunya paling dekat dengan ekuinoks September. Nama tersebut berkaitan dengan tradisi masyarakat di belahan Bumi utara yang memanfaatkan cahaya Bulan setelah Matahari terbenam untuk membantu aktivitas panen.

Space.com menjelaskan bahwa ketika baru terbit, Bulan dapat terlihat memiliki warna kuning-oranye. Warna tersebut muncul karena cahaya Bulan harus melewati atmosfer Bumi yang lebih tebal ketika berada dekat cakrawala.

Bulan juga dapat terlihat sangat besar ketika baru terbit. Efek tersebut dikenal sebagai "Moon Illusion", yakni ilusi visual yang membuat Bulan tampak lebih besar ketika berada dekat cakrawala dibandingkan ketika berada tinggi di langit.

Saat Harvest Moon berlangsung, Saturnus juga akan tampak di dekat Bulan dan dapat diamati menggunakan mata telanjang sebagai objek menyerupai bintang terang.

11. Hujan Meteor Sextantid (27 September)

Rangkaian fenomena langit September ditutup dengan puncak hujan meteor Sextantid sekitar 27 September.

Hujan meteor ini aktif sejak sekitar 9 September hingga 9 Oktober dan berasal dari arah rasi Sextans. Dalam kondisi ideal, aktivitasnya hanya menghasilkan sekitar lima meteor per jam.

Namun sayangnya, puncak hujan meteor Sextantid ini tidak mudah diamati secara langsung dari langit Indonesia.

Tips Memotret Harvest Moon di Indonesia

Berikut adalah sejumlah tips bagi pengamat yang ingin menikmati sekaligus memotret Harvest Moon September 2026, sebagaimana dilansir dari Space.com :

Gunakan Tripod

Tripod membantu menjaga kamera tetap stabil ketika memotret Bulan, terutama jika menggunakan lensa telefoto.

Gunakan Remote Shutter atau Timer

Cara ini membantu mengurangi guncangan kamera saat tombol rana ditekan.

Manfaatkan Aplikasi

Aplikasi astronomi di ponsel dapat membantu menemukan posisi Bulan terbit dari lokasi pengamatan.

Gunakan Lensa yang Sesuai

Lensa dengan panjang fokus sekitar 12-50 mm dapat digunakan untuk memotret Bulan sekaligus lanskap di sekitarnya.

Namun, panjang fokus lensa yang disarankan untuk menangkan detil permukaan Bulan setidaknya sekitar 400 m.

Jauhi Polusi Cahaya

Kondisi langit tetap menjadi faktor penting. Untuk mendapatkan pemandangan terbaik, pilih malam dengan cuaca cerah, cari lokasi yang memiliki pandangan cakrawala luas dan sebisa mungkin jauhi sumber polusi cahaya.

Demikian ulasan mengenai daftar fenomena langit yang akan muncul sepanjang September 2026, lengkap dengan penjelasan dan waktu pengamatannya. Semoga membantu!

Halaman 2 dari 2
(iqk/iqk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads