Setiap menjelang Tahun Baru Islam, masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, sering mendengar istilah Malam 1 Suro dan 1 Muharram. Keduanya kerap dianggap sama karena berlangsung pada waktu yang berdekatan. Namun, benarkah Malam 1 Suro dan 1 Muharram memiliki makna yang sama?
Pertanyaan ini sering muncul menjelang pergantian tahun Hijriah. Apalagi, Malam 1 Suro identik dengan berbagai tradisi budaya Jawa yang masih dilestarikan hingga kini, sementara 1 Muharram dikenal sebagai awal Tahun Baru Islam yang memiliki nilai spiritual tinggi bagi umat Muslim.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu 1 Muharram?
1 Muharram merupakan hari pertama dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia. Tanggal ini menandai dimulainya Tahun Baru Islam dan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah peradaban Islam.
Penetapan kalender Hijriah sendiri bermula pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Tahun pertama dalam kalender Islam dihitung sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak perkembangan dakwah Islam.
Bulan Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan dalam Islam. Pada bulan ini, umat Muslim dianjurkan memperbanyak amal saleh seperti puasa sunnah, sedekah, membaca Al-Qur'an, serta memperbanyak zikir dan doa.
Apa Itu Malam 1 Suro?
Sementara itu, Malam 1 Suro merupakan malam pergantian tahun dalam kalender Jawa yang menandai masuknya bulan Suro, bulan pertama dalam penanggalan Jawa.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, bulan Suro dianggap sebagai bulan yang sakral dan memiliki nilai spiritual tersendiri. Karena itu, banyak daerah yang menggelar tradisi budaya saat Malam 1 Suro, seperti kirab pusaka, tirakatan, doa bersama, ziarah makam leluhur, hingga ritual budaya lainnya.
Malam 1 Suro dimulai sejak matahari terbenam pada hari terakhir bulan sebelumnya, sebagaimana sistem penanggalan Hijriah yang menghitung pergantian hari sejak waktu Magrib.
Apakah 1 Suro Sama dengan 1 Muharram?
Secara tanggal, 1 Suro dan 1 Muharram pada umumnya jatuh pada hari yang sama.
Hal ini karena kalender Jawa yang digunakan saat ini merupakan hasil perpaduan antara kalender Saka dan kalender Hijriah yang dilakukan pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.
Pada tahun 1633 Masehi, Sultan Agung melakukan reformasi kalender dengan mempertahankan sistem penomoran tahun Jawa, tetapi menggunakan sistem perhitungan bulan berdasarkan kalender Hijriah.
Akibatnya, awal bulan Suro dalam kalender Jawa bertepatan dengan awal bulan Muharram dalam kalender Islam.
Sebagai contoh, 1 Muharram 1448 Hijriah diperkirakan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Pada tanggal yang sama, masyarakat Jawa juga memasuki 1 Suro dalam kalender Jawa.
Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram
Meskipun sering bertepatan, keduanya memiliki perbedaan dari segi makna dan latar belakang.
1. Berasal dari Sistem Kalender yang Berbeda
1 Muharram berasal dari kalender Hijriah yang digunakan umat Islam di seluruh dunia.
Sedangkan 1 Suro berasal dari kalender Jawa yang berkembang sebagai hasil akulturasi budaya Jawa dan Islam.
2. Memiliki Fokus Perayaan yang Berbeda
Tahun Baru Islam lebih menekankan pada nilai keagamaan, refleksi diri, dan peningkatan ibadah.
Sementara Malam 1 Suro lebih banyak diwarnai tradisi budaya dan adat yang berkembang di masyarakat Jawa.
3. Makna Spiritual yang Berbeda
Dalam Islam, Muharram merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT dan dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh.
Sedangkan dalam budaya Jawa, bulan Suro dipandang sebagai bulan yang sakral dan sering dikaitkan dengan berbagai tradisi leluhur.
Sejarah Penetapan 1 Suro di Jawa
Terdapat beberapa catatan sejarah mengenai lahirnya kalender Jawa.
Salah satu pendapat menyebutkan bahwa penyesuaian antara kalender Jawa dan kalender Hijriah telah dilakukan sejak masa Sunan Giri II pada era Kerajaan Demak sebagai sarana dakwah Islam.
Namun, penyatuan sistem kalender secara resmi dilakukan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1633 Masehi.
Langkah tersebut bertujuan memudahkan penyebaran Islam sekaligus menyatukan masyarakat Jawa yang memiliki latar belakang budaya dan kepercayaan yang beragam.
Sejak saat itulah bulan Suro ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender Jawa dan bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Islam.
Benarkah Bulan Suro atau Muharram Membawa Sial?
Di sebagian masyarakat masih berkembang anggapan bahwa bulan Suro merupakan bulan yang kurang baik untuk menggelar hajatan, pindah rumah, atau melakukan perjalanan jauh.
Namun, para ulama menegaskan bahwa keyakinan tersebut tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Pengasuh LPD Al Bahjah, Buya Yahya, menjelaskan bahwa Muharram justru merupakan bulan yang dimuliakan Allah SWT, bukan bulan yang membawa kesialan.
Menurutnya, mempercayai adanya bulan sial termasuk bentuk prasangka buruk kepada Allah SWT. Sebaliknya, umat Islam dianjurkan memanfaatkan bulan Muharram untuk memperbanyak ibadah dan amal kebaikan.
Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharram
Memasuki Tahun Baru Islam, umat Muslim dianjurkan memperbanyak berbagai amalan saleh, antara lain:
Puasa sunnah di bulan Muharram
Puasa Asyura pada 10 Muharram
Memperbanyak zikir dan doa
Membaca Al-Qur'an
Bersedekah kepada sesama
Menjalin silaturahmi
Memperbanyak taubat dan introspeksi diri
Malam 1 Suro dan 1 Muharram memang sering jatuh pada hari yang sama karena kalender Jawa mengadopsi sistem perhitungan kalender Hijriah. Namun, keduanya memiliki latar belakang dan makna yang berbeda.
1 Muharram merupakan awal Tahun Baru Islam yang berlandaskan ajaran agama, sedangkan Malam 1 Suro merupakan tradisi pergantian tahun dalam budaya Jawa yang lahir dari perpaduan budaya lokal dan Islam.
Terlepas dari perbedaannya, keduanya sama-sama menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki kehidupan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Simak Video "Video: Unik! Wayang Cangkem Pakai Suara Mulut buat Pengganti Gamelan"
(tya/tey)