Kisah Haji Memet: Dari Tukang Kredit Jadi Bos 'Mal' Majalengka

Sang Juragan

Kisah Haji Memet: Dari Tukang Kredit Jadi Bos 'Mal' Majalengka

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Minggu, 24 Mei 2026 20:00 WIB
Haji Memet.
(Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Tak ada kesan berlebihan dari sosok Memet Tasmat atau yang akrab disapa Haji Memet saat menerima detikJabar di ruang kerjanya. Pemilik toko swalayan UD Putra TS Majalengka itu tampil sederhana dengan senyumnya yang ramah, tutur katanya pelan dan hangat sepanjang obrolan berlangsung.

Saat berbincang dengan detikJabar, sesekali, senyum Haji Memet mengembang saat mengenang masa lalunya. Duduk santai di ruang kerjanya, pria berusia 51 tahun itu mulai bercerita tentang perjalanan hidup yang ia bangun dari nol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jauh sebelum dikenal sebagai pemilik 'mal' lokal di Majalengka, Haji Memet pernah bekerja sebagai tukang kreditan dengan upah Rp7 ribu per minggu.

Haji Memet bercerita, dirinya lahir dan besar di Kabupaten Majalengka. Setelah lulus SMA pada 1994, ia sebenarnya ingin melanjutkan kuliah. Namun keadaan ekonomi keluarga membuat keinginannya tak berjalan mulus.

ADVERTISEMENT

"Dulu pengen kuliah, cuma karena keterbatasan biaya orang tua nyaranin masuk kampus negeri. Tapi belum rezekinya, saya nggak diterima," kata Haji Memet saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.

Setahun kemudian, tepat saat usianya menginjak 20 tahun, ia memberanikan diri merantau ke Bandung untuk bekerja menjadi tukang kreditan. Pekerjaan itu ia dapat setelah diajak kakak kelasnya.

Meski penghasilannya hanya Rp7 ribu per minggu, Haji Memet mengaku tidak pernah memandang pekerjaan itu sebagai sesuatu yang rendah. Baginya, pekerjaan tersebut justru menjadi tempat belajar memahami dunia usaha.

"Waktu itu kerja kriditan bukan buat kebutuhan hidup, tapi buat belajar manajemen usaha," ujarnya.

Di tempat kerja, ia sempat mendapat cibiran dari rekan-rekannya. Lulusan SMA dianggap sayang bila harus bekerja menawarkan barang secara kredit dari rumah ke rumah. Namun Haji Memet memilih tak memedulikan omongan orang lain.

"Saya mah biarkan orang menilai seperti apa, yang penting fokus sama tujuan," tuturnya.

Tak lama setelah itu, ia memutuskan pulang ke Majalengka. Orang tuanya yang juga memiliki latar belakang berdagang meminta dirinya mulai mencoba usaha sendiri di kampung halaman.

Haji Memet kemudian diajak berbelanja pakaian ke Tanah Abang untuk dijual kembali di Majalengka. Karena sudah terbiasa menjadi tukang kreditan, barang-barang tersebut kembali dijual secara kredit kepada warga sekitar.

Namun usahanya kala itu tak berjalan mulus. Banyak barang dikredit oleh saudara sendiri, sementara pembayaran sulit ditagih.

"Cuma yang namanya sama saudara, kita kurang enak nagihnya. Ya, barang habis, modal mah nggak balik," ucapnya sambil tertawa kecil.

Usaha kreditan itu hanya bertahan sekitar dua bulan. Setelah itu, orang tuanya meminta Haji Memet mulai berjualan di Pasar Majalengka atau yang kini dikenal sebagai pasar lama.

Haji Memet.Toko swalayan UD Putra TS Majalengka. (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)

Dengan modal sekitar Rp1,5 juta, ia mulai membuka lapak pakaian sederhana pada 1996. Tempat jualannya pun bukan kios permanen. Setiap pagi barang dagangan dipasang, lalu dibongkar kembali saat pasar tutup.

Dari lapak sederhana itu, Haji Memet mulai menanamkan prinsip yang terus ia pegang hingga sekarang, yakni tekun menjalani satu pekerjaan.

"Prinsip saya itu kalau punya satu pekerjaan itu harus digeluti dan diuleti," katanya.

Perjalanan usahanya mulai berkembang saat Pasar Cigasong dibangun pada 1997. Orang tuanya meminta ia mendaftar kios di pasar baru tersebut. Haji Memet pun mencicil pembayaran kios Rp2 ribu per hari hingga akhirnya memiliki kios kecil berukuran sekitar 2x3 meter.

Di kios kecil itulah, ia mulai memahami pentingnya pelayanan kepada pelanggan. Ia menawarkan barang kepada siapa pun yang lewat, bahkan menerima penukaran barang meski nilainya turun.

"Prinsip saya barang harus ada. Walaupun satu item jangan sampai kosong, takut pelanggan pindah ke tempat lain," ujarnya.

Selain menjaga kelengkapan barang, Haji Memet juga rutin berjualan ke pasar malam di sejumlah daerah seperti Kadipaten, Rajagaluh, hingga Sukaraja. Saat banyak anak muda seusianya menikmati masa muda, ia memilih fokus membangun usaha.

"Saya waktu muda fokus bangun karir dulu, usaha ke mana aja disamperin istilahnya," ucapnya.

Kerja keras itu mulai menunjukkan hasil saat krisis moneter 1997 melanda Indonesia. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, usaha pakaian miliknya justru berkembang pesat.

"Zaman moneter malah kebantu, untungnya bisa dua sampai tiga kali lipat," katanya.

Pada 1998, ia sudah memiliki dua kios dan mulai mempekerjakan satu orang karyawan. Usahanya semakin berkembang setelah menikah pada 2001.

Haji Memet mengaku setelah berumah tangga, rezekinya terasa semakin terbuka. Mertuanya yang juga pedagang grosir kemudian mempercayakan usaha distribusi pakaian kepadanya.

Haji Memet.Haji Memet. Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar

Selain berjualan eceran, ia mulai merambah usaha grosiran ke sejumlah daerah seperti Cikijing, Maja, hingga Talaga.

Tahun 2002, Haji Memet membeli rumah di depan Pasar Cigasong. Rumah itu perlahan disulap menjadi toko. Awalnya hanya satu lantai, lalu berkembang menjadi tiga lantai bahkan dilengkapi eskalator.

Nama UD Putra TS Majalengka pun semakin dikenal masyarakat. Toko tersebut menyediakan berbagai kebutuhan mulai dari pakaian dewasa dan anak-anak, sepatu hingga tas.

Namun perjalanan usahanya tak selalu berjalan mulus. Pada 2015, Haji Memet sempat menghadapi penolakan dari pedagang lain karena usaha grosirnya dianggap terlalu besar.

"Waktu itu saya didemo satu pasar gara-gara jual grosiran," ujarnya.

Meski begitu, ia menganggap peristiwa tersebut sebagai bagian dari proses hidup. "Peristiwa itu mungkin hikmah bagi saya, dari musibah itu saya semakin diangkat lagi lebih tinggi derajatnya oleh Allah," jelasnya.

Setahun setelah peristiwa itu, ia membeli lahan di kawasan Baribis dan membangun toko besar yang kini ramai dikunjungi pelanggan dari berbagai daerah. Bahkan masyarakat menyebut tokonya itu sebagai 'malnya' orang Majalengka.

"Alhamdulillah sekarang yang belanja nggak cuma warga Majalengka, ada dari Indramayu, Cirebon, Kuningan hingga Sumedang. Karena ini kegigihan sama istri juga. Kita baik sama orang, Allah juga baik sama kita," ucapnya.

Tak berhenti di bisnis pakaian, Haji Memet mulai merambah usaha travel umrah pada 2018. Empat tahun kemudian, ia mendirikan UD Tour Umrah & Haji Plus yang kantornya berada di samping toko utama.

Menurut Haji Memet, nama UD sendiri justru muncul dari kebiasaan pelanggan. Saat ada orang bertanya lokasi seseorang, jawabannya sering terdengar sederhana, "lagi di UD" atau dalam artian lagi di tempat Usaha Dagang (UD). Dari situlah nama tersebut kemudian melekat menjadi identitas tokonya.

Kini, usaha yang dirintis dari lapak bongkar pasang itu telah mempekerjakan sekitar 400 karyawan yang mayoritas berasal dari Majalengka. Bahkan bagi pegawai dari luar daerah, ia menyediakan mes karyawan.

Di tengah kesuksesan yang diraih, Haji Memet tetap dikenal sebagai sosok sederhana. Tak ada kesan berjarak dari pria yang dulu pernah berkeliling menawarkan barang secara kredit demi belajar dunia usaha itu.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads