Bagi Tristia Riskawati (34), menempuh pendidikan tinggi bukan semata alat menuju gelar akademik yang mentereng. Proses belajar, menempa ilmu, dan menggali perspektif baru seolah sudah menjadi 'hobi' yang memberi energi.
Saat ini, mojang Bandung tersebut tengah berkutat dengan disertasi untuk menuntaskan studi doktoralnya di jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota SAPPK ITB. Di sela kesibukannya tersebut, ia juga masih aktif mengembangkan gerakan sosial yang ia rintis bersama sang suami.
Perjalanan akademik Tristi, sapaan akrabnya, dimulai ketika ia menempuh pendidikan S1 Jurusan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Setelah menyelesaikan kuliah, ia semakin tertarik untuk mempelajari banyak hal, terutama tentang manusia dan segala potensi dirinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa tahun kemudian, ia melanjutkan studi S2 melalui jalur beasiswa LPDP di tahun 2017. Berbeda dengan studi sarjananya, ia memilih Center for Creative Entrepreneurship (CCE) MBA ITB sebagai tempatnya menempa ilmu kewirausahaan.
Pada masa itu, ia mulai banyak bersentuhan dengan isu pengembangan diri dan keresahan anak muda tentang masa depan. Dari sanalah lahir Temali, startup media yang ia bangun hingga 2021.
"Temali itu media yang fokusnya sharing pengembangan diri. Banyak orang usia 20-an itu yang mengalami quarter life crisis, merasa bingung harus mencari pekerjaan yang seperti apa,mencari cuan atau mengikuti passion," papar Tristi ketika berbincang dalam podcast Ngobrol Bareng Teteh di detikJabar belum lama ini.
"Jadi Temali juga menyediakan layanan talents mapping sebagai revenue stream-nya," lanjutnya.
Lewat platform tersebut, Tristi mulai memperkenalkan talents mapping untuk membantu seseorang mengenali potensi diri dan arah karier yang lebih sesuai. Menurutnya, banyak orang memaksakan diri menjalani sesuatu yang sebenarnya tidak cocok dengan dirinya hingga akhirnya mudah lelah secara emosional.
"Kalau kerja enggak sesuai passion biasanya orang lebih cepat burnout. Jadi harus lebih pintar ngatur waktu istirahatnya," katanya.
Semakin lama, Tristi merasa pencarian tentang potensi diri seharusnya tidak berhenti pada urusan karier semata. Ia mulai melihat ada persoalan yang lebih besar ketika banyak anak dari keluarga prasejahtera belum punya kesempatan mengenali kemampuan dirinya sendiri.
Keresahan itu semakin terasa setelah ia sering berdiskusi dengan sang suami yang bekerja di Kementerian Sosial Republik Indonesia. Dari cerita-cerita yang dibawa pulang setelah bekerja, keduanya melihat banyak keluarga yang terus berada dalam lingkaran kemiskinan yang sama dari tahun ke tahun.
"Suami dan saya melihat banyak keluarga pra-sejahtera yang terus mendapat bantuan sosial, tapi kesannya jadi seperti 'disuapin' aja ya. Padahal kalau ada satu saja anaknya yang bisa berkuliah, ekonomi mereka bisa terangkat," ungkapnya.
Dari keresahan bersama tersebutlah Pijar Berdaya hadir di tahun 2022. Sang suami, Irvan Nurmawan, menjadi nakhoda program tersebut sebagai CEO. Pijar Berdaya juga sekaligus menjadi ruang bagi Tristi untuk menggabungkan banyak hal yang selama ini ia pelajari tentang pendidikan, pengembangan diri, dan pencarian potensi manusia.
"Pijar Berdaya adalah beasiswa untuk adik-adik kurang mampu yang ingin lanjut berkuliah agar bisa memutus rantai kemiskinan keluarga mereka," jelasnya.
Ia memaparkan, melalui Pijar Berdaya, para peserta mendapat pendampingan penelusuran minat dan bakat, bimbingan belajar gratis, hingga capacity building. Pendekatan talents mapping yang dulu digunakan Tristi di Temali kini juga diterapkan kepada para awardee Pijar Berdaya.
Sebab menurutnya, banyak anak yang masih memilih jurusan kuliah hanya berdasarkan profesi yang dianggap menghasilkan banyak uang tanpa benar-benar memahami kemampuan dan minat dirinya sendiri.
"Ada yang bilang pengen ambil jurusan yang nantinya banyak cuannya, tapi kan belum tentu cocok. Takutnya malah kolaps di tengah jalan," katanya.
Oleh karenanya, Pijar Berdaya juga banyak memberi kesempatan bagi penerima beasiswanya agar dapat mengenali keunggulan diri masing-masing. Program tersebut bekerja sama dengan Rumah Amal Salman lewat Beasiswa Perintis untuk memberikan bimbingan belajar.
Dalam proses seleksi, tim juga menyesuaikan pilihan jurusan peserta dengan kemampuan akademik dan nilai rapor mereka. Harapannya, agar proses kuliah dapat berjalan maksimal.
"Jadi pas UTBK mereka enggak asal pilih. Kita sesuaikan juga sama kemampuan akademiknya," ujarnya.
Studi S3 yang Tak Disangka-sangka
Pengalamannya merintis Pijar Berdaya perlahan membawa Tristi pada perjalanan yang lebih jauh. Ia menikmati momen-momen ketika bisa memahami sesuatu yang baru, berdiskusi dengan banyak orang, dan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.
"Aku memang senang belajar dan senang diskusi. Jadi kalau belajar sesuatu yang baru tuh rasanya hidup," katanya.
Cara pandang itu pulalah yang akhirnya membawanya mengambil pendidikan doktoral di SAPPK ITB, kembali menjadi awardee LPDP. Awalnya, ia sempat ingin mengambil program doktoral yang masih berkaitan dengan bisnis.
Namun, kuota program yang ia incar sudah penuh. Sampai akhirnya ia menemukan bidang yang lebih dekat dengan keresahannya tentang pendidikan dan pengentasan kemiskinan.
"Pas ketemu topik penelitiannya, aku justru merasa ini relate banget sama apa yang pengen aku kerjain," katanya.
Keputusan mengambil S3 datang perlahan. Ia sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan melanjutkan pendidikan sampai jenjang doktoral.
"Dulu tuh enggak pernah kepikiran S3 karena identiknya jadi dosen. Aku takut diomongin mahasiswa," ujarnya sambil tertawa kecil.
Namun, doa-doa dan dukungan orang tua, dorongan dari suami, hingga proses istikharah yang ia lakukan berkali-kali akhirnya membuat hatinya mantap. Studi Perencanaan Wilayah dan Kota dinilai dapat menjadi bekal untuk mendalami ilmu pengentasan kemiskinan.
"Ternyata di SAPPK ada promotor yang cukup mendalami topik pengentasan kemiskinan. Aku juga merasa semua prosesnya benar-benar dipermudah," ungkapnya.
Kompak Berbagi Tugas Domestik
Di tengah aktivitas sosial dan akademiknya, Tristi mengaku tidak bisa berjalan sendiri. Ia banyak terbantu oleh dukungan suami yang menurutnya sangat kooperatif dalam urusan domestik. Mereka mencoba membangun pola pembagian tugas rumah tangga yang lebih fleksibel dan setara.
"Karena suami sangat mendukung S3, jadi beliau tidak terlalu membebani pekerjaan domestik. Kita bereksperimen dengan pembagian tugas rumah tangga," paparnya.
Ada minggu ketika Tristi lebih fokus menyelesaikan disertasi, sementara minggu berikutnya ia lebih banyak mengurus kegiatan Pijar Berdaya. Ia dan suami bergantian mengerjakan tugas-tugas rumah tangga.
"Suami yang support dan mau kerjasama pembagian tugas domestik itu terasa (memudahkan) banget," jelasnya.
Anaknya yang kini hampir berusia lima tahun pun terkadang ikut dibawa ke berbagai kegiatan. Tristi berharap anaknya bisa melihat langsung bahwa belajar dan membantu orang lain adalah bagian alami dari kehidupan sehari-hari.
"Aku pengen anak lihat langsung proses kerja dan belajar. Harapannya bisa jadi inspirasi juga buat dia," ujarnya.
Lebih jauh, ia menilai penting bagi perempuan untuk terus belajar dalam bentuk apa pun. Tak harus lewat pendidikan formal, melainkan juga lewat membaca buku, mengikuti kursus, hingga belajar memahami pasangan dan keluarga.
"Dalam rumah tangga juga kita harus belajar terus. Cara menyelesaikan konflik, cara komunikasi yang benar, itu penting. Enggak harus kerja atau S3. Tapi kalau seseorang bisa mengalirkan potensinya, biasanya dia akan lebih happy," ujarnya.
Semangat belajar itu tampaknya memang tumbuh kuat di keluarganya. Bahkan sang ibu yang kini sudah berusia 60-an tahun baru memutuskan melanjutkan pendidikan S2. Bagi Tristi, hal tersebut menjadi pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal usia.
Di akhir percakapan, ia berbagi pesan untuk sesama perempuan, terutama yang hendak membangun kehidupan rumah tangga. Menurutnya, salah satu hal penting sebelum menikah adalah berdoa agar dipertemukan dengan pasangan yang saling mendukung untuk bertumbuh.
Ia percaya kebahagiaan yang berasal dari diri sendiri akan lebih sehat dibanding menggantungkan seluruh harapan kepada pasangan. Sebab ketika seseorang merasa utuh dengan dirinya, energi itu juga akan terasa dalam hubungan keluarga.
"Berdoalah supaya dipertemukan sama pasangan yang bisa sama-sama ningkatin kapasitas dan mendukung potensi diri kita," tutupnya.
(iqk/iqk)
