Imlek setiap tahunnya selalu ditandai oleh suara tabuhan simbal dan tarian Barongsai yang menghiasi pusat perbelanjaan di tiap sudut kota. Bagi masyarakat etnis Tionghoa dan umat beragama Khonghucu, Tahun Baru Imlek adalah puncak dari segala harapan dan rasa syukur.
Namun, di balik kemeriahan lampion merah yang berpijar, tersimpan jejak sejarah panjang yang penuh liku di Indonesia. Banyak yang belum mengetahui secara mendalam bagaimana makna dan asal-usul perayaan Imlek ini, terutama dalam konteks sejarah Indonesia.
Sejarah & Makna Imlek Bagi Warga Tionghoa
Bagi warga Tionghoa, Imlek merupakan hari penting yang rutin dirayakan setiap tahun. Momentum ini adalah bentuk syukur atas datangnya musim semi yang membawa harapan baru. Istilah Imlek sendiri berasal dari dialek Hokkien (Yinli dalam bahasa Mandarin) yang secara harfiah berarti kalender bulan.
Sejarah perayaan Tahun Baru Imlek berkembang seiring bergantinya dinasti di Tiongkok. Pada masa Dinasti Shang (1600-1046 SM), masyarakat terbiasa menggelar ritual pengorbanan demi menghormati dewa dan leluhur setiap pergantian tahun.
Tanggal perayaan Imlek kemudian ditetapkan secara resmi pada masa Dinasti Han (202 SM-220 M), yakni pada hari pertama bulan pertama kalender lunar. Di periode ini, tradisi membakar bambu untuk menciptakan suara keras mulai populer sebagai simbol penolak bala atau mengusir roh jahat.
Memasuki era Dinasti Wei dan Jin (220-420 M), perayaan Imlek berubah menjadi momen keluarga yang lebih hangat. Pada saat itu, tradisi membersihkan rumah, makan malam bersama, hingga begadang di malam tahun baru adalah kebiasaan yang populer di kalangan masyarakat biasa. Sehingga, momen ini dijadikan sebagai ajang menghormati leluhur sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan.
Simak Video "Video: Momen Imlek, Warga Tionghoa Jambi Lepas Kura-Kura ke Sungai"
(tya/tya)