Menghidupkan Memori Sejarah Bandung Lewat Langkah Kaki

Kabar Kampus

Menghidupkan Memori Sejarah Bandung Lewat Langkah Kaki

Tim Mahasiswa UPI - detikJabar
Rabu, 31 Des 2025 13:24 WIB
Aktivitas Komunitas Cerita Bandung saat menggelar walking tour.
Ifah, storyteller Cerita Bandung, berdiri ditengah para peserta. Melalui dokumentasi lama yang digenggam Ifah menjelaskansejarah dan perkembangan Baltos Town Square tepat di depan bangunan tersebut. (Foto : Fazatil Husainah)
Bandung -

Ifah, storyteller Cerita Bandung, berdiri di tengah para peserta. Di tangannya tergenggam media berisi dokumentasi bangunan kolonial yang menjadi penanda rute kali ini, The History of Tamansari. Suara kendaraan dari jalan besar sesekali menyela penjelasannya, kontras dengan cerita tentang masa ketika kawasan tersebut belum dipenuhi pusat perbelanjaan.

"Sebagai orang asli Bandung, nggak banyak yang aku tahu soal sejarah kota ini," ujar Kinanti saat diwawancarai pada Sabtu 13 Desember 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswi jurusan manajemen pendidikan pariwisata ini baru menyadari bahwa selama ini begitu banyak jejak sejarah dan budaya Bandung luput dari perhatiannya. Gang-gang lama yang terdesak pembangunan, bangunan yang saban hari ia lewati, serta narasi kota yang tak pernah benar-benar hadir dalam ruang kelas.

Kesadaran tersebut muncul ketika Kinanti mengikuti tur jalan kaki yang digagas komunitas Cerita Bandung. Dengan berjalan kaki menyusuri ruang-ruang kota, mendengar kisah langsung dari pemandu, dan berdiri tepat di lokasi tempat sejarah berlangsung, Kinanti tidak lagi memandang Bandung semata sebagai ruang aktivitas, melainkan sebagai ruang ingatan.

ADVERTISEMENT

"Walking tour ini benar-benar ngebantu aku punya perspektif baru soal Bandung," ucap Kinanti.

Aktivitas Komunitas Cerita Bandung saat menggelar walking tour.Perbandingan tugu Sister City terdahulu dan saat ini di simpang Jalan Tamansari-Jalan Wastukencana. (Foto : Fazatil Husainah)

Tur Jalan Kaki ala Cerita Bandung

Komunitas Cerita Bandung hadir untuk mempertemukan kembali warga dengan sejarah kotanya melalui medium tur jalan kaki. Gadis, salah satu penggagas Cerita Bandung, menyebut inisiatif ini bermula dari kegelisahan sederhana.

"Founder kami, Kak Farhan, sadar kalau walking tour belum marak di Bandung. Padahal Bandung punya banyak hal yang bisa diulik," ujarnya, Rabu 10 Desember 2025.

Awalnya, Cerita Bandung beroperasi sebagai agen perjalanan. Namun, aktivitas ini justru berkembang menjadi komunitas. Banyak peserta yang datang sendiri, lalu pulang dengan teman baru karena memiliki minat yang sama terhadap sejarah kota.

Dalam menyusun rute, tim melakukan riset mendalam dengan menyambangi kawasan bersejarah, mengombinasikan observasi lapangan, arsip, hingga peta kolonial. "Menggunakan peta kolonial itu harus teliti karena tidak semua titik tertulis. Jadi seperti menyusun puzzle satu per satu," tutur Gadis.

Materi yang disampaikan pun harus akurat. Setiap pemandu membekali diri dengan foto lama lokasi yang dikunjungi.

"Kalau dari internet pun harus dicek lagi validitasnya. Kadang kita juga dapat informasi dari saksi sejarah yang masih hidup," ucap Gadis menambahkan.

Ifah, salah satu storyteller, menjelaskan bahwa esensi dari kegiatan ini adalah membantu peserta menciptakan kesan baru atas tempat-tempat yang sebenarnya sudah akrab bagi mereka. Pendekatan ini diwujudkan melalui rute tematik seperti Rediscover Pecinan, The Story of Tamansari, dan Laswi Stroll. Agar tetap inklusif, mereka menerapkan skema pembayaran sukarela.

"Walking tour itu fokusnya bagaimana peserta menciptakan memori baru terkait tempat-tempat yang mungkin biasa mereka datangi, tapi kali ini dengan kesan yang lebih berbeda. Visi kita bukan cuma ngajak jalan, tapi ngajak orang mengenali daerah tempat tinggalnya dengan cara yang lebih menyenangkan dibanding hanya duduk di kelas," tutur Ifah.

Aktivitas Komunitas Cerita Bandung saat menggelar walking tour.Foto bersama Ifah dan para peserta. Aktivitas ini sekaligus menjadi momen penutupan kegiatan walking tour. (Foto : Fazatil Husainah)

Cara Pandang yang Berubah

Transformasi yang dihasilkan tur jalan kaki sering kali menggeser cara pandang warga terhadap kota, seperti dirasakan Nadia.

"Awalnya aku ikut walking tour karena bosan sama rutinitas yang itu-itu saja," kata Nadia.

Tanpa tujuan besar selain menghilangkan jenuh, Nadia kini justru ketagihan dan sudah mengikuti tur sebanyak lima kali. Ia sering menemukan sudut-sudut kota tersembunyi yang sebelumnya tidak ia sadari.

"Ternyata jalan-jalan yang biasa kita lewati itu ada sejarahnya, ada ceritanya," ucap Nadia.

Menjelang akhir tur, Kinanti kembali menatap jalan yang baru saja ia susuri. Di kota yang ia sebut rumah sejak lahir, baru hari itu ia merasa benar-benar berkenalan dengan Bandung. Di tengah kota yang terus berubah, upaya mengingat menjadi langkah penting agar Bandung tidak kehilangan jati diri.

"Ternyata Bandung itu keren, ya," ujar Kinanti.

*** Artikel ini merupakan hasil kontribusi dari tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terdiri Fazatil Husainah, Amabila Marva, Muhammad Faiz, Heny Indah, dan Wina Melinda.



(bbp/bbp)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads