Merawat Tradisi Toleransi di Gang Luna Bandung

Kabar Kampus

Merawat Tradisi Toleransi di Gang Luna Bandung

Tim Mahasiswa UPI - detikJabar
Selasa, 23 Des 2025 14:00 WIB
Merawat Tradisi Toleransi di Gang Luna Bandung
Gapura Kampung Toleransi di Gang Luna, Kota Bandung. (Foto: Raja Wirayuda)
Bandung -

Kota Bandung saat ini memiliki lima kampung toleransi yang diresmikan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Lima lokasi tersebut tersebar di Kelurahan Balonggede, Kebon Jeruk, Paledang, Babakan, dan Jamika.

Gang Luna merupakan salah satu titik kampung toleransi di Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler. Di wilayah ini terdapat empat wihara, empat gereja, dan dua masjid yang jaraknya berdekatan. Warga setempat konsisten menjaga kerukunan melalui berbagai aktivitas sosial, terutama saat pelaksanaan hari raya keagamaan masing-masing umat.

Diresmikan pada 2017 oleh Wali Kota Bandung saat itu, Ridwan Kamil, Gang Luna menjadi kampung toleransi pertama di Kota Bandung. Praktik toleransi warga setempat tercatat telah berlangsung lama, bahkan jauh sebelum peresmian secara administratif dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suasana Kampung Toleransi di Gang Luna, Kota Bandung.Patung simbolis kerukunan beragama di samping gapura Kampung Toleransi Gang Luna. (Foto: Raja Wirayuda)

Saat hari raya tiba, warga lintas agama saling membantu persiapan ibadah. Derry Darmansyah, Seksi Pemuda dan Olahraga RW 04, menjelaskan bahwa pada momen Idulfitri, warga nonmuslim ikut bersilaturahmi, bahkan menyumbang makanan untuk agenda buka puasa bersama.

"Kalau buka puasa bersama di sini semua ikutan. Kita giliran. Ini dari pihak gereja menyumbang nih buat takjilnya. Ini dari wihara, makanan beratnya," ucap Derry dalam wawancara pada Rabu (17/12/2025).

ADVERTISEMENT

Ketua Kampung Toleransi, Jahja Kosim, menyatakan bahwa silaturahmi antartokoh agama rutin dilakukan untuk menjaga komunikasi. "Biasanya kita ada kegiatan silaturahmi antarpengurus pimpinan agama. Jadi komunikasi itu tetap harus dijaga, komunikasi antarumat beragama, pimpinan-pimpinan seperti itu," ujar Jahja.

Masyarakat di wilayah ini mengedepankan prinsip inklusivitas tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun status sosial. "Jadi kita kalau sudah sehari-hari mah tidak melihat agamanya apa, sukunya apa, berbaur saja. Kita belanja, kita ngobrol, kita makan bareng. Tidak ada gap," kata Jahja.

Suasana Kampung Toleransi di Gang Luna, Kota Bandung.Salah satu gereja yang berada di Kampung Toleransi, Gang Luna. (Foto: Raja Wirayuda)
Suasana Kampung Toleransi di Gang Luna, Kota Bandung.Spanduk ucapan Natal dari keluarga besar Vihara Dharma Ramsi terpasang di samping pintu masuk tempat ibadah itu di Gang Luna. (Foto: Raja Wirayuda)

Salah satu kegiatan rutin adalah bakti sosial (baksos) berupa pembagian sembako. Dana kegiatan ini bersumber dari kontribusi rumah-rumah ibadah yakni gereja, masjid, dan wihara. Warga lintas iman juga berpartisipasi dalam menjaga keamanan saat momen hari besar agama tertentu.

"Contohnya ada Natal sebentar lagi, kita membantu mengamankan agar berlangsung khidmat. Misalnya gereja ada empat, bareng-bareng kita jaga, baik oleh muslim maupun nonmuslim," tutur Jahja.

Ketua RW 04, Ervan Sofyana, menyebutkan warga berupaya menghindari konflik saat menanggapi isu sensitif. Ia menyatakan sejauh ini tidak pernah ada permasalahan yang mengganggu stabilitas wilayahnya.

"Semuanya itu netral saja, di sini saling rukun semua," ucap Ervan.

Warga Gang Luna mengedepankan komunikasi dalam menjaga hubungan antarumat. Interaksi antartokoh masyarakat menjadi ruang untuk merawat silaturahmi.

"Prinsip yang dipegang teguh itu yang jelas kerukunan. Saling menghormati dan menghargai," kata Ervan.

*** Artikel ini merupakan hasil kontribusi dari tim mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terdiri Raja Wirayuda, Fajra Alfasino, Nisrina Larasati, dan Danillah Nur Rahmat.




(bbp/bbp)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads