Kisah Polisi Jadi Guru di Pelosok Cianjur hingga Menolak Dibayar

Kisah Polisi Jadi Guru di Pelosok Cianjur hingga Menolak Dibayar

Ikbal Selamet - detikJabar
Jumat, 11 Nov 2022 20:00 WIB
Bripka Bayu, Bhabinkamtibmas di Kecamatan Mande, Cianjur jadi guru sukarela di sekolah yang kekurangan guru tanpa dibayar.
Bripka Bayu, Bhabinkamtibmas di Kecamatan Mande, Cianjur jadi guru sukarela di sekolah yang kekurangan guru tanpa dibayar. (Foto: Ikbal Selamet/detikJabar).
Cianjur -

Aksi Bripka Bayu patut diacungi jempol. Sebab Bhabinkamtibmas di Kecamatan Mande, Cianjur ini menjadi tenaga pengajar sukarela di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di pelosok Cianjur tanpa dibayar sepeserpun.

Polisi teladan ini menjadi guru bahasa inggris di MI Al-Jihad, Kampung Gunung Jatung, Desa Leuwikoja, Kecamatan Mande sejak beberapa bulan terakhir. Setiap dua hari dalam seminggu, Bripka Bayu menyempatkan diri mengajar siswa kelas 5 dan 6.

Hal itu dia lakukan lantaran sekolah MI tersebut ternyata kekurangan tenaga pengajar. Dirinya tergerak untuk membantu untuk mengajar siswa.


"Sekolah ini kekurangan guru, makanya saya menawarkan diri untuk mengajar di sela kesibukan tugas sebagai bhabinkamtibmas. Sudah sekitar 3 bulan saya menjadi tenaga pengajar sukarela di MI Al-Jihad ini," ucap dia, Jumat (11/11/2022).

Bayu menjelaskan dirinya mengajar bahasa Inggris dasar yang diajarkan menggunakan metode NLP (Neuro Linguistic Programing) pendeketan atau teknik untuk merubah pola pikir.

"Kebetulan saya punya basic bahasa Inggris, makanya saya jadi guru bahasa Inggris yang dikombinasikan dengan metode pembelajaran NLP. Dengan harapan ilmu saya yang tidak seberapa ini bisa bermanfaat bagi siswa yang menjadi generasi penerus ini," tuturnya.

Kepala MI Al-Jihad Iwan Ridwan mengungkapkan jika sekolahnya memang kekurangan tenaga pengajar. Bahkan sekolah dengan puluhan siswa ini hanya memiliki tiga tenaga pengajar, yakni dua orang guru dan dirinya sebagai kepala sekolah yang kerap turun tangan untuk membantu mengajar siswa.

"Memang kurang guru, karena lokasinya jauh. Sempat ada guru tambahan, tapi hanya bertahan setahun karena lokasinya yang jauh dengan jalan yang rusak dan medan perbukitan. Makanya keberadaan Pak Bayu sangat membantu kami yang kekurangan guru ini," ucap dia.

Dia menambahkan Bripka Bayu juga mengajar tanpa dibayar sepeserpun. Bahkan pihak sekolah sempat ingin memberi untuk mengganti operasional pun ditolak.

"Beliau mengajar dengan sukarela tanpa mau dibayar, sempat akan diberi untuk ganti bensin pun ditolak. Katanya nggak usah dibayar, karena dia (Bripka Bayu), memang ikhlas mengajar menyalurkan ilmunya untuk siswa di sini," ungkapnya.

(mso/mso)