Kota Bandung

Nostalgia Lewat Puluhan BMX Tua

Sudirman Wamad - detikJabar
Minggu, 31 Jul 2022 17:30 WIB
Anton Mulyana dan puluhan sepeda BMX.
Foto: Anton Mulyana dan puluhan sepeda BMX (Sudirman Wamad/detikJabar).
Bandung -

Bicycle motocross atau yang akrab disebut BMX memang tak pernah mati. Geliatnya tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Selain karena jadi salah satu cabang olahraga, BMX juga hidup dalam ingatan masa kecil.

Tak sedikit masyarakat di Indonesia yang masa kecilnya dihabiskan dengan sepeda BMX. Bahkan, sebagian masyarakat Indonesia yang muslim, uang hasil khitanan dipakai untuk sepeda BMX. Memori masa lalu ini menggerakkan orang untuk kembali membeli sepeda legendaris, bahkan ada beberapa yang juga mengoleksi BMX.

Salah seorang yang kini tengah gandrung mengoleksi BMX adalah Anton Mulyana, warga Kota Bandung, Jabar. Anton mengaku ingin bernostalgia dengan BMX. Di garasi rumah tersimpan puluhan BMX.


Anton merupakan kolektor mobil antik. Namanya sudah tersohor kalau ngomongin soal mobil antik. Anton dulu sempat menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) selama enam tahun. Awal tahun ini, jiwa muda Anton bergejolak. Menginginkan memori saat masih berseragam SMA terulang. Ia pun bergerak memburu BMX.

"Sekarang sudah ada sekitar 30 sepeda BMX. Kalau untuk brand ada sepuluhan, mayoritas dari Amerika," kaya Anton saat berbincang dengan detikJabar di kediamannya, Minggu (31/7/2022).

Garasi rumah Anton penuh dengan BMX, vespa klasik dan lainnya. Ada yang digantung. Ada pula yang dijejerkan dengan motor vespanya.

Pria berusia 38 tahun itu mengaku tergerak mengoleksi BMX karena ingatan masa lalunya. Tangan kiri Anton sempat alami patah tulang karena freestyle menggunakan BMX. Ia ingin mencicipi kembali adrenalin yang serupa saat masih muda.

"Patah, dirawat di rumah sakit tiga hari. Saya menjalani operasi di rumah sakit," tutur Anton.

Sudah puluhan tahun Anton vakum. Setelah patah tulang, Anton tak pernah lagi menyentuh BMX. Pelan-pelan ia mulai aktif, menjaga kebugaran, melatih freestyle BMX dan lainnya.

Mengutip novel karya Eka Kurniawan, 'Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas', itulah yang saat ini Anton lakukan pada BMX. Tangannya yang sudah normal, materi yang lebih untuk bisa membeli puluhan sepeda BMX dan lainnya. Sebab, saat muda dulu, Anton tak mampu membeli sepeda BMX.

"Balas dendam. Dulu nggak bisa beli. Soalnya mahal. Sekarang ada (uang) lebih. Kita gaspol semaksimal punya budget," ucap Anton.

Pinjam Sepeda Teman

Anton satu dari sekian orang yang berhasil membalaskan rindunya terhadap memori dan keinginan pada masa lalu. Sebelum berhasil mengoleksi sepeda BMX, saat masih muda Anton hanya bisa meminjam.

Anton pun masih mengingat saat ia terjatuh hingga tangannya patah. Kala itu tahun 2001, tepat saat tragedi serangan World Trade Center (WTC), Amerika Serikat pada 11 September.

"Saya bangun dari rumah sakit itu berita ramai soal WTC. Nah, saya ingat waktu itu saya minjam BMX teman," kata Anton.

Namun, Anton tak begitu mengingat merek sepeda yang ia gunakan saat terjatuh. Ia kini masih mencari dan mengingat sepeda tersebut.

"Saya masih ingat-ingat. Kalau ada, saya pasti buru," kata Anton.

Anton kini memiliki sekitar 30 BMX tua atau klasik. Beberapa di antaranya ada yang keluaran tahun 1981. Harganya pun bervariasi, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

(sud/mso)