Deretan Inovator Lokal Asal Jabar yang Produknya Bikin Gempar!

Tim detikJabar - detikJabar
Minggu, 15 Mei 2022 15:58 WIB
Kompilasi inovator Jabar dan alat yang mereka ciptakan
Kompilasi inovator Jabar dan alat yang mereka ciptakan (Foto: Kompilasi detikJabar)
Bandung -

Masyarakat di Jawa Barat (Jabar) dalam beberapa tahun terakhir sempat menggemparkan publik. Bukan karena sensasi, melainkan karena inovasi. Dari mulai yang memanfaatkan teknologi untuk hadapi pandemi, hingga pembuatan helikopter.

Berikut rangkuman detikJabar tentang empat tokoh di Jabar yang memunculkan gagasan inovatif :

1. Simon Sanjaya

Penyebaran virus Corona begitu masif di Indonesia. COVID-19 varian Delta disebut jadi penyebabnya karena memiliki tingkat penularan 97 persen lebih tinggi dibandingkan varian aslinya.


Hal itu menginspirasi warga Kota Bandung, Simon Yudistra Sanjaya (57), untuk membuat kabin terapi perawatan pasien COVID-19 yang dinamainya 'Kabin Pasien Delta'.

"Jadi Kabin Pasien Delta ini dibuat untuk mencegah penularan virus Corona Delta dari pasien kepada tenaga medis, juga kepada keluarga yang menjenguk. Sekarang banyak nakes yang wafat, ini bahaya kalau dibiarkan. Pelemahan layanan fasilitas kesehatan kalau makin lemah, nanti makin banyak pasien COVID yang wafat," ujar Simon saat ditemui detikcom, Jumat (30/7/2021).

Cara kerjanya, pasien yang terkonfirmasi COVID-19 dimasukkan ke dalam kabin tersebut. Di dalamnya pasien bisa menghirup udara yang telah dimurnikan dengan teknologi HEPA Filter.

"Di dalamnya ada pemurni udara anti virus yang menyedot udara di dalam kabin, lalu udara yang telah disedot akan disinari oleh ultraviolet, nanti virus dimatikan di dalam sana, lalu udara tersebut dikeluarkan lewat HEPA Filter 0,1 mikron, udara yang ke luar sudah steril," katanya.

Varian Delta disebut memiliki tingkat penularan 97% lebih tinggi. Hal itu menginspirasi warga Kota Bandung, Simon Yudistra Sanjaya (57) untuk membuat kabin terapi.Varian Delta disebut memiliki tingkat penularan 97% lebih tinggi. Hal itu menginspirasi warga Kota Bandung, Simon Yudistra Sanjaya (57) untuk membuat kabin terapi. Foto: Yudha Maulana

Dimensi dari kabin tersebut kurang lebih 180 x 120 centimeter. Kabin tersebut memiliki dinding dari kaca transparan dan satu akses masuk. Simon juga menambahkan sejumlah fitur dalam Kabin Pasien Delta rancangannya.

"Di dalamnya ada 15 sarana untuk pasien mulai dari meja makan, televisi, wastafel mini untuk buang dahak, sikat gigi, ada juga saluran untuk buang air kecil dan air besar, kemudian semprotan untuk membersihkannya," kata Simon.

"Ada juga untuk bilas, lalu ada untuk menyimpan baju, untuk menyimpan laptop, kantong plastik sampah, ada juga tempat mengecas hape, dan ada interkom yang paling penting, sehingga pasien bisa berkomunikasi dengan keluarganya yang menjenguk," lanjut Simon.

Kabin itu juga dilengkapi dengan kamera CCTV, sehingga dokter bisa memantau kondisi pasien COVID-19 secara real time. Penerapan Kabin Pasien Delta ini salah satunya digunakan di Pasar Andir, Kota Bandung.

"Jadi saya kenal dengan pemilik Pasar Andir. Beliau ketika itu setelah PSBB tahun lalu mau buka, diharuskan ada fasilitas ruang isolasi. Staf beliau memberi tahu saya. Saya pikir semacam uji coba saya kasih pinjam jadi taruh di sini, oleh karena itu Pasar Andir pernah mendapatkan predikat pasar paling siap menghadapi COVID-19," katanya.

Selain Kabin Pasien Delta, Simon juga menciptakan pemurni udara dan juga Baju Vitamin D yang ditujukan untuk membantu penanganan COVID-19 di Indonesia, khususnya di Kota Bandung.

Simon Yudistra Sanjaya (57) menciptakan produk untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Salah satunya adalah alat pemurni udara anti virus dan baju vitamin D.Simon Yudistra Sanjaya (57) menciptakan produk untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Salah satunya adalah alat pemurni udara anti virus dan baju vitamin D. Foto: Yudha Maulana/Detikcom

Ide-ide dan produk yang dicetuskannya ini pernah dikirimkan kepada Presiden Joko Widodo, Gubernur Jabar Ridwan Kamil, dan Kementerian Kesehatan tetapi belum mendapatkan respon apapun. "Tidak ada yang memberikan respon," tuturnya.

Filter COVID-19

Dikurung oleh pandemi COVID-19 tak menyurutkan tekad Simon Yudistra Sanjaya (57) untuk terus berkreasi. Warga Kota Bandung ini sedikitnya melahirkan lima produk yang berbeda yang tujuannya untuk mengendalikan penyebaran COVID-19.

Salah satu produk terbaru yang dibidani Simon, ialah alat pemurni udara anti virus dan baju vitamin D. Semua produk-produk itu ia ciptakan dan rangkai sendiri di dalam bengkel rukonya di Plaza Rajawali, Bandung.

Simon mengklaim alat pemurni udara anti virus yang ia ciptakan bisa membunuh bakteri, termasuk partikel COVID-19. Alat yang memiliki tinggi seukuran dada orang dewasa itu dilengkapi dengan lampu ultra violet, exhaust fan dan Hepa Filter 0,1 Mikron.

"Bisa membunuh bakteri dan virus termasuk COVID-19, bisa membuat udara steril, mengusir nyamuk dan menghilangkan bau tidak sedap. Keluar udaranya sudah steril seperti di gunung. Ini kualitasnya karena memakai HEPA Filter 1,0 mikron, itu sama seperti ruang isolasi di rumah sakit," ujar Simon kepada detikcom, Senin (12/7/2021).

Ide membuat alat pemurni udara ini, tutur Simon, berasal dari produk yang ia ciptakan sebelumnya pada tahun 2015. Kala itu, ia membuat pemurni udara dan penghilang bau untuk tempat penyimpanan sampah di bank sampah yang dikelolanya.

"Istri saya mengeluh, bau dan nanti banyak kuman katanya. Saya bikin penjernih udara itu Oktober 2015. Alat ini juga pernah dipamerkan di Balai Kota Bandung. Sesudah itu waktu awal COVID-19," katanya.

Simon Yudistra Sanjaya (57) menciptakan produk untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Salah satunya adalah alat pemurni udara anti virus dan baju vitamin D.Simon Yudistra Sanjaya (57) menciptakan produk untuk mengendalikan penyebaran COVID-19. Salah satunya adalah alat pemurni udara anti virus dan baju vitamin D. Foto: Yudha Maulana/Detikcom

Ia pun pernah menyurati Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil terkait alat pemurni udara yang ia ciptakan, tetapi sayangnya tak pernah ada respon dari sekarang. "Di awal COVID-19, bulan Mei tahun lalu saya kirim surat ke gubernur dan pak presiden, tapi tidak ada respons hingga sekarang," katanya.

Meski belum melakukan uji klinis dari lembaga yang bersangkutan, Simon mengatakan alat yang dibuatnya ini pernah diujicobakan di pernikahan anaknya di sebuah hotel di Bandung. "Saya pasang empat alat ini, testimoninya udaranya segar seperti di gunung," katanya.

"Saat itu ada tiga orang undangan dari Jakarta yang baru ketahuan COVID-19, setelah dites di tempat kerjanya. Nah saat itu saya monitoring terus undangan yang lain, ternyata tidak ada yang terkonfirmasi setelah intens yang cek selama beberapa hari," ujarnya melanjutkan.

2. Aryanto Misel

Aryanto Misel (67), warga Kabupaten Cirebon, Jawa Barat membuat alat pengonversi air menjadi hidrogen yang bisa digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan bermotor. Alat tersebut ia beri nama Nikuba, akronim dari Niku Banyu atau dalam bahasa Cirebon berarti itu air.

Namun, siapa sangka jika Aryanto, pembuat alat Nikuba itu hanya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Warga Lemahabang Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon itu mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan hingga ke tingkat perguruan tinggi.

"Otodidak aja saya. Karena memang saya sudah menyukai bidang kimia ini sejak masih SMP. Yang penting kita mau belajar tentang hal-hal begini. Kita harus tau tentang unsur, sifat dan karakternya," kata Aryanto saat berbincang dengan detikJabar, baru-baru ini.

Karena kesukaannya terhadap bidang kimia, Aryanto pun telah membuat beberapa karya. Salah satunya adalah Nikuba. Sepintas, alat buatan Aryanto ini terlihat seperti mesin pompa air namun ukurannya lebih kecil.

Aryanto Misel, pencipta Nikuba.Aryanto Misel, pencipta Nikuba. Foto: Ony Syahroni

Ia kemudian menjelaskan cara kerja alat buatannya itu. Menurut Aryanto, Nikuba ini berfungsi memisahkan antara Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2) yang terkandung di dalam Air (H2O) yang telah dimasukkan ke dalam alat tersebut.

"Alat ini bisa menghasilkan Hidrogen yang berasal dari Air. Namun Air yang digunakan adalah air yang sudah tidak mengandung logam berat. Air yang dimasukan ke dalam alat ini akan dielektrolisis. Air ini nantinya akan terpecah menjadi Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2)," kata dia.

"Hidrogen (H2) ini nantinya akan dialirkan ke ruang pembakaran mesin kendaraan. Sementara Oksigen (O2)nya akan dielektrolisis lagi agar menjadi Hidrogen untuk kembali dialirkan ke ruang pembakaran mesin kendaraan," ucap Aryanto.

Untuk sekitar 1 Liter air yang dimasukkan ke dalam Nikuba diklaim mampu menempuh perjalanan dari Cirebon ke Semarang, pulang pergi.

Sejauh ini, alat buatan Aryanto telah dipasang di 30 unit motor dinas milik TNI dari Kodam III Siliwangi. Terbaru, alat tersebut juga dipasang di satu unit motor dinas milik TNI dari Koramil Lemahabang.

Aryanto mengaku membutuhkan waktu hingga 5 tahun dalam proses pembuatan alat yang bisa mengonversi Air menjadi Hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan bermotor.

Saat ini, Aryanto sendri mengaku sedang mengusulkan hak paten atas alat buatannya itu. Satu unit Nikuba, Aryanto membanderolnya dengan harga Rp 4,5 juta.

APAR Kulit Singkong

Aryanto menciptakan sebuah alat pemadam api ringan (APAR). Yang unik, APAR ini terbuat dari bahan baku berupa kulit singkong.

Menurut Aryanto, pada kulit singkong terdapat kandungan potasium sitrat yang bisa sangat efektif memadamkan api. Bahkan, Aryanto menyebut alat pemadam api yang ia buat dari bahan kulit singkong ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan alat pemadam api jenis gas halon.

Selain aman untuk kesehatan dan lingkungan, alat pemadam api yang ia buat diklaim lebih efektif memadamkan api. Baik ketika di dalam ruangan maupun di ruang terbuka.

"Keunggulan alat pemadam api dari kulit singkong ini adalah bisa memutus mata rantai reaksi pembakaran dan residunya juga bisa dijadikan sebagai pupuk untuk tanaman," kata Aryanto kepada detikJabar belum lama ini.

Apar dari kulit singkong buatan Aryanto Misel.Apar dari kulit singkong buatan Aryanto Misel. Foto: Ony Syahroni/detikJabar

Alat pemadam api berbahan kulit singkong yang dibuat Aryanto memiliki dua model. Yang pertama model tabung dan yang berbentuk bulat seperti bola.

Untuk alat pemadam api model tabung dengan berat 1 Kg, Aryanto membanderolnya dengan harga Rp 150 ribu. Sementara alat pemadam api berbentuk bulat ia jual Rp 225 ribu.

3. Ujang Elan Kusmana

Ujang Elan Kusmana (42), pemilik bengkel di Desa Hegarmanah, Kecamatan Sukaluyu, Kabupaten Cianjur berhasil membuat pesawat terbang rakitan. Pesawat itu berjenis Short Take-Off and Landing (STOL).
Pria yang akrab disapa Leo ini, membuat pesawat sekadar untuk menyalurkan hobinya pada dunia electro dan otomotif. Ia mengaku pesawat yang kini dipajang di samping bengkelnya itu merupakan pesawat ketiga yang dibuatnya. Sebelumnya, ia membuat helikopter, namun gagal terbang.

Selanjutnya, ia membuat pesawat gantole bermotor dan berhasil terbang selama beberapa detik dengan jarak terbang ratusan meter.

"Yang pertama bikin helikopter gagal, tapi yang kedua bikin gantole bermesin sukses. Yang ketiga saya bikin pesawat yang sekarang masih disempurnakan ini," kata dia saat ditemui di bengkelnya di Jalan Raya Bandung, Kabupaten Cianjur, Senin (4/4/2022).

11 Tempat Paling Favorit Buat Ngabuburit di Bandung
Pria kelahiran Ciamis ini mengaku model pesawat yang dibuatnya kali ini terinspirasi pesawat yang dilihatnya di salah satu hanggar. Pasalnya, usai sukses membuat dan menerbangkan pesawat keduanya, Ia diundang Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (Fasida) untuk diajari menerbangkan pesawat.

"Dari situ saya belajar lagi merakit pesawat ketiga. Untuk model dan perhitungan daya angkat hingga tenaga mesin saya belajar dari buku serta internet. Dibantu dua orang pegawai saya di bengkel, akhirnya pesawat ini bisa selesai," ungkapnya.

Penampakan pesawat yang pernah dibuat Ujang Elan Kusmana (42) warga CianjurPenampakan pesawat yang pernah dibuat Ujang Elan Kusmana (42) warga Cianjur Foto: istimewa

Dia menjelaskan jika pesawat rakitan dengan panjang 5,2 meter lebar sayap sepanjang 8,05 meter itu menggunakan dua mesin sepeda motor Suzuki RGR 150 CC yang juga dirakit menjadi satu tenaga putaran mesin atau tepatnya baling-baling.

Rangka pesawat terbuat dari pipa ringan, sedangkan bagian sayapnua terbuat dari kain khusus yang sudah dilapisi cairan pernis untuk membuat kainnyan kuat namun tetap fleksible. Pesawat berwana putih ini hanya memiliki satu buah kursi untuk pilot, dengan tuas pengendali di depan tempat duduknya.

Leo mengungkapkan jika pesawat ketiganya ini belum pernah diuji terbang. Namun berkaca dari kesuksesannya pada pesawat kedua, dirinya yakin pesawatnya ini bisa terbang dengan waktu yang lama.

"Kita kemarin sudah komunikasi sama Fasida, katanya untuk pesawat ketiga saya ini mau dicek dulu sebelum diperbolehkan uji terbang. Tapi sampai sekarang belum datang. Kalau memang tidak kunjung datang, saya akan coba sendiri saja tapi cari tempat yang aman tanpa membahayakan masyarakat.

"Sambil nunggu dari Fasida, saya akan sempurnakan dulu pesawat rakitan ini. Mau datang atau tidak dari Fasidanya nanti, saya akan uji coba sendiri untuk terbang," pungkasnya.

Uji Coba

Pesawat rakitan itu rencananya diuji coba terbang dalam waktu dekat. Pria yang akrab disapa Leo ini sedang melakukan survey dan mengecek lokasi yang akan dijadikan landasan uji coba terbang pesawat rakitannya.

"Hari ini saya sedang cek lokasi untuk runway atau landasannya," kata dia, Selasa (9/5/2022).

Menurut Leo, pesawat terbang rakitannya akan diuji coba terbang di lapangan terbuka di kawasan Cidamar, Kecamatan Cidaun. "Rencananya di dekat kawasan Pantai Cemara," ungkap dia.

Jika landasan dirasa sudah cukup dan layak, ia segera membawa pesawat rakitannya dari bengkelnya di Sukaluyu menuju Cidaun.

Leo menambahkan dirinya juga tengah menyiapkan anghang atau derekan untuk membawa pesawat rakitannya itu.

"Kalau pesawatnya sudah siap diuji terbang. Tinggal beresin anghangnya, terus selesaikan cek lokasi runway-nya. Segera saya akan uji coba terbang," pungkasnya.

4. Jujun Junaedi

Jujun Junaedi (45) warga Kampung Cibubuay Rt 03 RW 01 Desa Darmareja, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi merakit sebuah helikopter bermesin Genset atau generator set berkekuatan 24 PK. Apakah bisa terbang?

Ditemui detikcom, pria yang sehari-harinya bekerja di salah satu bengkel bubut ini meyakini helikopter buatannya itu bisa mengudara. Jujun juga menargetkan akhir tahun 2019 atau awal tahun 2020 ini helikopter buatannya bisa terbang.

"Mudah-mudahan enggak meleset akhir tahun atau awal tahun depan tinggal uji terbang, tinggal menyisakan beberapa minggu lagi pengerjaan tinggal pasang baling-baling utama," ungkap Jujun, Senin (4/11/2019).

Jujun memulai pembuatan helikopter miliknya sejak Agustus 2018 silam, ia merogoh kocek sendiri untuk komponen hingga mesin, semua ia kerjakan sendiri. Total ia sudah menghabiskan uang sebesar Rp 30 juta, setengahnya habis untuk mesin seharga Rp 16 juta.

"Sampai saat ini dikerjakan sendiri memanfaatkan waktu luang, perakitan, penggunaan hidrolik dan lain-lain untuk mesin harus benar-benar buatan pabrik. Total sekitar Rp 30 jutaan, itu belum dengan pengecatan ya perkiraan sampai terbang habis segitu," lanjutnya.

Seorang tukang bubut asal Sukabumi membuat heboh. Ia membuat helikopter di halaman rumahnya sendiri dengan bermodalkan uang Rp 30 juta dan keahliannya tentang mesin. Jujun juga mengaku dapat referensi dari aplikasi berbagi video Youtube.Seorang tukang bubut asal Sukabumi membuat heboh. Ia membuat helikopter di halaman rumahnya sendiri dengan bermodalkan uang Rp 30 juta dan keahliannya tentang mesin. Jujun juga mengaku dapat referensi dari aplikasi berbagi video Youtube. Foto: Syahdan Alamsyah

Untuk mesin penggerak ia menggunakan genset dengan kapasitas sebesar 24 PK 700 Cc 2 silinder dengan bahan bakar premium 4 liter per jam. Menurut Jujun mesin seharga Rp 16 juta itu menyesuaikan dengan koceknya.

Helikopter itu ia kerjakan sendiri di halaman rumahnya. Helikopter itu berukuran lebar 1,4 meter, tinggi 2,5 meter dan panjang dari bagian kokpit hingga ke ekor sekitar 8 meter. Rencananya nanti baling-baling akan berukuran panjang 8 meter dan bagian belakang 2 meter.

"Mesin spek seharga Rp 16 juta benar-benar buatan pabrik. Ada yang lebih mahal sekitar Rp 40 juta tapi spek nya sama, jadi harga Rp 16 juta itu hasil menyisihkan sendiri selama kerja," ungkapnya.

Helikopter Jujun dinamai Gardes JN 77. Gardes sendiri merupakan kependekan dari Garuda Desa, Kode JN merupakan inisial namanya dan 77 adalah tahun lahir Jujun. Ia berharap helikopter buatannya bisa mengudara sesuai harapan.

Kabar Terbaru

Jujun ternyata kini sudah memiliki bengkel bubut sendiri. Bengkel bubut itu beralamat di Karangtengah, Cibadak. Diketahui sebelumnya, Jujun dulu bekerja di bengkel bubut milik orang lain. Ditanya soal helikopter Jujun mengaku belum menyerah dan tetap akan mewujudkan helikopter tersebut.

"Helikopter, sesuai rencana dan kajian, kita break dulu. Kalau dulu pembuatan sparepart atau assembling-nya kita ngandelin di orang, nyewa atau waktunya terhalang kita kerja baru bisa dikerjakan saat istirahat. Kalau sekarang waktunya lebih leluasa karena punya bengkel sendiri," kata Jujun, Jumat (17/12/2021).

Alasan 'jeda', menurut Jujun, sebab dirinya ingin fokus kepada kebutuhan keluarga. Ia lebih dulu menghidupi kebutuhan keluarga dari bengkelnya sendiri. Ketika dirasa kehidupan keluarganya sudah mapan, dia akan kembali melanjutkan pekerjaannya membangun helikopter yang dulu bernama Gardes JN 77.

"Sesuai karakter saya belum menyerah. Kurang itu kalau dulu pembuatan alatnya, seperti mesin, bubutnya, harus punya sendiri dan punya waktu yang luang. Nah, kalau alat sudah ada, mesin bubut ada dua tinggal melanjutkan. Namun saat ini saya memilih mengerjakan helikopter itu kalau dapur sudah mapan, karena kita punya anak sekolah. Kebutuhan keluarga akhirnya tidak langsung lanjut (membuat helikopter)," kata Jujun.

Jujun mengaku dulu hambatan utamanya adalah peralatan dan waktu luang. Kini dengan memiliki bengkel sendiri, dia punya peralatan dan waktu yang lebih banyak, namun Jujun tidak memungkiri daya kreativitasnya harus terhenti lebih dulu untuk mengejar kebutuhan keluarga.

"Alhamdulillah sekarang sudah berjalan 10 bulan punya bengkel sendiri. Jadi, untuk ke depan, helikopter bisa dilanjutkan dengan alat yang kita punya sendiri, dengan waktu luang yang banyak. Ada ketenangan, ada waktu lebih maksimal, satu catatan kenapa tidak dilanjut? Karena bengkel baru 10 bulan jadi, saya tidak langsung ngerjain heli lagi kalau sudah keluarga seperti ini kan harus perhitungan juga," tutur Jujun.

(sud/yum)