Kasus dugaan penganiayaan di Padepokan Al Baathin Al Waliyy, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, akhirnya menyingkap tabir keresahan mendalam yang selama ini dipendam warga Pajampangan.
Di balik insiden pemukulan yang berujung penetapan dua orang tersangka itu, tersimpan polemik panjang soal pamer klaim kesaktian ilmu laduni di media sosial yang kerap memancing kegaduhan publik.
Berdasarkan penelusuran detikJabar di akun media sosial padepokan tersebut maupun kanal pribadi Tabib Jalil Jampang, mereka kerap memamerkan demonstrasi bela diri batin tanpa sentuhan fisik atau ilmu kontak.
Dalam video-video atraksinya, komando kata "Rapet!" menjadi ciri khas utama yang dilontarkan pengasuh padepokan. Kata tersebut dipakai sebagai sugesti batin agar penantang atau penyerang seketika kaku, menempel di tempat, dan membeku bak patung saat melayangkan serangan.
Tak cuma kata "Rapet!", sejumlah istilah lain juga kerap diteriakkan saat sesi pembuktian atau tester, seperti kata "Mental!" untuk memantulkan lawan ke belakang hingga "Lemes!" guna melucuti tenaga lawan secara instan.
Aksi teatrikal dengan bentakan tegas itu rutin diproduksi untuk meyakinkan publik di jagat maya seputar keampuhan ilmu yang mereka klaim bersumber dari karomah Sunan Kalijaga.
Namun, gaya pamer kesaktian di ruang digital ini memicu kegeraman masyarakat lokal. Tokoh masyarakat Jampang, Yudi Pratama atau yang karib disapa Si Peci Bereum ti Jampang, mengungkapkan bahwa kedatangan dua perwakilan tamu, Ustaz Iskandar Abdul Jabar dan rekannya, ke padepokan awalnya adalah langkah tabayun murni atas nama warga yang resah.
"Keresahan warga itu pertama karena perguruan tersebut sering menantang orang lain untuk pembuktian di ruang publik. Dia punya akun Facebook, punya TikTok, selalu menantang dan seolah-olah perguruannya paling benar, ilmu karomah, ilmu laduni, sementara yang lain dianggap jelek," kata Yudi saat dihubungi detikJabar, Selasa (27/10/2026).
Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
(sya/mso)