Arogansi di Padepokan Sukabumi: Dari 'Rapet' ke Penjara

Arogansi di Padepokan Sukabumi: Dari 'Rapet' ke Penjara

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Selasa, 27 Okt 2026 12:35 WIB
Yudi Pratama (Kopiah Merah) saat meredam kegaduhan warga di Pajampangan
Yudi Pratama (Kopiah Merah) saat meredam kegaduhan warga di Pajampangan (Foto: Istimewa).
Sukabumi -

Kasus dugaan penganiayaan di Padepokan Al Baathin Al Waliyy, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, akhirnya menyingkap tabir keresahan mendalam yang selama ini dipendam warga Pajampangan.

Di balik insiden pemukulan yang berujung penetapan dua orang tersangka itu, tersimpan polemik panjang soal pamer klaim kesaktian ilmu laduni di media sosial yang kerap memancing kegaduhan publik.

Berdasarkan penelusuran detikJabar di akun media sosial padepokan tersebut maupun kanal pribadi Tabib Jalil Jampang, mereka kerap memamerkan demonstrasi bela diri batin tanpa sentuhan fisik atau ilmu kontak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam video-video atraksinya, komando kata "Rapet!" menjadi ciri khas utama yang dilontarkan pengasuh padepokan. Kata tersebut dipakai sebagai sugesti batin agar penantang atau penyerang seketika kaku, menempel di tempat, dan membeku bak patung saat melayangkan serangan.

ADVERTISEMENT

Tak cuma kata "Rapet!", sejumlah istilah lain juga kerap diteriakkan saat sesi pembuktian atau tester, seperti kata "Mental!" untuk memantulkan lawan ke belakang hingga "Lemes!" guna melucuti tenaga lawan secara instan.

Aksi teatrikal dengan bentakan tegas itu rutin diproduksi untuk meyakinkan publik di jagat maya seputar keampuhan ilmu yang mereka klaim bersumber dari karomah Sunan Kalijaga.

Namun, gaya pamer kesaktian di ruang digital ini memicu kegeraman masyarakat lokal. Tokoh masyarakat Jampang, Yudi Pratama atau yang karib disapa Si Peci Bereum ti Jampang, mengungkapkan bahwa kedatangan dua perwakilan tamu, Ustaz Iskandar Abdul Jabar dan rekannya, ke padepokan awalnya adalah langkah tabayun murni atas nama warga yang resah.

"Keresahan warga itu pertama karena perguruan tersebut sering menantang orang lain untuk pembuktian di ruang publik. Dia punya akun Facebook, punya TikTok, selalu menantang dan seolah-olah perguruannya paling benar, ilmu karomah, ilmu laduni, sementara yang lain dianggap jelek," kata Yudi saat dihubungi detikJabar, Selasa (27/10/2026).

Keresahan kian meruncing di kalangan ulama, kiai, dan santri setempat lantaran klaim ilmu laduni tersebut justru dikomersialkan. Padahal, secara syariat Islam, ilmu laduni merupakan anugerah khusus dari Sang Pencipta yang tidak bisa diperjualbelikan dengan materi.

"Masyarakat, khususnya para kiai dan santri resah karena mereka mencatut nama laduni, tapi laduninya bisa dibayar pakai uang. Per tingkatan itu maharnya sampai Rp 1,5 juta. Kalau laduni menurut syariat Islam itu kan anugerah khusus yang Allah berikan kepada orang-orang pilihan, bukan siapa saja boleh asal punya duit," tutur Yudi membeberkan.

Puncaknya, masyarakat mengutus perwakilan untuk bersilaturahmi, berdialog, sekaligus mengonfirmasi langsung kebenaran klaim ilmu batin dan seruan "rapet" yang viral di medsos. Namun, niat musyawarah itu justru disambut arogansi hingga berujung aksi penamparan dan pengeroyokan di ruang tengah padepokan.

Yudi pun mengapresiasi langkah tegas dan cepat jajaran Satreskrim Polres Sukabumi yang langsung meringkus para pelaku sebelum memicu amuk massa yang lebih luas.

"Alhamdulillah kami warga masyarakat Jampang sangat mengapresiasi kinerja kepolisian yang luar biasa cepat, belum 1x24 jam pelaku sudah diamankan ke polres. Polisi sangat cepat tanggap dan situasional melihat masyarakat memang sudah sangat geram," pungkas Yudi.

Sebelumnya, Satreskrim Polres Sukabumi resmi menetapkan dua orang dari pihak padepokan berinisial JMI dan AY sebagai tersangka kasus dugaan kekerasan fisik usai video amatir penganiayaan tersebut viral di media sosial. Keduanya kini telah diamankan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Menikmati Kesegaran Kelapa Pasca Berenang di Sukabumi"
[Gambas:Video 20detik] (sya/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads