Riuh knalpot bising dan bayang-bayang senjata tajam (sajam) yang kerap menghantui jalanan Kabupaten Bandung kini berganti dengan suasana disiplin. Sebanyak 11 remaja yang tergabung dalam kelompok motor meresahkan berhasil diamankan pihak kepolisian. Langkah ini diambil bukan sekadar sebagai penegakan hukum, melainkan upaya penyelamatan masa depan para pelajar tersebut.
Kapolresta Bandung Kombes Tri Suhartanto mengungkapkan bahwa penindakan ini bermula dari keresahan masyarakat yang melaporkan aktivitas kelompok motor remaja tersebut. Saat diamankan, polisi menemukan fakta yang mengkhawatirkan, beberapa di antaranya kedapatan membawa senjata tajam.
"Iya jadi ini berdasarkan informasi dari masyarakat, banyaknya anak-anak remaja yang melaksanakan aksi-aksi kelompok motor ya. Kita melaksanakan kegiatan-kegiatan, patroli. Alhamdulillah kita mengamankan mereka yang membawa sajam ya," ujar Tri kepada awak media di Mapolresta Bandung, Soreang, Selasa (20/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tri menegaskan bahwa membawa senjata tajam di ruang publik bukan lagi perkara sepele. Hal tersebut sudah mengarah pada potensi tindak pidana yang mengancam keselamatan warga maupun para remaja itu sendiri.
"Nah, dengan mereka membawa sajam-sajam, kita mengindikasikan bahwa mereka akan melakukan aksi-aksi," katanya.
Alih-alih langsung memulangkan mereka tanpa efek jera, Tri memilih jalan pembinaan. Ia khawatir jika dilepaskan begitu saja tanpa pendampingan, perilaku menyimpang tersebut akan terus berulang dan semakin membahayakan.
"Maka dari itu kita melakukan pengamanan, tapi kalau kita kembalikan, kita pulangkan, akhirnya mereka akan seperti itu terus," jelasnya.
Pihak kepolisian pun bergerak cepat dengan merangkul orang tua para remaja tersebut. Koordinasi ini dilakukan agar pihak keluarga memahami bahwa anak-anak mereka membutuhkan pembinaan karakter yang lebih intensif di bawah pengawasan kepolisian.
"Maka kemarin kita hubungi pihak keluarganya dan kita meminta pihak keluarga untuk memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa memberikan pembelajaran buat mereka, bisa memberikan efek jera kepada mereka," bebernya.
Bagi Tri, fenomena ini sudah melewati batas kewajaran. Keberadaan senjata tajam di tangan pelajar adalah sinyal bahaya yang harus segera diputus rantainya.
"Karena mereka sudah membawa barang ya, yang bisa saja melukai orang lain atau bahkan mereka bisa menjadi korban. Untuk menghentikan-menghentikan itu kita harus bisa memberikan efek jera kepada mereka. Ini ingat, ini bukan lagi kenakalan remaja, ini sudah bisa menjadi suatu tindak pidana ya," kata Tri.
Saat ini, 11 remaja yang terdiri dari siswa SMP hingga SMA tersebut menjalani hari-hari mereka di Mapolresta Bandung dengan jadwal yang ketat. Meski dibina, polisi memastikan hak-hak mereka sebagai pelajar tetap terpenuhi.
"Nah, pembinaan yang dilakukan, tetap hak-hak mereka sebagai siswa tetap kita ke depankan," bebernya.
Setiap harinya, para remaja ini diajarkan kedisiplinan sejak dini hari. Rutinitas mereka dimulai pukul 04.00 WIB untuk beribadah dan memperbaiki karakter melalui pendekatan spiritual serta fisik.
"Jadi pagi-pagi, mereka sudah salat subuh ya. Jadi jam 04.00 WIB mereka sudah bangun, salat subuh, mereka ngaji sampai jam pagi, kemudian setelah itu melaksanakan kegiatan olahraga pagi, bersih-bersih, kemudian sebelum makan pagi, mereka olahraga," kata Tri.
Tak hanya urusan fisik dan mental, aspek akademis tetap menjadi prioritas. Dari pukul 10.00 hingga 15.00 WIB, mereka diwajibkan belajar dengan membawa buku pelajaran masing-masing di bawah pengawasan anggota kepolisian.
"Setelah olahraga, jam 10.00 WIB mereka belajar sampai jam tiga sore, dengan diawasi dari anggota. Jadi belajar, mereka membawa buku pelajaran yang mereka pelajari sampai dengan jam tiga sore," tambahnya.
Usai belajar, kegiatan dilanjutkan dengan salat berjamaah dan pengajian bersama anggota kepolisian di masjid hingga waktu Isya. Tri berharap, melalui langkah nyata ini, 11 siswa tersebut tidak kehilangan arah dan bisa kembali ke jalan yang benar.
"Mereka semuanya yang sudah kita amankan ada sebanyak 11 siswa," ucapnya.
Tri menekankan bahwa para remaja ini adalah aset bangsa yang masih memiliki peluang besar untuk sukses jika dibimbing dengan tepat.
"Mereka adalah masa depan yang mempunyai masa depan yang sangat luar biasa, harus menjadi generasi-generasi emas penerus bangsa," pungkasnya.
