Round Up

Tragedi Berdarah KM Cahaya Mutiara di Samudera Hindia

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 16 Okt 2026 08:30 WIB
Olah TKP Penikaman Maut ABK (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)
Sukabumi -

Geladak kapal penangkap ikan KM Cahaya Mutiara mendadak berubah menjadi arena perkelahian maut di tengah laut lepas Samudera Hindia.

Dua orang anak buah kapal (ABK) dilaporkan meregang nyawa usai terlibat bentrokan berdarah dengan sesama rekan kerja saat kapal tengah berburu cakalang.

Tragedi mengerikan yang terjadi di perairan lepas itu memaksa kapal kayu berukuran besar tersebut memutar haluan dan bersandar darurat di perairan Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi.

Aparat kepolisian bergerak cepat menyergap kapal di Teluk Palabuhanratu dan mengamankan seorang terduga pelaku bernama Pandu yang berdalih aksinya dipicu duel dua lawan satu saat ia terdesak diserang senjata tajam dan rantai besi.

Insiden maut tersebut bermula pada pagi hari saat para ABK sedang disibukkan dengan aktivitas rutin menarik jaring dan menyortir ikan hasil tangkapan.

Sebelum bentrokan fisik pecah di area geladak, perselisihan sempat terjadi antarsesama awak kapal. Saksi mata rekan sesama ABK, Kuswandi, menuturkan situasi saat peristiwa bermula di tengah laut lepas.

"Kalau masalah kronologis saya nggak tahu juga, masalahnya pas waktu pada kerja... Itu pas kerja pagi lah. Saat itu kan ABK sebagiannya pada tarik jaring, sebagian pada nyusun ikan. Saya juga lagi nyusun jaring. Pas itu saya lihat korban itu lewat dari jaring mau nyamperin," tutur Kuswandi.

Ketegangan kian memuncak saat salah satu korban bernama Faizal mendatangi pelaku sambil membawa senjata tajam. Kuswandi yang berada di jalur perlintasan sempat berusaha melerai, namun justru nyaris menjadi sasaran amukan.

"Nah itu si yang korban itu, si Faizal itu bawa sajam. Saya sempat megangi, sempat mau melerai, tapi dia malah meronta. Malah ngayunin pisaunya ke saya, ke arah saya, jadi saya menghindarlah daripada saya yang kena juga. Sambil itu dia berkata, 'Pokoknya hari ini dia harus mati'. Ke si pelaku ini," beber Kuswandi.

Tak lama berselang, korban kedua bernama Feri Irawan Siregar ikut menyusul ke arah buritan sembari menenteng rantai besi. Peringatan Kuswandi agar situasi tidak diperkeruh kembali diabaikan.

"Kemudian Faizal lewat dari arah yang lain, terus si Feri ambil rantai. Ambil rantai lewat jaring juga, pas itu ngelewatin saya juga. Saya juga sempat nahanlah, 'Udah lah Fer, kamu nggak usah ikut-ikutan kayak gitu, biarin aja. Orangnya sendiri nggak enak kerja.' Dia malah meronta lagi. Posisi saya masih kerja juga kan, terus dia ke belakang. Dia ke belakang, saya nyelesaiin tugas saya. Saya ingin ke belakang, kira-kira udah kejadian kayak gitu," lanjutnya.

Kuswandi memastikan perkelahian berdarah di area buritan kapal tersebut berlangsung dengan ketimpangan jumlah.

"Feri Irawan Siregar, satu, sama Faizal. Korban meninggal itu Feri Irawan Siregar sama Faizal. Kalau yang nusuk itu Pandu. Pas kejadian itu dua lawan satu," tegasnya.

Begitu kapal bersandar di Teluk Palabuhanratu, aparat kepolisian langsung menggelar pra-rekonstruksi awal di atas kapal. Pelaku bernama Pandu yang mengenakan kaus abu-abu bertuliskan 'Life Short' dengan tangan terikat ke belakang mula-mula menunjukkan pintu kamar kapal.

"Pertama di mana? Pertama di mana?" tanya polisi.

"Pertama di bilik ini, ya," jawab Pandu singkat.

Setelah itu, petugas menggiringnya ke bagian buritan di samping tiang kapal. Sambil duduk setengah jongkok, Pandu memperagakan momen saat dirinya diserang dan terdesak.

"Ngayun, jatuh. Tapi diseruduk begini, Kang. Di dicekik, dicekek, pisaunya. Nah, begitu lepas, nggak tahu ke kapal, pak udah gelap nge-blank," ucap Pandu terbata-bata.

"Nge-blank?" timpal polisi memastikan.

Pelaku mengangguk membenarkan sembari berdiri kembali. Kendati demikian, hingga kini Pandu belum membeberkan secara rinci pemicu awal mengapa kedua korban mendatangi biliknya secara beringas.

Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan adanya peristiwa maut tersebut dan memastikan pihaknya telah mengamankan terduga pelaku serta melakukan sterilisasi tempat kejadian perkara menggunakan garis polisi.

"Benar dua orang korban dilaporkan meninggal dunia dan satu orang terduga pelaku sudah berhasil kami amankan. Anggota masih berada di lokasi untuk melakukan olah TKP, sterilisasi area, sekaligus memintai keterangan saksi-saksi yang mayoritas merupakan ABK KM Cahaya Mutiara," terang Dudi.

Sementara itu, Kasat Polairud Polres Sukabumi AKP Dadi menerangkan peristiwa bentrokan berdarah itu berlangsung di wilayah perairan Samudera Hindia pada akhir 30 September lalu saat kapal tengah mencari ikan, sebelum akhirnya diarahkan menuju Teluk Palabuhanratu untuk proses penjemputan dan evakuasi jasad korban ke RSUD Palabuhanratu.

"Peristiwa keributan ini terjadi di perairan Samudera Hindia, sementara untuk titik penjemputan dan evakuasi berada di perairan Teluk Palabuhanratu. Jasad kedua korban rencana langsung dievakuasi ke RSUD Palabuhanratu. Terkait penanganan TKP di laut lepas, kami juga berkoordinasi dengan Krimum Polda Jabar," pungkas Dadi.

Kapal kayu berukuran besar tempat duel berdarah itu terjadi ternyata bukan armada harian, melainkan kapal penangkap cakalang dan tongkol jenis purse seine yang berlayar berbulan-bulan. Nelayan Palabuhanratu, Iwan, menerangkan kapal sejenis KM Cahaya Mutiara biasanya mengarungi laut lepas dalam durasi sangat lama.

"Kalau perahu model begini biasanya kalau melaut lama, ada yang 9 bulan, ada yang 10 bulan itu. Ada yang sampai setahun ada, tergantung SIKPI-nya kan. Tangkapannya ikan cakalang sama tongkol. Sampai ke Sri Lanka itu perbatasan, bisa masuk ke Sri Lanka," kata Iwan.

Iwan menambahkan, kapal yang diawaki puluhan ABK asal berbagai daerah ini berangkat dari Jakarta dan hanya bersandar darurat di Sukabumi lantaran adanya insiden maut tersebut.

"Mereka berangkat dari Muara Baru, Muara Baru Jakarta. Kalau orangnya campuran, ada yang Pekalongan, ada Padang, campuran lah gitu. Ke sini itu karena lagi ada trouble, anggap trouble lah gitu, jadi ke pelabuhan terdekat," tutup Iwan.



Simak Video "Menginap di Hotel Nyaman di Bandung, Menikmati Liburan "

(sya/dir)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork