Kapal Motor (KM) Cahaya Mutiara mendadak menjadi sorotan usai tragedi berdarah yang menewaskan dua anak buah kapal (ABK) di tengah laut lepas.
Kapal kayu berukuran besar yang kini berlabuh di Teluk Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, itu ternyata bukan sembarang perahu nelayan harian, melainkan armada penangkap ikan jarak jauh yang sanggup menjelajah hingga perbatasan samudera.
Berdasarkan pantauan di lokasi, KM Cahaya Mutiara memiliki lambung kayu kokoh bercat biru dengan lis merah dan putih. Bagian bawah lambungnya tampak berlumut hijau tebal, menandakan kapal ini sudah berbulan-bulan mengarungi perairan asin tanpa sandar ke daratan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puluhan potong pakaian para awak tampak bergelantungan di tali-tali dek atas, sementara pita kuning garis polisi (police line) membentang di sepanjang dek kanan dan buritan tempat duel maut berlangsung.
Nelayan Palabuhanratu, Iwan mengungkapkan kapal sejenis KM Cahaya Mutiara merupakan kapal penangkap ikan cakalang dan tongkol jenis purse seine (pukat cincin) yang biasa berlayar dalam durasi sangat panjang. Sekali bertolak melaut, kapal ini bisa menghabiskan waktu hingga hampir setahun di tengah laut lepas.
"Kalau perahu model begini biasanya melaut lama, ada yang 9 bulan sampai 10 bulan, bahkan ada yang sampai setahun tergantung izinnya (SIKPI). Tangkapannya ikan cakalang sama tongkol. Wilayah jelajahnya luas sekali, bisa sampai perbatasan perairan Sri Lanka," terang Iwan kepada detikJabar, Kamis (15/10/2026).
Iwan menjelaskan, kapal-kapal jenis ini umumnya diberangkatkan dari Pelabuhan Muara Baru, Jakarta, dengan membawa sekitar 29 hingga 32 orang awak kapal. Para ABK-nya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pekalongan, Padang, hingga daerah pesisir lainnya.
Untuk menopang operasional hingga berbulan-bulan di samudera, kapal ini dilengkapi palka berteknologi pendingin Air Blast Freezer (ABF) di bawah geladak untuk membekukan ikan hasil tangkapan dalam kapasitas tonase besar agar tetap segar. Hasil tangkapan biasanya dipindahkan secara berkala melalui kapal penjemput (transhipment) untuk dibawa ke darat.
Kehadiran KM Cahaya Mutiara di perairan Teluk Palabuhanratu sendiri bukan untuk agenda bongkar muat ikan, melainkan murni mencari pelabuhan terdekat guna evakuasi darurat setelah peristiwa berdarah menewaskan dua orang di atas kapalnya.
"Kapal itu asalnya dari Muara Baru Jakarta, pulangnya juga ke Muara Baru lagi. Masuk ke Teluk Palabuhanratu ini karena ada trouble itu, jadi merapat ke pelabuhan terdekat untuk penanganan jasad dan pelakunya," pungkas Iwan.
(sya/sud)
