Pemanasan Laut Berlipat Ganda, Dunia Terancam Dampak Fatal

Pemanasan Laut Berlipat Ganda, Dunia Terancam Dampak Fatal

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Jumat, 02 Okt 2026 12:30 WIB
Ilustrasi laut
Ilustrasi (Foto: dok. KKP).
Bandung -

Lautan memanas pada tingkat yang mengkhawatirkan, membawa dampak luas yang belum siap dihadapi dunia, menurut laporan dari lebih dari 100 ilmuwan internasional.

Laporan Copernicus Ocean State Report edisi kesepuluh baru saja dirilis. Mengolah data selama empat dekade dari satelit, pelampung, hingga sensor canggih, laporan ini menjadi alarm paling keras mengenai kondisi lautan kita saat ini.

"Lautan berubah di depan mata kita: pemanasan, kenaikan permukaan laut, dan degradasi ekosistem adalah tanda yang saling berkaitan dari perubahan signifikan dan jangka panjang," kata Pierre Bahurel, Direktur Jenderal Mercator Ocean International, lembaga riset nirlaba penyusun laporan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain ancaman jangka panjang, fenomena El Nino yang luar biasa besar turut memperparah keadaan. Pola iklim alami dengan suhu air hangat di sepanjang garis khatulistiwa Samudra Pasifik ini diprediksi bakal menjadi yang paling intens.

Data menunjukkan lautan global menyerap sekitar 90% kelebihan panas akibat aktivitas pembakaran bahan bakar fosil. Parahnya, laju pemanasan laut justru berlipat ganda dalam 20 tahun terakhir. Suhu permukaan laut bahkan mencetak rekor tertinggi berturut-turut pada 2023, 2024, hingga 2026.

Tahun lalu saja, lautan dunia menyerap tambahan panas sebesar 23 zettajoule. Angka ini mencetak rekor baru selama sembilan tahun berturut-turut, yang setara dengan energi 12 bom Hiroshima yang meledak setiap detik selama setahun penuh.

Akumulasi panas ini memicu efek domino: gelombang panas laut, badai yang makin ganas, kerusakan ekosistem bawah laut, hingga kenaikan permukaan air laut akibat es yang mencair dan ekspansi volume air.

Sejak 1999, rata-rata permukaan laut global naik sekitar 3,8 milimeter per tahun dengan total hampir 4 inci. Laju ini makin cepat sejak 2012, mengancam ratusan juta penduduk di kawasan pesisir. Tak hanya itu, keasaman lautan juga melonjak 17% sejak 1985 akibat penyerapan polusi karbon.

Pengasaman laut sering disebut sebagai "kembaran jahat" perubahan iklim. Dampaknya merusak ekosistem, membuat biota laut seperti tiram, lobster, hingga terumbu karang kesulitan membentuk cangkang dan kerangka tubuh mereka.

Beberapa wilayah pun terdampak lebih parah. Laut Mediterania dan Laut Hitam mencatat rekor gelombang panas laut pada 2024. Beberapa kejadian berlangsung lebih dari 30 hari dengan lonjakan suhu air mencapai 4,6 derajat Celsius di atas rata-rata.

"Peristiwa ini terjadi di tengah tren pemanasan laut berkelanjutan yang terus mengubah kondisi ekosistem laut," kata Blanca Fernandez-Alvarez, penulis laporan sekaligus peneliti The Mediterranean Institute for Advanced Studies yang dikutip detikINET dari CNN.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Gelombang Panas Ekstrem Landa Eropa, Rekor Suhu Terpanas Pecah"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads