Rumah sederhana di tengah permukiman padat penduduk Kampung Lembur Sawah, RT 03/RW 09, Desa Ciwaruga, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencuri perhatian setelah beberapa hari lalu disatroni polisi.
Dari rumah itu, polisi mengamankan MSA (27), seorang pemuda yang terlibat dalam tindak pidana terhadap keamanan umum, di mana dia memiliki senjata api, bahan peledak, lalu menyiapkan akan melakukan tindak teror di Group WhatsApp 'True Crime Community'.
Rumah berlantai dua itu biasanya dihuni enam orang, yakni orangtua MSA, serta empat adiknya. Namun dua adik MSA kini bekerja serta ada yang bersekolah di luar Bandung Barat. MSA sendiri diamankan polisi pada Jumat (11/9/2026) sekitar pukul 14.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua RT 03, Endang Supriatna, mengatakan penggerebekan dan penangkapan MSA sebetulnya sudah direncanakan cukup lama. Hal itu karena polisi sudah lama pula mengintai tersangka MSA.
"Jadi polisi sudah beberapa kali datang ke rumah saya, dari sebulan sebelumnya. Menyampaikan bahwa akan mengamankan MSA. Kemudian tanggal 11, akhirnya polisi datang ke rumah itu dan mengamankan MSA yang merupakan warga kami," kata Endang saat ditemui, Jumat (18/9/2026).
Endang menyebut ia tak sampai ikut masuk ke dalam rumah. Namun sepengetahuannya, polisi cukup lama menggeledah rumah itu terutama di lantai 2 tempat yang dijadikan sebagai markas kegiatan ilegal MSA.
"Dia di lantai 2, kalau ngapain aja di dalam dan apa saja yang diambil saya enggak tahu karena enggak ikut masuk. Cuma yang saya ingat itu, pokoknya jam 2 siang dimulai dan selesai jam 9 malam," kata Endang.
Namun Endang menyaksikan beberapa barang hasil penyitaan yang sempat diamparkan di pelataran masjid kampung tersebut. Mulai dari senjata, buku, dan barang-barang lain berkaitan dengan kegiatan MSA yang mengancam keamanan umum.
"Tapi polisi sempat amparkan si barang bukti yang disita di pelataran masjid dan saya menyaksikan. Itu ada bom panci, terus peluru ada, ada senjata laras panjang tapi batangnya saja, anak anak panah," kata Endang.
Endang tak menampik kedatangan polisi mengamankan MSA terkait aksi teror hingga perakitan bom membuat warga heboh dan resah. Desas desus soal MSA dan keluarganya masih kencang dari mulut ke mulut.
"Ya pastinya heboh, apalagi di sini enggak pernah ada kejadian seperti ini. Tapi sekarang sudah mulai agak reda isu soal penggerebekan itu. Ya warga khawatir tapi enggak terlalu dipikirkan mungkin ya," kata Endang.
Sosok Pelaku
Di mata tetangga, MSA dan keluarganya dikenal sebagai sosok yang tertutup. Mereka tidak pernah bergaul dengan warga dalam kegiatan apapun. Sesekali warga hanya melihat MSA berangkat kerja di pagi hari.
"Sama tetangga enggak pernah ngobrol, kalau ketemu ya sekadarnya aja. Memang keluarganya tertutup dan jarang keluar rumah," kata Toto Mustofa, warga setempat saat berbincang dengan detikJabar.
Mereka tak menyangka MSA terlibat dengan kasus kriminal yang cukup membahayakan. Apalagi sampai bisa merakit bom di rumah serta menyimpan senjata api seraya memotivasi pengikutnya di WhatsApp melakukan aksi teror.
"Warga ya pasti kaget, tidak menduga sama sekali karena anaknya kelihatannya biasa saja, ini kan luar biasa ternyata aktivitasnya sampai berurusan dengan bom dan senjata api," kata Toto.
Warga Pernah Dengar Ledakan
MSA disebutkan beberapa kali melakukan ujicoba peledakan bom rakitannya di lapangan di sekitar kediamannya. Keterangan itu dikuatkan dengan kesaksian warga yang sempat mendengar suara ledakan.
"Pernah sekali (dengar ledakan) tapi saya tidak curiga. Malahan sama istri kan becanda mungkin suara gunung dibom, tapi kok ada getaran sampai atap spandek di rumah bergetar. Sekitar 3 minggu yang lalu lah saya dengarnya, cuma kan enggak menyangka itu dari bom yang diledakkan sama dia (MSA)," kata Toto.
Soal ledakan, Ketua RT 03, Endang Supriatna menyebut beberapa kali menerima laporan dari warga. Namun sama seperti yang lainnya, warga maupun Endang tak menaruh kecurigaan terhadap MSA.
"Banyak yang cerita dari warga, tapi kan tidak tahu itu apa jadi kita di sini cuek-cuek saja, tidak ada kecurigaan. Suara ledakan itu malah kita sangka petasan, cuek saja. Kebanyakan malam hari, jam 9 ke atas sampai tengah malam," kata Endang.
Endang yang mendampingi penggerebekan, menyaksikan beberapa barang hasil penyitaan yang sempat diamparkan di pelataran masjid kampung tersebut. Mulai dari senjata, buku, dan barang-barang lain berkaitan dengan kegiatan MSA yang mengancam keamanan umum.
"Tapi polisi sempat amparkan si barang bukti yang disita di pelataran masjid dan saya menyaksikan. Itu ada bom panci, terus peluru ada, ada senjata laras panjang tapi batangnya saja, anak anak panah," kata Endang.
Kini, kehidupan keluarga MSA kian tertutup. Orangtua MSA diketahui berprofesi sebagai guru ngaji di madrasah kampung sebelah serta sebagai marbot masjid. Kedepannya, Endang akan berkoordinasi dengan pengurus RW dan desa setempat terkait keluarga MSA.
"Ya warga khawatir, terkait keluarga itu kedepannya bagaimana nanti saya harus koordinasi dulu dengan RW dan desa," kata Endang.
