Satreskrim Polrestabes Bandung masih mengusut kasus penemuan mayat dalam kardus yang menghebohkan warga Jalan Terusan Suryani, Babakan Ciparay. Korban berinisial SM (41) diduga meninggal dunia dalam situasi yang kini masih didalami polisi. Sementara rekan prianya, SDS (31), telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Polrestabes Bandung.
Jenazah SM sendiri telah dipulangkan ke kampung halamannya di Lampung untuk dimakamkan. Proses pemulangan tersebut dilakukan Polrestabes Bandung dengan berkoordinasi bersama Pemerintah Kota Bandung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski kasusnya mengarah pada dugaan tindak pidana, hasil pemeriksaan awal justru belum menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi pun masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kematian SM.
Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, mengatakan penyidikan masih terus berjalan. Hal itu disampaikannya saat ditemui di Lapangan Tegallega, Kota Bandung, Rabu (9/9/2026).
"Kita masih proses penyidikan. Pada waktu diautospsi tidak ada luka-luka, kekerasan di tubuhnya," ujar Anton.
Tidak ditemukannya luka akibat kekerasan membuat polisi harus mencari petunjuk lain. Sampel organ tubuh korban kemudian dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri untuk diperiksa lebih mendalam.
Pemeriksaan tersebut diharapkan bisa menjawab apakah terdapat zat kimia, racun, atau kandungan lain yang berkaitan dengan kematian korban. Polisi memilih menunggu hasil ilmiah sebelum menyimpulkan penyebab kematian SM.
"Tersangka sudah ditahan, kita masih menunggu hasil autopsi dan hasil lab karena saya bisa berasumsi untuk mengetahui penyebab kematian korban," jelas Anton.
"Kemarin beberapa sampel tubuh sudah dikirim lab, apakah ada kandungan racun atau hal-hal lain," katanya menambahkan.
Di sisi lain, SDS disebut tidak mengakui telah mebunuh SM. Namun, ia mengakui adanya tindakan membungkus jasad korban dan merencanakan pembuangannya setelah korban meninggal.
"Keterangan sementara dia tidak mengakui melakukan kekerasan, tapi dia ada upaya untuk menutupi kematian korban dengan cara ketika korban meninggal, membungkus korban dan berencana membuang mayatnya," ungkapnya.
Keterangan tersebut menjadi salah satu bagian yang terus didalami penyidik. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan autopsi dan laboratorium sebelum menentukan lebih jauh bagaimana SM meninggal dunia.
Anton kembali memastikan sampel tubuh korban telah dikirimkan untuk pemeriksaan. "Ini masih berkembang, sambil menunggu hasil autopsi," ujarnya.
Polisi juga belum menutup kemungkinan adanya zat berbahaya yang menjadi penyebab kematian. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan karena penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan Puslabfor.
"Apakah ada indikasi korban di racun dan lain-lain," pungkasnya.
Kasus ini bermula dari dugaan kematian SM di sebuah kamar kontrakan di kawasan Dunguscariang, Kecamatan Andir, pada Selasa (1/9/2026). Setelah itu, SDS diduga membungkus jasad korban dan membuangnya ke wilayah Babakan Ciparay.
Jasad tersebut kemudian ditemukan warga hingga mengungkap kasus yang kini tengah menjadi perhatian polisi. Di tengah belum ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban, hasil pemeriksaan laboratorium menjadi salah satu kunci untuk menguak misteri penyebab kematian SM.
(wip/orb)
