Bos Telegram Pavel Durov Jadi Buronan Rusia, Ini Penyebabnya

Kabar Internasional

Bos Telegram Pavel Durov Jadi Buronan Rusia, Ini Penyebabnya

Fino Yurio Kristo - detikJabar
Minggu, 09 Agu 2026 23:09 WIB
Eropa: Penahanan Bos Telegram Picu Debat soal Kebebasan di Media Sosial
Bos Telegram Pavel Durov (Foto: DW (News)
Bandung -

Pemerintah Rusia resmi mendakwa Pavel Durov, sosok pendiri sekaligus CEO aplikasi pesan Telegram, dengan tuduhan berat, membantu terorisme. Tak main-main, bos besar Telegram ini kini resmi masuk dalam daftar buronan internasional Moskow.

Langkah hukum terhadap Durov-yang lahir di Rusia namun memilih berkarier di luar negeri-muncul di tengah upaya ketat otoritas setempat membatasi ruang gerak Telegram. Aksi ini disebut sebagai bagian dari misi jangka panjang Kremlin untuk mengontrol internet, yang semakin gencar dilakukan sejak invasi ke Ukraina pada Februari 2022.

Dinas Keamanan Federal (FSB) menuding Telegram gagal menghapus berbagai saluran, obrolan, dan bot yang diduga dimanfaatkan intelijen Ukraina serta organisasi teroris. Saluran-saluran tersebut dituduh menjadi alat koordinasi sabotase, pembunuhan massal, hingga penipuan siber yang memakan banyak korban jiwa di Rusia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, FSB mengklaim pihak Ukraina menggunakan chatbot kencan di Telegram untuk memikat dan merekrut warga Rusia guna melakukan aksi sabotase. FSB menyebut ada 46 pengguna chatbot tersebut, dengan rentang usia 12 hingga 22 tahun, telah ditahan sejak Juli 2025 atas tuduhan penyerangan aparat dan pembakaran.

Menanggapi tekanan ini, Durov sempat menyatakan bahwa penyelidikan kriminal terhadap dirinya hanyalah akal-akalan otoritas Rusia. Ia menuduh Moskow sengaja mengarang dalih untuk membatasi akses Telegram demi membungkam privasi dan kebebasan berpendapat. Jika terbukti bersalah, Durov terancam hukuman penjara seumur hidup.

Saat ini, Telegram diketahui bermarkas di Dubai. Durov sendiri memegang kewarganegaraan ganda Prancis dan Uni Emirat Arab, serta menetap di sana untuk menjalankan bisnisnya.

Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, Rusia memang makin agresif menyisir dunia maya. Berbagai UU restriktif disahkan, platform yang tidak patuh diblokir, hingga peningkatan teknologi canggih untuk memantau sekaligus memanipulasi komunikasi online warga.

Nasib Telegram kini di ujung tanduk mengikuti jejak Facebook, Instagram, dan X yang sudah lebih dulu dilarang di Rusia. Melansir detikINET dari Deutsche Welle, aplikasi populer lain seperti WhatsApp, Signal, hingga Viber juga mulai dibatasi atau diblokir total.

Ironisnya, Durov adalah pendiri VK (media sosial mirip Facebook versi Rusia) jauh sebelum ia meluncurkan Telegram. Namun, VK akhirnya jatuh ke tangan perusahaan-perusahaan pro-Kremlin. Rusia sebenarnya pernah mencoba memblokir Telegram pada rentang 2018 hingga 2020, namun upaya tersebut berakhir gagal.

Artikel ini sudah tayang di detikInet, baca selengkapnya di sini.

Halaman 3 dari 2


Simak Video "Video Drone-Rudal Rusia Bombardir Kyiv, 13 Orang Tewas-7 Selamat"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads