Polisi Ringkus Pembunuh 'Pak Ogah' di Banjar, Motif Dendam Lama

Polisi Ringkus Pembunuh 'Pak Ogah' di Banjar, Motif Dendam Lama

Dadang Hermansyah - detikJabar
Sabtu, 08 Agu 2026 16:17 WIB
Pelaku pembunuhan Pak Ogah di Banjar
Pelaku pembunuhan Pak Ogah di Banjar (Foto: Istimewa)
Banjar -

Teka-teki kematian Asep, seorang pengatur lalu lintas atau 'Pak Ogah' di Kota Banjar, akhirnya menemui titik terang. Aparat kepolisian berhasil meringkus pria berinisial S alias Uup yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Kapolres Banjar, AKBP Didi Dewantoro, mengonfirmasi bahwa tersangka ditangkap di kawasan Pasir Koja, Kota Bandung, pada Jumat (7/8) sekitar pukul 16.30 WIB. Penangkapan ini dilakukan hanya berselang beberapa jam setelah jasad korban ditemukan tergeletak di samping sebuah warung di Lingkungan Cikadu, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja.

"Setelah dilakukan penyelidikan berdasarkan keterangan saksi, tim mendapatkan identitas dan petunjuk terkait tersangka. Kemudian dilakukan pengejaran hingga tersangka berhasil diamankan di Pasir Koja, Kota Bandung," kata Didi di Mapolres Banjar, Sabtu (8/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jasad Asep pertama kali ditemukan pada Jumat pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Polisi segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan memeriksa tujuh orang saksi, termasuk istri korban, Elom Komaria, yang pertama kali menemukan suaminya dalam kondisi tak bernyawa.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan hasil pendalaman, polisi menetapkan Uup sebagai tersangka utama. Pria tersebut diketahui merupakan rekan kerja korban yang selama empat tahun terakhir sama-sama beroperasi sebagai Pak Ogah di Simpang BBWS Banjar.

Didi menjelaskan, aksi nekat tersangka dipicu oleh dendam yang sudah lama terpendam. Tersangka mengaku kerap diperlakukan semena-mena, diejek, hingga dibuli oleh korban, terutama menyangkut pembagian uang hasil kerja mereka.

"Motifnya karena tersangka menaruh dendam. Korban dianggap sok berkuasa, kemudian kalau mendapatkan jatah uang tidak dibagi dan sering mengolok-olok tersangka," ujar Didi.

Konflik tersebut mencapai puncaknya pada malam kejadian. Tersangka merasa tersinggung saat korban memanggilnya dengan sapaan "woy". Merasa terhina, tersangka pulang untuk mengambil sebilah pisau dan kembali menemui korban di lokasi.

"Di TKP terjadi perkelahian antara korban dan tersangka. Kemudian tersangka melakukan pemukulan dan penusukan. Saat korban jatuh, tersangka mengambil batang kayu sekitar 30 sentimeter dan menusukkannya lagi ke bagian ulu hati atau atas perut," jelasnya.

Setelah memastikan korban tewas, Uup melarikan diri meninggalkan Kota Banjar. Ia sempat menuju terminal untuk menumpang bus ke arah Bandung dengan rencana akhir bersembunyi di Jakarta.

"Tersangka memang rencananya akan ke Jakarta untuk melarikan diri. Namun, berkat informasi dari masyarakat, tersangka berhasil diamankan di Pasir Koja, Kota Bandung, pada pukul 16.30 WIB di hari yang sama setelah kejadian," kata Didi.

Meski sempat memberikan perlawanan saat akan ditangkap, petugas berhasil melumpuhkan tersangka. "Pada saat diamankan ada perlawanan sedikit. Namun berkat kesigapan tim URC, tersangka berhasil diamankan," ujarnya.

Pihak kepolisian memastikan bahwa tersangka tidak memiliki rekam jejak kriminal sebelumnya. Namun, rasa sakit hati yang dipendam selama bertahun-tahun diduga menjadi pendorong utama tindakan sadis tersebut.

"Kalau pelaku dan korban ini sudah empat tahun bekerja bersama di Simpang Procit sebagai Pak Ogah. Memang sudah lama menyimpan dendam karena sering diolo-olo atau diejek," tutur Didi.

Kini, S alias Uup harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Polisi menjeratnya dengan pasal berlapis, yakni Pasal 459 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 458 ayat (1) tentang pembunuhan, serta Pasal 466 ayat (3) terkait penganiayaan yang menyebabkan kematian.

"Pasal yang paling tinggi adalah Pasal 459 dengan hukuman penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 20 tahun," tegas Didi.

Hingga saat ini, tersangka dilaporkan belum menunjukkan rasa penyesalan atas hilangnya nyawa rekan kerjanya tersebut. "Pengakuan tersangka sekilas tidak ada rasa menyesal. Mungkin karena dendamnya sudah lama, diolo-olo, diejek dan sebagainya. Puncaknya terjadi pada tanggal 7 dini hari," pungkasnya.



(dir/dir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads