Korban Begal Bermodus DC Buka Suara: Warga Sempat Enggan Menolong

Korban Begal Bermodus DC Buka Suara: Warga Sempat Enggan Menolong

Wisma Putra - detikJabar
Rabu, 15 Jul 2026 16:10 WIB
Ilustrasi debt collector.
Ilustrasi debt collector (Foto: Ilustrasi menggunakan Gemini AI)
Bandung -

Muhammad Hilmi Sabitul Azmi atau pemilik akun Instagram @kg.azmy yang menjadi korban begal dengan modus debt collector (DC) di Jalan BKR, Kota Bandung, angkat bicara atas kasus kejahatan yang diterimanya.

Pria berumur 24 tahun, asal Dago Giri ini mengatakan, kejadian kejahatan yang menimpanya itu terjadi, Senin (13/7) lalu di saat dia hendak pulang kerja.

Kepada detikJabar, Hilmi mengatakan, pada hari itu, awalnya sekitar pukul 17.10 WIB dia pulang kerja seperti biasa dan berkendara dari arah Leuwipanjang. Saat berkendara dia masih berbarengan dengan temannya. Pada saat melintasi Jalan Banceuy dia tiba-tiba disetop oleh dua orang tidak dikenal yang mengendarai sepeda motor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Awalnya saya kira saya yang salah dengar. Kemudian tiba-tiba mereka menyalip motor saya dan menghadang saya dari depan, setelah minggir saya berusaha untuk lari saya bilang "Saya mau pulang karena saya sudah capek.", tapi mereka menjawab "Kami juga mau pulang, makanya kami butuh waktu kamu sebentar.", akhirnya saya turuti untuk sedikit melipir ke pinggir. Kemudian mereka memperlihatkan sebuah data dari handphone mereka yang berisi tentang data saya dan juga nama ibu saya," kata Hilmi dikonfirmasi, Rabu (15/7/2026).

"Setelah itu mereka nanya kalau nama ini tuh siapanya saya, kemudian karena saya tidak ingin mencari masalah, saya jawab kalau itu ibu saya. Lalu mereka seakan memaksa saya untuk menghubungi ibu saya melalui panggilan telepon dan memberitahukan bahwa ada tunggakan cicilan leasing selama dua bulan dengan nominal Rp1,9 jutaan," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Hilmi pun melakukan konfirmasi ke ibunya, namun dia juga merasa janggal saat mendengar tunggakan karena memang setiap bulan dia yang membayarkan cicilan kepada pihak leasing. Ibunya pun mengkonfirmasi tidak ada tunggakan cicilan apa pun. Namun, mereka berdua bersikeras ingin berkomunikasi dengan ibunya.

"Cukup lama sekitar 10 menit mereka mengobrol di pinggir jalan itu, sebelum akhirnya mereka menjelaskan kepada saya kalau misalnya kemungkinan saya sudah menjadi korban dari leasing FIF yang nakal. Sehingga cicilan selama dua bulan yang saya bayarkan itu tidak dicatat dan mereka menyarankan untuk membayarkan melalui Alfamart," ungkapnya.

Kemudian dengan sedikit nada intimidatif, Hilmi menyebut jika dia diminta kedua DC itu untuk ikut untuk menyelesaikan masalah ini, mereka akan memberikan kompensasi motor tidak diambil, asal harus ikut mereka ke kantornya.
a
"Akhirnya dengan paksaan saya dipaksa mereka untuk ikut mereka ke suatu tempat yang mereka katakan itu adalah mau ke kantor leasingnya mereka dan supaya percaya saya diminta untuk membonceng salah satu dari mereka untuk menunjukkan jalan," tuturnya.

Di perjalanan, Hilmi tanya kepada DC itu kantornya di mana? dan mereka menjawab jika kantornya ada di Padalarang dan ada juga di Mohammad Toha atau Soekarno-Hatta. Kemudian dia dibawa ke area Pasar Baru, kemudian belok kanan ke Cibadak dan kemudian belok kanan di depan bank dan ATM BNI dan Hilmi diminta untuk memarkirkan motornya di depan ATM BNI di pinggir jalan tersebut.

"Orang yang dari leasing menjelaskan kalau misalnya orang-orang yang mencegat saya itu adalah agen lapangan, dan menyinggung kalau misalnya agen lapangan itu tidak mendapat gaji pokok dari perusahaan yang arahnya sepertinya itu ingin memeras saya," tutunya.

"Dia berbicara dengan saya seolah meyakinkan kalau memang mereka itu resmi agen dari leasing dan membawa surat dan lain-lain yang padahal saya juga tidak mengetahui isi suratnya seperti apa, karena suratnya tidak diberikan ke saya, hanya berupa list seperti itu saja dan saya juga tidak membaca dengan seksama, melihat isi suratnya seperti apa," terangnya.

Di tempat tersebut, Hilmi diberi tawaran untuk membuat surat pernyataan. Surat itu, disebut bisa digunakan apabila nanti diberhentikan di jalan, ia hanya tinggal menunjukkan surat tersebut.

"Dari situ saja sudah janggal, lalu saya diminta untuk menunjukkan STNK motor. Saya bilang kalau di STNK itu motor saya ya atas nama saya sendiri, tetapi kok ada di database Anda. Di sana nada mereka agak meninggi dan mereka memaksa saya untuk ikut ke kantor yang ada di Mohammad Toha, karena saya sudah menyerahkan STNK saya ke orang tersebut," ujarnya.

Kemudian menurut Hilmi, sebelum berangkat ke kantor mereka yang berada di Muhammad Toha, dia diminta untuk menghubungi ibunya sekali. Tapi salah satu dari mereka ingin mengobrol kembali dengan ibunya yang dimana, HP milik Dilmi dikuasai DC yang sedang mengobrol dengan ibunya.

"Saat itu kondisinya ada dua motor jadi satu itu motor saya dan satu motor mereka. Orang yang mengaku dari leasing itu dengan memaksa ingin mengendarai motor saya dan saya diboncengnya. Sedangkan yang satu orang lagi menggunakan motor yang lain tetapi dengan membawa handphone saya, dengan alasan ingin tetap terhubung dengan ibu saya," paparnya.

Hilmi sudah sangat curiga dan dia sempat meminta handphonenya kembali, namun DC itu marah ke Hilmi, di tengah jalan menuju kantor DC itu, dia diminta untuk membeli materai, karena surat pernyataan itu harus ditandatangani dengan materai. Dalam hal ini, Hilmi mengaku sudah sangat curiga.

"Di situ saya sadar, kalau saya ditinggal untuk membeli materai sendiri. Handphone motor kunci motor STNK saya sudah ada di tangan mereka semua dan kemungkinan memang akan langsung dibawa lari. Akhirnya saya meminta handphone saya dan kunci motor saya dulu karena saya ingin membeli materai menggunakan QRIS. Tetapi mereka tidak memberikannya. Lalu saya diberhentikan di depan Indomaret yang di Jalan BKR dan diperintahkan untuk membeli materai di Indomaret. Sempat menawarkan uang cash untuk membeli materai, tapi saya bilang saya ingin belinya pakai QRIS yang ada di handphone saya," tuturnya.

"Mereka mulai naik pitam dan di situ sudah berkata kasar. Saya berusaha meminta tolong ke orang sekitar. Namun tidak ada yang menggubris, entah karena mereka tidak tahu atau mungkin karena mereka tidak ingin ikut campur, karena disangkanya saya adalah nasabah yang bandel gitu," tambahnya.

Di waktu bersamaan, dua orang yang salah satunya itu tukang parkir, menanyakan kondisinya seperti apa dan karena Hilmi sudah dituduh menunggak dua bulan, mereka ikut menyalahkan Hilmi.

"Katanya, itu ya salah kamu karena belum bayar, kami tidak bisa bantu."," ujar Hilmi.

Kemudian karena dia terus diintimidasi dengan kata kata kasar, dia bilang "Baik saya bayar saja." dengan harapan akan menyelesaikan masalah saat itu juga. Namun statemennya, malah digunakan oleh orang yang datang itu sebagai senjata kalau memang Hilmi mau bayar dan dia memang menunggak.

"Di situ saya hopeless, karena saya rasa tidak ada orang yang ingin membantu saya. Saya terus meminta handphone dan kunci motor saya, dan dua pelaku ini dia terus mengintimidasi saya dengan kata-kata yang lebih kasar dan lebih agresif," ucapnya.

Puncaknya, Hilmi dipaksa untuk mengikuti mereka ke suatu tempat yang tidak jauh dari mini market tersebut. Pelaku nekat melawan arah untuk bisa memutar balik.

Di sana ia, kembali diintimidasi. Sepeda motor Hilmi ditabrak, ia kemudian dipukul dengan tangan dan helm, serta ditendang.

"Dan tiba-tiba ada satu orang lagi yang datang entah dari mana, ikut ingin memukuli saya. Namun alhamdulillahnya tidak ada luka fisik yang berarti. Hanya memang saya sampai terjatuh ke tengah jalan yang ramai. Mereka sepertinya sengaja ingin menjauhkan saya dengan aset aset saya," tuturnya.

Setelah memukuli Hilmi, para DC itu membawa motor, telepon genggam dan STNK. Mereka juga meninggalkan Hilmi begitu saja.

"Setelah itu, barulah beberapa warga mendekati saya dan menanyakan kondisi saya. Saya jelaskan kalau misalnya saya dibegal dan akhirnya beberapa dari mereka mengarahkan saya untuk segera melapor ke Polsek terdekat. Kemudian dari salah satu mereka juga ada bapak-bapak ojol, yang menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke Polsek Regol. Akhirnya saya membuat laporan di sana, saya minta bantu rekan-rekan kerja saya, dan tiga jam dari situ alhamdulillah pelaku berhasil ditangkap dan barang saya sekarang sedang ditahan di Polsek sebagai barang bukti," pungkasnya.

(wip/yum)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads