Tabir gelap di balik kasus pengeroyokan brutal yang menewaskan seorang pemuda berinisial AYS (24) di Sukaraja, Kabupaten Sukabumi akhirnya terkuak. Aksi main hakim sendiri itu ternyata dipicu oleh kekesalan pemilik bengkel yang mendapati mesin sepeda motor dan peralatannya raib digondol maling yang tak lain adalah korban pengeroyokan.
Polisi membeberkan bahwa korban tewas pengeroyokan tersebut merupakan terduga pelaku pencurian yang jejaknya terekam jelas oleh kamera pengawas (CCTV).
Kapolsek Sukaraja, Kompol Aguk Khusaeni, mengungkapkan bahwa aksi pencurian di bengkel tersebut sebenarnya terjadi pada Selasa (7/7/2026) dini hari, sekitar pukul 02.15 WIB. Saat itu, korban pencurian tidak langsung melapor ke pihak kepolisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebenarnya korban (pemilik bengkel) belum laporan ke Polsek ketika peristiwa pencurian itu terjadi. Tapi, aksi pelaku ini ternyata terekam dan terlihat di CCTV," ujar Aguk saat dikonfirmasi detikJabar, Senin (13/7/2026).
Dari rekaman CCTV tersebut, pemilik bengkel melihat ada dua orang yang mencurigakan tengah menjarah tempat usahanya. Akibat pencurian itu, sejumlah peralatan bengkel dan komponen mesin sepeda motor raib, dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta.
Intimidasi dan Pengakuan Berujung Maut
Berbekal rekaman kamera pengawas, pemilik bengkel yang telanjur geram mencoba menelusuri identitas kedua orang di dalam video. Pencarian mandiri itu membuahkan hasil pada Kamis (9/7/2026) malam.
Pihak pemilik bengkel yang merasa penasaran langsung mendatangi kedua terduga pelaku untuk melakukan klarifikasi. Namun, situasi interogasi mandiri itu dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan yang tidak terkendali.
"Karena ada CCTV dan terlihat dua orang tersebut, para korban (pemilik bengkel) ini mungkin penasaran, lalu mengklarifikasi ke kedua orang yang ada di CCTV. Setelah diinterogasi, ada pengakuan, dan terjadilah kejadian penganiayaan (pengeroyokan) tersebut," beber Kompol Aguk.
Hantaman bertubi-tubi yang diterima terduga pelaku pencurian selama proses interogasi itu berujung fatal dan membuatnya meregang nyawa.
Pihak kepolisian bergerak cepat meredam situasi pasca-kejadian. Mengingat aksi penganiayaan berujung maut tersebut merupakan pelanggaran hukum berat, penanganan kasusnya kini resmi dibagi dan ditarik ke tingkat yang lebih tinggi.
"Untuk kasus penganiayaannya yang terjadi pada malam Jumat tanggal 9 itu, penanganan selanjutnya diserahkan dan diproses di Polres Sukabumi Kota," tegas Aguk.
Polisi memastikan tidak akan menoleransi aksi main hakim sendiri. Saat ini, semua pihak yang terlibat dalam lingkaran kriminalitas ini telah dijebloskan ke jeruji besi.
"Untuk pelaku sudah diamankan, baik pelaku yang terlibat kasus pencurian maupun pelaku yang melakukan penganiayaan," pungkas Kompol Aguk.
Pelaku pencurian yaitu AYS (24) telah meninggal dunia dan AG (24) diamankan di Polsek Sukaraja. Sedangkan pelaku penganiayaan yang menewaskan AYS yaitu YY alias Iduy (30), RC alias Piyong (23), MHA (23), RH alias Ahong (31), MAB alias Jape (23), dan GR (27). Pihak penyidik juga masih terus melakukan pengembangan guna memburu aset barang bukti dan mencari kemungkinan adanya keterlibatan pelaku lain.
Sebelumnya diberitakan, aksi main hakim sendiri kembali memakan korban jiwa. Seorang pemuda berinisial AYS (24) meregang nyawa usai dikeroyok secara brutal oleh sekelompok orang di Kampung Cikaret, Desa Sukamekar, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Dokter Forensik RSUD Syamsudin SH, dr Nurul Aida Fathiya, membeberkan secara runut kondisi mengerikan yang dialami korban sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Luka-luka tersembunyi di balik rambut korban menjadi saksi bisu betapa hebatnya hantaman benda tumpul yang ia terima berulang kali.
"Lukanya banyak tapi kecil-kecil, terutama di wajah dan kepala. Di lengan juga ada, tapi tidak mematikan. Kebanyakan lecet dan memar. Di daerah kepala kan ketutupan rambut, ya nggak kelihatan. Tapi pas giliran kulit kepalanya dikupas, pas mau dibuka, itu baru kelihatan," beber Nurul.
Nurul menjelaskan, hampir di seluruh kulit kepala bagian dalam korban dipenuhi oleh resapan darah. Meskipun tulang tengkorak korban dalam kondisi utuh dan tidak ada luka robek terbuka yang
mengucurkan darah ke luar, efek hantaman yang diterima korban sangatlah fatal.
"Penyebab (kematian) kekerasan tumpul. Karena memang di hampir seluruh kulit kepala bagian dalamnya itu semua resapan darah. Kekerasan tumpulnya cukup hebat sehingga ada perdarahan di bawah tengkorak dan di dalam jaringan otaknya," jelasnya.
(sud/sud)
