Kasus dugaan pencabulan enam santriwati oleh MSL alias 'Ustaz Tronton' masih menyisakan kecemasan mendalam bagi pihak keluarga korban.
Hingga hari ini, belum ada titik terang maupun kabar lanjutan mengenai penangkapan pimpinan Pondok Pesantren di Sukabumi tersebut. Pria yang dikenal kerap tampil di sejumlah acara di stasiun televisi nasional itu raib, bak hilang ditelan bumi.
Kuasa Hukum para korban dari LBH Pro Ummat, Rangga Suria Danuningrat, menegaskan bahwa tim penasihat hukum keluarga korban turut memantau ketat kinerja kepolisian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita terus berkoordinasi dengan Polres dan menekan Polres juga untuk giat mencari dan mendapatkan Tronton secepatnya," kata Rangga kepada detikJabar, Minggu (24/5/2026).
Ia menambahkan bahwa harapan agar pelaku segera diringkus sangatlah besar.
"Karena kasihan juga kepada keluarga korban juga mereka waswas ya dan ingin segera ditangkap ya Tronton ini," tuturnya meluapkan kekhawatiran yang masih menyelimuti keluarga korban hari ini.
Sepak terjang dai kondang di Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini memang berujung pada pelarian panjang usai status Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan Nomor: 11/III/RES.1/2026/SAT RESKRIM resmi diterbitkan.
"Sudah lama status tersangka, kita lagi maraton pengejaran. Sekarang DPO," kata AKP Hartono kala ia masih menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Sukabumi.
Estafet perburuan ini kini dilanjutkan penuh oleh Iptu Dudi Suharyana, yang resmi memegang posisi Kasat Reskrim menggantikan AKP Hartono dalam rotasi jabatan di lingkungan Polres Sukabumi pada Mei 2026.
Dudi buka suara terkait kabar terbaru pencarian pihaknya. "Secepatnyanya berproses, itu sudah DPO juga ya," singkat Dudi.
Lolos di Tangerang Sepulang Umrah
Hasil penelusuran detikJabar sebelumnya, di lingkungan pesantren tempatnya bernaung di Kampung Cikondang, jejak keberadaan Ustaz Tronton benar-benar telah menguap.
"Terakhir lihat pas mau berangkat umrah, satu hari sebelum bulan puasa. Keluarganya sudah tidak ada sekarang semuanya, sudah kosong. Santri pun juga sudah tidak ada," ujar Ketua RT setempat, Iwan Setiawan beberapa waktu lalu kepada awak media.
Kini, bangunan Ponpes Najmul Huda berdiri sunyi layaknya rumah hantu. Kekecewaan warga yang merasa nama baik kampungnya dikotori memuncak pada aksi pembongkaran plang dan gapura pesantren menggunakan gerinda.
"Bukannya kita rasa malu lagi, justru kita sangat merasa dikotori. Muka saya juga, juga muka tokoh-tokoh warga di sini. Jadi sangat kecewa. Kok seorang ustaz, dai kondang sampai melakukan hal yang tidak senonoh," kata Iwan meluapkan amarah warga.
Ia menjelaskan bahwa pembongkaran tersebut juga dilakukan untuk membuka akses jalan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU).
Pencarian yang dilakukan aparat kepolisian bukannya tanpa hasil, jejak pelaku sempat terendus di provinsi tetangga. "Informasi dari penyidik, pelaku sempat terdeteksi di Tangerang, tapi kemudian kabur. Sekarang masih diburu," terang Lutfi Imanullah selaku pendamping korban.
Sekadar diketahui, rentetan perbuatan keji MSL terkuak dari sebuah insiden pada Februari 2026. EY (55), perwakilan orang tua korban, menaruh curiga melihat anaknya yang belakangan sering melamun dan menangis namun tetap aktif dengan gawainya.
"Pas awal ketahuan ini, ketahuan itu, bunda korban kenapa ini anak melamun nangis. Terus dia WA ke teman-temannya, ibunya penasaran diambil lah HP-nya. Pas dicek HP-nya luar biasa isinya," ungkap EY.
Percakapan memilukan antarsantriwati akhirnya terbongkar, menyibak tabir kejahatan yang rupanya telah berlangsung sejak 2021 hingga 2025.
Dalam melancarkan aksinya, MSL memanipulasi kepolosan para santrinya yang rata-rata baru berusia 14 hingga 15 tahun.
"Awalnya bujuk rayu ada juga yang modusnya pengobatan terus ada ijazah supaya dapat ilmu. Pelecehannya tidak sampai berhubungan, jadi ada yang diraba-raba, ditelanjangi, dibawa ke hotel, dipegang-pegang, diciumi," beber Rangga menceritakan siasat sang kiai.
Kepolosan anak-anak itu dimanfaatkan penuh oleh pelaku yang memiliki relasi kuasa.
"Anak itu ada yang ditanya kenapa bisa terjadi dan tidak melawan? Karena ya itu ada istilahnya dia ini ke guru kiai. Keduanya memang ada sesuatu, kalau ada kejadian itu dia diberikan doa," tambah EY menceritakan kepasrahan korban.
Bahkan, pelaku tak segan menjebak korbannya ke sebuah penginapan di Kadudampit.
"Istilahnya 'ini Abi ada perlu, mau nganter nggak?' Nah gitu modusnya," lanjut EY.
Ironisnya, saat kasus ini mulai terendus pada 2023, pihak keluarga korban sempat memilih bungkam akibat kuatnya intimidasi.
"Ada intimidasi sebelum pelaporan. Seperti ancaman, juga sempat menawarkan sejumlah uang supaya kasus ini tidak dibawa ke media atau ke jalur hukum. Maunya diselesaikan secara musyawarah saja," ungkap SC (40), keluarga dari pihak korban.
