Sebanyak 13 kiai pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat (Jabar) tertipu janji manis pembangunan dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kerugian per orang ditaksir mencapai Rp 700-800 juta.
Kasus dugaan penipuan ini dijalankan sekelompok orang yang mengaku berasal dari koperasi berinisial DSN. Adapun ke-13 kiai yang tertipu tersebut berasal dari berbagai daerah, mulai dari Cirebon, Kuningan, Depok, Bekasi, hingga Sukabumi.
Sebelum belasan kiai ini tertipu lebih jauh, oknum yang mengaku dari koperasi tersebut menjanjikan pihak pesantren bakal mengelola program MBG. Namun syaratnya, setiap pesantren wajib menyiapkan lahan seluas 400 meter persegi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah lahan tersedia, para kiai diminta menyiapkan kontraktor sendiri untuk membangun dapur MBG. Namun sebelum pembangunan dimulai, para kiai diminta menyerahkan uang pendaftaran dengan nominal Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Dari hasil perhitungan, proses pembangunan dapur MBG membutuhkan biaya senilai Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,5 miliar. Sekelompok orang dari koperasi ini bahkan nekat meminta fee kepada para kontraktor sebesar 8-10 persen, atau sekitar Rp 72 juta agar proyek tersebut bisa berjalan.
Bahkan, untuk meyakinkan para korban, mereka mengajak pengasuh pondok pesantren berkunjung ke kantornya di wilayah Cianjur. Dari sinilah, kecurigaan mulai muncul di benak para kiai di Jabar tersebut.
Sebab ternyata, kantor koperasi itu terbilang tak layak untuk sebuah lembaga yang mengklaim sebagai mitra program nasional MBG. Bahkan menurut penuturan para kiai, kondisi kantor tersebut tak jauh berbeda dengan tempat pemancingan.
"Kalau awal-awal enggak ada curiga. Tapi ada para kiayi itu yang mengatakan, mereka kan diundang ke Cianjur, katanya kantornya di sana," kata Pengurus LBH PP Pemuda Ansor sekaligus Advokat dan Koordinator Tim Hukum Pesantren Korban Dapur MBG Koperasi DSN, Afriendi Sikumbang saat berbincang dengan detikJabar, Selasa (12/5/2026).
"Sebenarnya beberapa kiayi ketika datang ke Cianjur itu mereka merasa curiga ketika melihat kantor koperasinya. Itu kalau bahasa para kiayi kemarin, tempatnya kayak tempat mancing gitu. Jadi ada yang agak ragu. Masak kantor koperasi yang katanya dia sebagai mitra MBG, bahkan mau menawarkan kerja sama dengan pesantren itu kantornya enggak layak lah," ujarnya menambahkan.
Entah kenapa, kecurigaan ini tampaknya belum cukup membuat belasan kiai di Jabar tersebut berhenti. Mereka tetap melanjutkan proses pembangunan dapur MBG sebagaimana yang telah dijanjikan semula.
Setelah pembangunan dapur MBG mencapai tahap 80 persen, kecurigaan kian menguat. Pihak koperasi tersebut mendadak tidak bisa dihubungi sejak akhir 2025 hingga sekarang.
Ketiga belas kiai di Jabar ini kemudian mengadukan kasus tersebut ke LBH PP Pemuda Ansor. Mereka menuntut keadilan karena perkara ini berpotensi terus menambah daftar panjang korban penipuan dengan modus serupa.
Afriendi mengatakan, LBH PP Pemuda Ansor berencana melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri pada pekan depan. Sebab berdasarkan data yang dihimpun, kasus serupa ternyata tidak hanya terjadi di wilayah Jabar.
"Kalau data korban bertambah. Di Sumsel melalui jaringan NU itu kalau enggak salah itu ada sekitar 20 pesantren yang sudah kena kayak gini. Kita targetnya kan masih nunggu ini data-data dari pondok. Kita berharap yang 13 itu untuk awal ini. Jadi, minggu depan InsyaAllah mau kita lapor ke Bareskrim," ujarnya.
Menutup perbincangannya, ia mengatakan para kiai yang tertipu modus program MBG berharap bisa mendapatkan keadilan. Saat ini, para kiai tersebut merasakan malu lantaran kejadian ini telah mencoreng citra institusi pesantren.
"Program ini kan jadi prioritas pemerintah sekarang, kemudian melibatkan pihak-pihak lain. Jadi karena kasus ini, itu merusak citra pesantren. Kiai-kiai itu merasa tertipu, dia juga merasa malu kalau di daerah itu katanya. Harapannya tentu mereka ingin ada proses penegakan hukum yang adil," pungkasnya.
Simak Video "Video: 107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam MBG "
[Gambas:Video 20detik]
(ral/mso)
