Seorang lansia bernama Kusnadi Chandra (80), warga Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, diduga disekap oleh pacar anaknya sendiri selama hampir satu tahun. Selama penyekapan itu, uang korban diduga dikuras hingga Rp 2 miliar dan emas sekitar 1 kilogram raib.
Saat pacarnya mulai bertanya-tanya ke mana ayahnya, Lisa mengatakan bahwa ayahnya jalan-jalan keliling Indonesia.
"Dijawab oleh pacarnya (Lisa) bahwa engkong lagi 'jalan-jalan sama bapak saya'. 'Jalan-jalan ke mana?' 'Keliling Indonesia lah pokoknya mau menikmati hari tua'," ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan menirukan fakta yang didapatkan dari hasil penyelidikan kasus ini, Jumat (8/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluarga Kusnadi mulanya percaya. Kecurigaan mulai muncul setelah Kusnadi tak kunjung pulang hingga hampir satu tahun lamanya. Selain itu, Lisa tiba-tiba menghilang dan berganti nomor telepon sejak Februari 2026.
"Dan akhirnya kemudian setelah kemarin melaporkan ke kami, kami lakukan penyelidikan dan akhirnya kami dapatkan bahwa korban ini disekap di salah satu kamar yang ada di Surabaya. Salah satu apartemen," kata Luthfie.
Kusnadi berhasil dibebaskan dari kamar apartemen tempat dirinya disekap. Dalam waktu yang hampir bersamaan, polisi akhirnya juga berhasil menangkap Lisa di Surabaya pada 16 April 2026.
Awal Penyekapan
Drama penyekapan ini bermula dari perkenalan hingga hubungan asmara yang terjalin antara Lisa dengan Agus Pranoto pada 2025. Lisa sempat tinggal di rumah korban dikenal sangat dekat dengan keluarga Kusnadi.
"Mulanya anaknya punya atau kenalan dan kemudian berpacaran dengan tersangka, lalu dalam perjalanannya mereka sempat agak renggang pacaran, tetapi sebelumnya pacar ini sudah dekat ya dengan keluarga termasuk juga dengan korban ini, kakek yang umur 80 tahun ini," kata Luthfie, Jumat (8/5/2026).
Aksi penyekapan dimulai pada Oktober 2025. Saat itu, Lisa meminta Kusnadi bertemu di suatu lokasi, namun korban justru dihadang dua pria dan dibawa ke sebuah apartemen di kawasan Mulyorejo. Para pelaku berdalih salah satu anak korban memiliki masalah ekonomi dan utang yang harus dibayar.
Selama disekap, Kusnadi dipindahkan ke beberapa lokasi dan dikurung tanpa alat komunikasi.
"(Korban) dikurung di dalam satu kamar. Jadi tanpa handphone, tanpa apapun, setiap hari dikasih paket makanan gitu. Dan berpindah-pindah di beberapa tempat," jelas Luthfie.
Harta Korban Dikuras
Selama penyekapan, Lisa diduga menguras ATM korban yang ia kuasai sebelumnya dengan alasan membantu membayar tagihan. Uang tersebut digunakan pelaku untuk gaya hidup mewah, termasuk tinggal di hotel dengan tarif Rp 2 juta per malam saat berpacaran dengan anak korban.
"ATM itu terus dipegang oleh tersangka dan terus dikuras duit sampai kurang lebih 2 M dihitung sampai dengan saat ini. Dan setelah kembali ke rumah ternyata diketahui juga bahwa emas dan perhiasan yang kurang lebih nilainya juga di kisaran 1 kg emas itu ternyata juga sudah tidak ada di kamarnya," jelas Luthfie.
Kini, Lisa bersama pembantunya yang bernama Naily telah ditahan. Polisi juga masih memburu dua pria yang membantu melakukan penyekapan.
Saat ini polisi sedang mendalami pelaku lain. Termasuk di antaranya 2 orang yang membantu Lisa menyekap Kusnadi.
"Kita sedang dalami pelaku-pelaku lain termasuk 2 orang yang nyekap dan ada mungkin indikasi pelaku-pelaku lain," pungkasnya.
Atas perbuatan yang dilakukan, Lisa dan Naily akan dijerat dengan pasal berlapis dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait penyekapan dan pencurian.
Artikel ini telah tayang di detikJatim. Baca selengkapnya di sini.
(yum/yum)
