Peran WNA Diungkap dalam Sidang Kasus Sabu 1 Ton di Pangandaran

Peran WNA Diungkap dalam Sidang Kasus Sabu 1 Ton di Pangandaran

Wisma Putra - detikJabar
Selasa, 04 Okt 2022 17:11 WIB
Sidang kasus penyelundupan sabu 1 ton di Pangandaran.
Sidang kasus penyelundupan sabu 1 ton di Pangandaran. (Foto: Wisma Putra/detikJabar)
Bandung -

Empat terdakwa penyelundup sabu seberat 1 ton di Pangandaran, Jawa Barat menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jalan LRE Marthadinata, Kota Bandung, Selasa (4/10/2022).

Empat terdakwa ini adalah Mahmud Barahui WNA Afghanistan, Hendra Mulyana, Heri Herdiana dan Andri Hardiansyah.

Dalam persidangan, terungkap jika barang haram itu dikendalikan oleh seseorang bernama Rais yang belum diketahui keberadaanya. Rais merupakan seorang pria dan merupakan seorang WNA.


Majelis hakim bertanya kepada terdakwa Hendra, didistibusikan dari siapa dan dari mana asal usul sabu tersebut.

"Mahmud (distribusi), dari Rais (asal sabu), saya nggak kenal," kata Hendra.

Hendra menyebut, dirinya kenal dengan Rais melaui sambungan telepon. Hendra menuturkan sabu tersebut akan disimpan di sebuah gudang yang disewanya. Sementara itu, Rais memintanya pergi jika sabu itu berhasil disimpan di gudang.

"Di gudang, dikunci, kamu pergi yang jauh, Rais suruh saya, kamu pergi yang jauh," ucap Hendra.

Hendra sendiri menyadari jika sabu itu adalah barang yang dilarang diperjualbelikan di Indonesia. "Iya yang mulia, saya butuh uang, iya sadar, iya yang mulia (sudah tahu)," ujarnya.

Hal serupa juga dikatakan WNA Afganistan Mahmud Barahui, jika sabu itu berasal dari Rais.

"Atas permintaan siapa sabu didistibusikan? Pernah bertemu dengan rais?" tanya Majelis Hakim.

"Rais, tidak," kata Barahui melalui transleternya.

Kepada majelis hakim, Barahui mengatakan ia merupakan WNA Afganistan. Ia membawa sabu tersebut melalui jalur laut Pakistan. Barahui mengaku, ia tak memiliki surat-surat izin memasuki wilayah Indonesia.

"Dari (lewat laut) Pakistan, nggak punya (surat), lewat laut," ujarnya.

Dalam perkara ini, Mahmud dijerat Pasal 114 Ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) UU RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika sebagaimana dakwaan pertama. Sementara dakwaan kedua Pasal 112 Ayat (2) Jo Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Merujuk pada Pasal 132 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. Para terdakwa dapat diancam hukuman hingga pidana mati.

Diberitakan sebelumnya, Mahmud bersama tiga terdakwa lain menyelundupkan sabu-sabu melalui kapal. Sabu-sabu itu diselundupkan ke Pantai Madasari, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran pada 16 Maret 2022 lalu.

Berdasarkan dakwaan JPU, total sabu yang diselundupkan para terdakwa mencapai 1.018,85 kilogram atau 1 ton lebih. Jaksa menaksir nilai transaksi apabila sabu itu lolos mencapai Rp 1,43 triliun.

(wip/orb)