Jabar X-Files: Jejak Hitam Yuyu, Seks Inses di Samping Mayat Anak Angkat

Jabar X-Files: Jejak Hitam Yuyu, Seks Inses di Samping Mayat Anak Angkat

Syahdan Alamsyah - detikJabar
Senin, 26 Sep 2022 07:30 WIB
Ibu bunuh anak angkat di sukabumi
Ibu bunuh anak angkat di sukabumi (Foto: Syahdan Alamsyah)
Sukabumi -

Sebuah tragedi pembunuhan mengoyak nalar terjadi di Kabupaten Sukabumi pada Minggu 22 September 2019 silam. Rentetan kasus yang bermula dari penemuan mayat bocah perempuan berusia 5 tahun menjalar pada terbongkarnya skandal hubungan sedarah atau inses antara ibu kandung dengan dua putranya.

Kesunyian di Kampung Platar RT 02 RW 06 Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, tiba-tiba terkoyak, teriakan parau yang terdengar dari arah tepian Sungai Cimandiri, waktu saat menunjukan pukul 13.00 WIB, Minggu 22 September 2019.

"Ada mayat, ada mayat..!" pekik warga kala melihat sesosok jasad bocah perempuan tergeletak dengan kondisi tubuh terlihat tidak wajar. Penemu mayat adalah seorang pencari ikan di sungai, secepat kilat kabar itu menyebar ke seantero kampung, warga melaporkan temuan itu ke aparat kepolisian.


"Pokoknya pas hari itu semua warga heboh, tidak ada yang mengenali karena memang anak perempuan itu bukan warga sini. Jasad korban sudah kaku namun tidak ada kerusakan atau luka di tubuhnya, kalau dugaan kita sejak awal memang korban ini belum lama hanyut di sungai," kata Padri, warga di sekitar lokasi saat ditemui dua hari usai penemuan mayat.

Ibu bunuh anak angkat di sukabumiLokasi penemuan mayat bocah berusia 5 tahun di Sukabumi yang dibunuh ibu angkat (Foto: Syahdan Alamsyah)

Kabar soal penemuan mayat itu awalnya tersimpan rapat-rapat, sampai kemudian sejumlah kejanggalan mengemuka dan memantik rasa penasaran sejumlah awak media yang saat itu langsung memburu informasi seputar penemuan mayat bocah perempuan tersebut.

Tidak perlu waktu lama, identitas korban akhirnya terungkap. Korban diketahui tinggal bersama keluarga angkatnya di Kampung Bojongloa, Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Usai autopsi, jasad bocah malang itu lantas dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Bisik-bisik warga di sekitar lokasi, korban tinggal bersama keluarga angkatnya yang mengontrak rumah di kampung tersebut selama 1 tahun. Sementara ibu kandung korban merupakan warga Kampung Jayamekar, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi.

"Mereka jarang bergaul dan terkesan tertutup, jadi kita tidak tahu pasti. Mereka memang baru tinggal di sini ada sekitar 1 tahunan, selain korban ada juga dua laki-laki anak kandung SR dan suaminya D tinggal di rumah itu," kata salah seorang warga kepada detikcom.

Korban Dibunuh dan Jasadnya Dibuang ke Sungai

Polisi lantas turun tangan, sejumlah kejanggalan juga membuat polisi melakukan autopsi terhadap mayat bocah tersebut. Dari hasil penyelidikan polisi akhirnya keluarga korban ditemukan yaitu Sri Rahayu alias Yuyu (36) yang kemudian diinisialkan sebagai SR oleh polisi. Dia adalah ibu angkat korban.

Yuyu merupakan warga Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi. Daerahnya belasan kilometer dari lokasi temuan mayat. Polisi melihat banyak kejanggalan di mayat korban, sehingga memutuskan untuk mengautopsinya. Polisi juga mencurigai gerak-gerik SR.

"Ibu angkatnya ini sempat mengarang alasan, ada katanya korban ini epilepsi dan lain-lain. Itu upaya dia menutupi sebab kematian korban," ujar Kapolres Sukabumi yang saat itu dijabat AKBP Nasriadi, Selasa (24/8/2019).

Bahkan, kata Nasriadi, saat prosesi pemakaman, SR menunjukkan wajah duka dengan maksud menutupi perbuatannya.

"Ibu angkatnya sempat pura-pura menangis, saat itu petugas sebenarnya sudah mengantongi beberapa petunjuk namun tidak mau gegabah. Setelah dirasa lengkap para pelaku kita tangkap Senin (23/9/2019) malam tadi" ujar Nasriadi.

Sebab kematian korban terungkap, ada kerusakan di bagian kelamin korban serta beberapa luka di sekujur tubuh korban.

"Korban diketahui telah diperkosa oleh dua kakak angkatnya, setelah itu korban dipukul lalu dicekik hingga tewas oleh ibu angkatnya. Setelah itu mayat korban dibuang ke Sungai Cimandiri dan terseret hingga belasan kilometer sampai akhirnya ditemukan warga," ujar Nasriadi.

Ibu bunuh anak angkat di sukabumiIbu bunuh anak angkat di sukabumi Foto: Syahdan Alamsyah

Skandal Inses Ibu dan Dua Anak

Cerita tidak sampai di situ, kematian bocah NP, membongkar kelakuan SR yang biadab dan di luar nalar. SR diketahui melakukan hubungan sedarah atau inses dengan dua puteranya yang masih berusia 14 dan 16 tahun.

SR juga diketahui memerintahkan mereka memerkosa korban NP. Namun melihat keduanya melampiaskan seksualnya pada korban, ia cemburu sehingga membunuh bocah perempuan tak berdaya itu.

"Korban diketahui diperkosa oleh kakak-kakak angkatnya, peristiwa itu sudah berlangsung selama 3 bulan," kata Nasriadi.

Biadabnya aksi pemerkosaan itu diketahui oleh SR, ibu kandung dua pelaku yang juga ibu angkat korban. Bahkan beberapa kali SR memerintahkan dua anaknya itu untuk memerkosa korban.

"Entah apa yang mendasari peristiwa ini, namun keterangan para pelaku mereka diperintahkan oleh ibunya untuk memperkosa korban. Bahkan ada juga momen di mana pemerkosaan itu dilakukan kedua pelaku yang masih berusia 16 dan 14 tahun di depan ibunya," kata Nasriadi setengah bergidik.

Ia pun menyebut setelah korban dibunuh, ketiga pelaku melakukan hubungan seks inses di sebelah mayat korban.

"Yang lebih zolimnya lagi, ibu kandung dan kedua anak kandung melakukan hubungan intim di dekat mayat korban, hubungan biadab ini antara ibu dengan anak, kakak dengan adik angkatnya, ini karena sering menonton film porno dan berhalusinasi sehingga melampiaskan kepada ibu kandung dan adik angkatnya," ujar Nasriadi.

Hasil Pemeriksaan Kejiwaan SR

Uraian dari fakta-fakta itu, polisi memeriksa kejiwaan dari SR. Namun keterangan medis akhirnya mengungkap SR dipastikan tidak mengalami gangguan jiwa.

Hal itu dikatakan Dokter Spesialis Jiwa RSUD Syamsudin SH, Kota Sukabumi, Tommy Hermansyah yang melakukan pemeriksaan kejiwaan pada ibu dan dua anak kandungnya itu.

"Setelah saya lakukan anamnesa selama 2 jam kami periksa tidak ada gangguan kejiwaan. Saya diminta oleh kepolisian untuk memeriksa kondisi pasien, ternyata memang tidak ada gejala-gejala tersebut. Sudah saya koreksi lagi cek lagi, gali awal sampai akhir. Secara psikiatrinya tidak ada," kata Tommy di ruang kerjanya, Kamis (26/9/2019).

Kembali ke soal hubungan terlarang, polisi menemukan beberapa fakta dan bukti dari tempat tinggal SR. Hubungan inses itu terungkap bukan hanya dari pengakuan para pelaku. Polisi menemukan ceceran sperma saat menggeledah rumah kontrakan tiga pelaku pembunuhan bocah tersebut di Kampung Bojongloa, Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi.

"Ada yang menempel di pakaian, kasur, dan beberapa tempat lain. Akhirnya terkuak, ada hubungan sedarah antara ibu dan anak kandung. Ternyata hubungan inses ini sudah sering dilakukan ketiganya," kata Kapolres Nasriadi.

Vonis 13 Tahun untuk Kasus Pembunuhan Anak Angkat

Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kota Sukabumi memvonis SR terdakwa kasus pembunuhan anak angkat dan inses anak sendiri hukuman 13 tahun bui. Yuyu terbukti bersalah atas perbuatannya.

"Menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa selama 13 tahun penjara," ucap hakim dalam kutipan persidangan yang diterima detikcom dari humas PN Kota Sukabumi Parulian Manik.

Selain menjatuhkan hukuman penjara, Yuyu juga diminta untuk membayar denda. Hakim menjatuhkan denda Rp 1 miliar kepada Yuyu untuk dibayar.

"Apabila tidak dibayar diganti (subsidair) tiga bulan kurungan," katanya.

Hakim juga memvonis anak dari Yuyu yang berusia 16 tahun hukuman penjara selama tujuh tahun enam bulan penjara ditambah pelatihan kerja selama sepuluh bulan. Lalu adiknya yang ketika itu berusia 14 tahun divonis satu tahun mengikuti pelatihan kerja di panti sosial rehabilitasi anak berhadapan dengan hukum (PSR ABH) Cileungsi, Bogor, oleh Pengadilan Negeri Kota Sukabumi.

(sya/yum)