Dedikasi Dodo: Dari Petani Hutan hingga Relawan Api Ciremai

Dedikasi Dodo: Dari Petani Hutan hingga Relawan Api Ciremai

Fahmi Labibnajib - detikJabar
Kamis, 29 Okt 2026 09:00 WIB
Petani hutan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar Silihwangi Majakuning, Darsa atau akrab dipanggil Dodo (51)
Petani hutan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) Padabeunghar Silihwangi Majakuning, Darsa atau akrab dipanggil Dodo (51) (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar).
Kuningan -

Bagi masyarakat di lereng Gunung Ciremai, sosok Darsa atau yang akrab disapa Dodo (51) dari Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Padabeunghar, Silihwangi Majakuning, bukanlah nama yang asing. Pria yang menjadi petani hutan sejak usia remaja ini telah menjadikan Gunung Ciremai bukan sekadar tempat mencari penghidupan, melainkan rumah dan bagian dari jalan hidupnya.

Dodo memaparkan bahwa profesi menjadi petani hutan merupakan profesi yang dilakoni turun-temurun oleh keluarganya. Dodo mengaku bahwa ia sendiri sudah mulai menjadi petani hutan sejak usianya masih 14 tahun. Kala itu, ia diajak ayahnya untuk pergi ke hutan Gunung Ciremai untuk mencari buah yang sudah bisa dipanen.

"Dari 14 tahun sudah digendong-gendong di ajak ke hutan sama orang tua kalau saya. Saya kan anak petani nih, anak petani hutan. Jadi mewarisi sifat orang tua," tutur Dodo, Rabu (28/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dodo memaparkan, dulu menjadi petani hutan merupakan pekerjaan yang sangat menjanjikan. Menurutnya, sebelum menjadi kawasan konservasi dan masih dikelola oleh Perhutani, Gunung Ciremai menyimpan berbagai macam hasil tani seperti umbi-umbian, singkong, jengkol, pisang, dan berbagai macam buah-buahan lainnya.

ADVERTISEMENT

"Dulu dari sini ada penghasilan umbi-umbian, pisang, banyaklah yang bisa dipetik dari hutan. Sekarang kan sama sekali nggak boleh. Dulu kita bisa ngirim ke pasar-pasar di Rajagaluh, ke pasar Sumber. Sekarang di balik, kita pengen singkong aja kita beli dari bawah. Orang gunung beli pisang dan singkong dari pasar di bawah," tutur Dodo.

Meski kini mulai berkurang, Dodo tidak patah semangat. Ia terus beradaptasi dengan membudidayakan tanaman, seperti kopi arabika di zona tradisional, serta mengelola objek wisata Bukit 1000 Bintang. Namun, karena COVID-19 dan kurangnya dukungan, wisata yang dikelola Dodo dan masyarakat setempat menjadi tidak berkembang.

"Kalau milik saya baru kemarin tuh paling satu kuintalan, karena baru usia 3 tahun. Terakhir kita kan, saya kan mengelola wisata yang Bukit Seribu Bintang tersebut. Dikarenakan Covid jadi wisata saya enggak kerawat, bahkan sampai sekarang masih terbengkalai. Intinya saya tinggalkan untuk sementara," tutur Dodo.

Terlibat dalam Karhutla Gunung Ciremai

Sebelum dirinya viral karena menyelamatkan hewan endemik berupa bayi surili dari kobaran api yang membakar Gunung Ciremai pada Kamis (22/10/2026) lalu, Dodo mengaku bahwa ia sudah beberapa kali ikut terlibat dalam penanganan kebakaran hutan. Menurutnya, salah satu yang cukup parah adalah ketika terjadi pada 2018 yang lalu di mana kebakaran melanda Gunung Ciremai hingga ke area puncak dan membakar hingga 150 hektare hutan Gunung Ciremai.

Kala itu, kondisi medan yang terjal, angin yang besar, logistik yang terbatas, serta belum terkoordinasinya para relawan dan petugas membuat penanganan kebakaran hutan Gunung Ciremai menjadi sangat lambat. Menurutnya, membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa memadamkan kebakaran di Gunung Ciremai.

"Tahun 2014, 2015, 2018 itu parah. Tapi 2018 paling parah Sampai 150 -160 hektar. Api sampai ke abu puncak abu vulkanik. Sampai 18 hari itu di hutan terus menginap di hutan baru bisa padam. Berjibaku memadamkan api di tengah hutan. Ya kesulitan pasti karena yang terbakar itu di bebatuan purba, anjlok, curam. Berjam-jam kita harus jalan untuk menuju ke titik api. Penanganannya juga belum terkoordinir kayak sekarang, logistik juga terbatas. Saat itu masih belum ada paguyuban Silihwangi Majakuning, " tutur Dodo.

Dodo memaparkan keahlian memadamkan api di kawasan pegunungan yang terjal merupakan kemampuan yang terasah secara alami oleh para petani hutan. Bahkan hingga kini, meski kebakaran Gunung Ciremai sudah padam, para petani hutan masih diminta untuk memantau dan berkeliling ke titik rawan kebakaran.

"Ya otodidak aja, karena kita menguasai lahan. Kita harus paham arah angin dari mana, kita harus memposisikan diri di mana. Apa yang bisa kita lakukan ketika api besar, dan apa yang bisa kita lakukan ketika api mengecil," tutur Dodo.

Bagi Dodo, kebakaran hutan tidak hanya merugikan dirinya selaku petani hutan, tetapi juga satwa dan tumbuhan di dalamnya. Meski pendapatannya dari menjadi petani hutan di Gunung Ciremai tidak sebanyak dulu, ia tetap berharap Gunung Ciremai tetap lestari dan terus memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar.

"Harapan saya ini harus betul-betul kompaklah kolaborasi, baik masyarakat penyangga, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, sampai provinsi. Bagi saya, hutan adalah segalanya," pungkas Dodo.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 64 Pesawat Perkuat Operasi Pemadaman Karhutla"
[Gambas:Video 20detik] (mso/mso)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads