Pengalaman Ngeri Gugum Nyaris Buta Disembur Bisa Kobra

Kabupaten Kuningan

Pengalaman Ngeri Gugum Nyaris Buta Disembur Bisa Kobra

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Minggu, 18 Okt 2026 11:00 WIB
Gugum Gumilar seorang petugas pemadam kebakaran yang pernah terkena semburan bisa kobra.
Gugum Gumilar seorang petugas pemadam kebakaran yang pernah terkena semburan bisa kobra. (Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar)
Kuningan -

Menjadi seorang pemadam kebakaran tidak hanya dituntut untuk memadamkan api, tetapi juga harus siap menghadapi berbagai situasi darurat yang kerap tak terduga di lapangan. Bahkan, tak jarang situasi darurat tersebut dapat membahayakan diri sendiri.

Hal itulah yang dialami oleh petugas pemadam kebakaran Kuningan, Gugum Gumilar (41). Sudah 15 tahun lebih Gugum menjadi petugas pemadam kebakaran. Gugum memaparkan, awalnya ia hanya seorang petugas di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR). Namun, seiring berkembangnya kelembagaan, Gugum kemudian dipindahkan menjadi petugas pemadam kebakaran.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di Damkar, alhamdulillah sekitar 15 tahun. Tadinya waktu dulu kan masih ngikut ke PU ya. Kebetulan dulunya kebanyakan anggota dari pemadam itu dari sana, dari PU. Intinya dari sana, pemadam kebakaran kekurangan anggota. Nah, dari sana jadi penempatannya ke sini," tutur Gugum.

Gugum memaparkan, salah satu hal berbahaya yang pernah ia alami saat menjadi petugas pemadam kebakaran adalah ketika mengevakuasi ular kobra. Bahkan, saat mengevakuasi ular kobra yang masuk ke rumah warga, Gugum pernah mendapatkan semburan bisa pada wajah dari ular tersebut.

ADVERTISEMENT

Sambil menunjukkan bagian wajah yang terkena semburan kobra, Gugum mengenang peristiwa yang terjadi pada 2018 lalu. Kala itu, ia mendapatkan laporan tentang adanya ular yang masuk ke rumah warga di Desa Pangkalan, Ciawigebang. Sesampainya di lokasi, kobra Jawa tersebut sedang berada di atas lemari.

Karena ular berada di atas lemari, Gugum mencoba mendekatinya dengan tangga. Namun, saat mulai mendekat, tiba-tiba ular kobra tersebut keluar dan menyemburkan bisa hingga mengenai area dahi yang saat itu tidak terlindungi masker pengamanan.

Meski ukuran ular kobra tersebut kecil, sekitar 70 sentimeter, cairan bisa ular tersebut mengalir ke arah bawah wajah, tepatnya di area mata kiri. Melihat bisa yang mulai turun ke area mata, saat itu juga Gugum langsung membasuh bisa tersebut dengan air mengalir. Menurutnya, jika langsung digosok, bisa tersebut bisa langsung menyebar dan menyebabkan kebutaan.

"Jadi posisi ular itu di atas lemari, saya di bawah. Pas naik ke atas, si ular itu nyembur. Kan kalau ular kobra itu bisa nyembur. Ular kobra Jawa itu bisa nyembur. Nyembur itu terkena ke kita, ke sini. Kan di sini ada keringat, nah dari keringat ke sini, arahnya ke sini, mata. Alhamdulillah sama saya nggak digosok, cuma dibasuh aja dan dicuci sama air yang mengalir. Seperti itu penanganannya. Kalau misalkan digosok, otomatis ini bisa menimbulkan buta atau kerusakan, " tutur Gugum.

Meski terhindar dari kebutaan, efek dari bisa ular yang masuk ke pori-pori dan mata tetap memberikan rasa sakit yang luar biasa hingga Gugum harus dilarikan ke rumah sakit. Menurut Gugum, rasa sakit akibat bisa ular kobra tersebut baru hilang setelah enam jam mendapatkan penanganan di rumah sakit.

"Perih. Perih, terus dari wajah bagian sini terasa ketarik-tarik, dari sini ketarik Hampir 6 jam lah rasa sakitnya. Untuk penanganan selanjutnya kita ke rumah sakit, alhamdulillah dari pimpinan kami yang dulu sama Pak Danru, sekalian dibawa ke sana," tutur Gugum.

Tak hanya pengalaman menegangkan, Gugum juga pernah menangani permintaan pertolongan yang tidak biasa, seperti permintaan untuk membuka alat masak berupa tutup wajan yang sulit dibuka. Gugum memaparkan, kala itu tepat di hari raya Idulfitri, datang seorang warga sambil membawa wajan yang rencananya digunakan untuk memasak daging untuk dihidangkan di hari raya.

Namun, karena wajan tersebut sulit dibuka dan sang pemilik sudah frustrasi, akhirnya sang pemilik datang ke Damkar Kuningan untuk meminta bantuan pelepasan tutup wajan. Selain wajan, ia juga pernah mendampingi warga yang mengalami kesurupan.

"Seperti membuka tutup wajan pas hari raya. Warganya datang ke sini membawa wajan. Wajannya susah dibuka, mau masak daging tuh. Kan wajan itu ada semacam langsung tutupnya kan, nah susah dibukanya. Terus terus kesurupan juga pernah. Diajak ngobrol aja, tapi kalau misalkan hal yang tanda kutip mungkin ada salah satu orang yang mungkin yang bisa menangani kesurupan, kita mah hanya sebatas membantu, menenangkan," tutur Gugum.

Gugum memaparkan, seluruh tugas yang ia laksanakan semata-mata karena ada rasa tanggung jawab pada pekerjaan. Ia hanya berharap, semoga ke depan segala sarana dan prasarana serta kesejahteraan petugas pemadam kebakaran dapat lebih ditingkatkan lagi.

"Alhamdulillah aman. Semuanya aman, penanganan itu benar-benar safety dijaga. Terus sarpras-sarpras yang lainnya mungkin harus kita ditambah. Seperti anti bisa, serum, kayak gitu. Kesejahteraan anggota itu yang paling utama harus diperhatikan juga," pungkas Gugum.

Sementara itu, Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kuningan, Andri Arga Kusuma memaparkan, keselamatan anggota memang jadi prioritas utama dalam menangani setiap laporan yang masuk. Menurutnya, semburan bisa ular kobra sebenarnya sering petugas Damkar alami. Namun, karena petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, semburan tersebut jarang mengenai area tubuh.

"Kita cuman menggunakan APD aja, pakai masker ya, pakai facial, itu biar berapa kali king kobra nyembur juga, tapi untungnya pakai facesil, jadi nggak kena mata gitu," pungkas Arga.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads