Angin sepoi-sepoi menyapa lembut saat kaki melangkah menuju Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, Kuningan. Di sana, di tengah hamparan hijau yang membentang luas, berdiri sebuah tempat bersahaja bernama Saung Buhun Sudi Mampir.
Bagi mereka yang merindukan suasana pedesaan otentik dengan balutan kuliner tradisional, tempat ini seolah menjadi oase di tengah hiruk-pikuk rutinitas.
Perjalanan menuju lokasi pun menjadi pengalaman tersendiri. Pengunjung akan disambut oleh gapura ikonik objek wisata Sawah Lope, sebelum kemudian menyusuri jalanan yang dihiasi deretan bambu artistik. Di sisi jalan, aliran air irigasi yang jernih mengalir tenang, sementara di atasnya berjajar lampu hias dan gazebo kayu yang mengundang siapa saja untuk sejenak duduk bersantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Begitu sampai di bangunan kayu bertuliskan Saung Buhun Sudi Mampir, aroma nostalgia langsung menyeruak. Di meja kayu, tersaji aneka kudapan yang kini mulai jarang ditemui di pusat kota. Sore itu, kepulan uap dari bajigur hangat bersanding manis dengan kacang rebus, ubi, pisang, hingga jagung rebus. Semuanya dinikmati dengan latar megahnya Gunung Ciremai yang berdiri kokoh di kejauhan.
Darsono, sang pengelola, adalah sosok di balik konsep yang kental dengan nuansa masa lalu ini. Baginya, Saung Buhun bukan sekadar tempat usaha, melainkan ruang untuk merawat ingatan akan masa kecil yang sederhana namun menyehatkan.
"Awalnya karena sering nongkrong ngopi di rumah rumah terus kepikiran bikin usaha. Akhirnya kita ngajuin ke Sawah Lope buat bikin usaha warung Buhun. Akhirnya jadi. Memilih konsep tradisional karena secara pribadi dan rekan-rekan mengenang masa lalu lah. Kita lahir di tahun 80-an, merasakan makanan-makanan seperti ini gitu," tutur Darsono.
Suasana Saung Buhun Sudi Mampir Sawah Lope Kuningan Foto: Fahmi Labibinajib/detikJabar |
Namun, ada cerita yang lebih menyentuh di balik setiap gigitan kue tradisional di sini. Darsono tidak bekerja sendirian; ia merangkul para ibu di sekitar desa untuk ikut berdaya secara ekonomi. Kudapan yang tersaji merupakan titipan dari tangan-tangan terampil warga sekitar, sebuah kolaborasi yang menghidupkan dapur banyak keluarga.
"Ada sekitar 12 ibu-ibu yang terlibat menyetor berbagai jenis jajanan pasar dan kue tradisional.Masing-masing punya sendiri. Ada yang misalkan onde-onde 1, terus klepon 1, terus tadi buras 1, lontong, kayak gitu. Getuk, martabak mini. Tadi jam 4 pada setor ke sini. Nanti malam dibayar di rumahnya masing-masing," jelas Darsono.
Meski baru beroperasi beberapa bulan, antusiasme masyarakat begitu luar biasa. Setiap sore hingga malam, puluhan pengunjung memadati saung ini, membawa perputaran uang yang cukup signifikan bagi desa. "Alhamdulillah kalau yang habis. Walaupun nggak habis, kita kembalikan ke ibu-ibunya. Jadi yang dibayar ke ibu-ibu itu yang habisnya aja.Paling sedikit Rp1.000.000 sampai Rp1.500.000 omsetnya. Itu keseluruhan, dari banyak makanan," tambahnya.
Rani, salah satu pengunjung setia, tampak asyik bercengkerama bersama rekan-rekannya di salah satu gazebo. Baginya, perpaduan udara sejuk, pemandangan hijau, dan camilan sehat adalah alasan utama mengapa ia sering kembali ke sini. Hal senada diungkapkan oleh Barnas, yang sore itu tampak sangat menikmati suasana tenang di Saung Buhun.
"Sering ke sini mah. Sejuk suasananya. Adem, pemandangannya juga bagus. Apalagi di sini menunya jajanan tradisional yang terjangkau dan menyehatkan," pungkas Barnas.
(dir/dir)

