Suara aktivitas pembangunan terdengar dari lingkungan SDN 1 Kedungjaya, Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (28/9/2026).
Sejumlah pekerja masih berjibaku menyelesaikan bangunan sekolah yang tengah direvitalisasi. Di tengah deru pembangunan, kegiatan belajar mengajar para siswa untuk sementara harus berlangsung di tempat lain.
Gedung serbaguna milik desa menjadi ruang belajar sementara bagi para siswa SDN 1 Kedungjaya selama proses revitalisasi berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekolah tersebut memang tengah menjalani pembenahan besar-besaran melalui program bantuan revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026. Nilai bantuannya mencapai Rp1,8 miliar.
Namun, pembangunan itu belum sepenuhnya rampung. Hingga Senin (28/9/2026), progres pengerjaan baru mencapai sekitar 40 persen.
Kondisi tersebut turut menjadi perhatian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti yang datang langsung meninjau pembangunan sekolah. Abdul Mu'ti disambut Bupati Cirebon Imron, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, serta jajaran sekolah.
Mengenakan rompi keselamatan dan helm proyek, Abdul Mu'ti kemudian berkeliling melihat langsung bagian-bagian sekolah yang sedang dibangun dan diperbaiki.
Ia memastikan proses revitalisasi berjalan sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
"Bersama Pak Direktur SD dan Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat, kami meninjau pembangunan SD Negeri 1 Kedungjaya yang mendapatkan bantuan revitalisasi tahun 2026," ujarnya.
Bantuan sebesar Rp1,8 miliar tersebut digunakan untuk membenahi berbagai fasilitas sekolah. Pekerjaan itu mencakup 12 ruang kelas, dua ruang administrasi, satu perpustakaan, serta sembilan toilet.
"Nilai bantuannya sebesar Rp1,8 miliar, yang peruntukannya untuk 12 ruang kelas, 2 ruang administrasi, 1 perpustakaan, 9 toilet," katanya.
Meski baru mencapai sekitar 40 persen, Abdul Mu'ti menyebut pembangunan berjalan lancar. Ia menargetkan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua bulan ke depan.
"Alhamdulillah sekarang pembangunan sudah berjalan lancar. Memang baru 40 persen, tetapi insyaAllah dalam waktu 2 bulan lagi pembangunan sudah bisa selesai 100 persen," jelasnya.
Revitalisasi SDN 1 Kedungjaya memiliki latar belakang tersendiri. Sekolah tersebut merupakan hasil penggabungan atau merger dari dua sekolah dasar. Penggabungan itu kemudian diikuti dengan kebutuhan penataan kembali sarana dan prasarana agar mampu menunjang kegiatan belajar mengajar.
Menurut Abdul Mu'ti, pembenahan fasilitas menjadi bagian penting setelah proses penggabungan tersebut.
"Ini adalah penggabungan (merger) dari dua SD. Mudah-mudahan dengan revitalisasi ini, sarana pembelajaran bisa lebih representatif dan lebih baik lagi," katanya.
Menariknya, pembangunan sekolah dilakukan dengan sistem swakelola. Dengan mekanisme tersebut, pengerjaan tidak sepenuhnya diserahkan kepada pihak luar. Pihak sekolah terlibat langsung dalam pengelolaan pembangunan dengan melibatkan masyarakat sekitar.
"Sistemnya adalah swakelola, langsung dikelola oleh kepala sekolah dan melibatkan masyarakat yang bekerja di sini, serta ada panitia P2S (Panitia Pembangunan Sekolah)," katanya.
Selama proses tersebut berlangsung, para siswa harus beradaptasi dengan suasana belajar yang berbeda. Ruang-ruang kelas yang biasanya menjadi tempat mereka belajar kini masih dalam proses pembangunan. Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke gedung serbaguna desa.
Dalam kunjungan tersebut, Abdul Mu'ti juga menyinggung masih adanya sekolah di berbagai wilayah Kabupaten Cirebon yang membutuhkan perbaikan.
Menurutnya, revitalisasi sekolah tidak dapat dilakukan secara bersamaan karena penanganannya harus dilakukan secara bertahap. Sekolah yang mengalami kerusakan berat menjadi salah satu prioritas dalam program tersebut.
"Pembangunan tidak bisa sekaligus, melainkan bertahap. Kita tetap memprioritaskan sekolah yang rusak berat," ucapnya.
Ia memastikan sekolah yang belum mendapatkan alokasi revitalisasi pada 2026 masih memiliki peluang untuk memperoleh penanganan pada tahun berikutnya.
"Sekolah yang rusak akan kita berikan alokasi untuk tahun 2027," terangnya.
Direktur Jendral Sekolah Dasar, Moch Salim Somad, yang turut mendampingi kunjungan tersebut mengatakan terdapat 82 SD yang mendapatkan intervensi pada 2026 melalui sejumlah sumber anggaran.
"Saat ini tahun 2026 terdapat 82 sekolah SD yang kita intervensi, baik melalui APBN, APBD 1, maupun APBD 2. Khusus untuk Kabupaten Cirebon, total anggarannya Rp44 miliar untuk tahun 2026 ini," kata Salim.
Sementara itu, Bupati Cirebon Imron menyebut program rehabilitasi pada tahun ini tidak hanya menyasar SDN 1 Kedungjaya. Menurutnya, terdapat 83 SD di Kabupaten Cirebon yang mendapatkan rehabilitasi pada 2026.
"Di Kabupaten Cirebon sendiri, kita mendapatkan rehabilitasi untuk Sekolah Dasar sebanyak 83 sekolah pada tahun ini," ujar Imron.
Selain SD, rehabilitasi juga menyasar jenjang pendidikan lainnya. "Selain SD, untuk tingkat SMP ada sekitar 32 sekolah dan PAUD sekitar 70-an," katanya.
Namun, Imron mengatakan total anggaran keseluruhan untuk seluruh jenjang pendidikan tersebut masih belum dapat dipastikan karena terdapat tahapan susulan.
"Untuk total nilainya secara keseluruhan belum bisa dipastikan karena masih ada tahapan susulan berikutnya," jelasnya.
Dari Ruang Belajar Sementara, Berlanjut ke Menu MBG
Usai melihat proses revitalisasi sekolah, kunjungan Abdul Mu'ti berlanjut ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di sekitar SDN 1 Kedungjaya.
Di tempat tersebut, ia tidak hanya melihat proses penyediaan makanan, tetapi juga menyaksikan langsung para siswa menikmati menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Abdul Mu'ti bahkan masuk ke ruang belajar sementara dan melihat aktivitas siswa ketika menyantap makanan yang disediakan. Ia mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan menu yang diberikan kepada siswa memenuhi standar gizi.
"Alhamdulillah tadi saya meninjau langsung, SPPG-nya bagus dan katanya sudah berjalan 2 tahun," katanya.
Ia kemudian melihat siswa menikmati makanan yang telah disediakan. "Saya juga tadi masuk ke kelas melihat anak-anak sangat semangat menikmati menu yang disediakan," ujarnya.
Menurut Abdul Mu'ti, menu MBG harus memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan anak. Setidaknya terdapat sayuran, protein, dan karbohidrat dalam menu yang disajikan.
"Disediakan menu yang sehat, dan sesuai arahan Pak Presiden, beliau menugaskan saya untuk mengecek kesesuaian menu yang dihidangkan dengan standar," ucapnya.
Dari peninjauan tersebut, Abdul Mu'ti menyebut menu yang diberikan kepada siswa telah memenuhi unsur tersebut. "Alhamdulillah tadi yang saya lihat menunya sesuai dengan standar: ada sayurnya, ada proteinnya, ada karbohidratnya. Semua anak-anak di kelas menikmati dengan sangat gembira," jelasnya.
Di tengah bangunan sekolah yang masih dipenuhi aktivitas pembangunan, para siswa pun tetap menjalani rutinitas belajar mereka.
Untuk sementara, gedung serbaguna desa menjadi ruang kelas mereka. Di satu sisi, pekerja terus mengejar target penyelesaian revitalisasi. Di sisi lain, para siswa tetap belajar dan menikmati program MBG sambil menunggu sekolah mereka kembali menjadi tempat belajar yang lebih layak dan representatif.
(sud/sud)
