Tak pernah terlintas di benak Suyoto (60) bahwa uang Rp30.000 yang diberikannya kepada sang anak pada Minggu sore (20/9/2026) akan menjadi pemberian terakhir.
Sore itu, putrinya masih datang ke rumah mereka di Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Korban berpamitan kepadanya hendak pergi.
Seperti orang tua pada umumnya, Suyoto sempat mengingatkan putrinya agar tidak terburu-buru. Ia juga menanyakan berbagai keperluan yang harus dibawa, mulai dari pakaian hingga obat-obatan.
Sebelum pergi, ada satu permintaan sederhana korban yang disampaikan kepada sang ayah. Ia meminta uang untuk membeli bakso.
"Pengin berangkat, 'Bapak, untuk baso.' Nanti sorenya minta baso, dikasih duit Rp30.000," tutur Suyoto saat ditemui di rumahnya, Rabu (23/9/2026).
Tidak ada pula tanda yang membuat Suyoto menyangka bahwa pertemuan tersebut akan menjadi salah satu kenangan terakhirnya bersama sang anak.
Beberapa jam berselang, perempuan tersebut berada di sebuah hotel di Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.
Pada Senin (21/9), kabar yang datang bukan lagi tentang keberadaan sang anak, melainkan berita kematian.
Bagi Suyoto, momen sederhana ketika putrinya meminta uang untuk membeli bakso kini berubah menjadi kenangan yang terus terbayang.
Sekitar pukul 15.00 WIB, Suyoto mengaku pertama kali mengetahui putrinya telah meninggal dunia. Informasi tersebut, kata dia, diterimanya melalui ponsel dan media sosial.
"Sekitar jam 15-an dapatnya," ujarnya.
Tidak lama kemudian, ia dipanggil kepala dusun dan diminta datang. Di situlah Suyoto harus berhadapan dengan kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.
Putrinya telah meninggal dunia. Jenazah korban kemudian dimakamkan pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 08.00 WIB.
Kepergian tersebut terasa semakin berat karena korban sebenarnya masih memiliki sejumlah rencana untuk masa depannya. Salah satunya adalah kembali bekerja ke luar negeri.
Rencana Berangkat ke Taiwan Tak Pernah Terwujud
Muah (52), ibu korban, mengatakan putrinya sebelumnya pernah bekerja di Malaysia.
Setelah itu, korban berencana kembali bekerja di luar negeri. Kali ini, ia tengah mempersiapkan keberangkatan ke Taiwan.
"Kemarin mau berangkat ke Taiwan, sudah belajar di PT Sumber," kata Muah.
Menurut keluarga, keberangkatan tersebut bahkan direncanakan pada pekan berikutnya, persiapan pun masih dilakukan. Namun, rencana tersebut mendadak terhenti.
Alih-alih berangkat ke Taiwan untuk mencari penghidupan, korban justru ditemukan meninggal dunia di sebuah kamar hotel di Kota Cirebon.
Di tengah suasana duka, Suyoto juga mengungkap perjalanan hubungan putrinya dengan S (23), pria yang kini telah diamankan polisi dan disebut sebagai mantan suami korban.
Menurut Suyoto, persoalan dalam hubungan keduanya bukan baru muncul setelah pernikahan.
Ia mengaku telah melihat adanya pertengkaran sejak keduanya masih menjalani hubungan sebelum menikah.
"Ya, waktu awal-awal iya. Sebelum kawin aja udah bertengkar," katanya.
Suyoto bahkan mengaku pernah mengetahui kondisi putrinya setelah terjadi persoalan dengan S.
Kondisi tersebut membuat keluarga, menurut pengakuannya, sempat tidak menyetujui hubungan keduanya.
"Jelas-jelas nggak benar nih," ujarnya.
Meski demikian, hubungan itu akhirnya berlanjut hingga ke jenjang pernikahan.
Suyoto mengatakan putrinya dan S menjalani rumah tangga selama sekitar tiga tahun dan telah memiliki seorang anak.
Namun, persoalan dalam rumah tangga tersebut disebut kembali terjadi. Suyoto mengaku putrinya pernah mengalami kekerasan.
"Wah, dipukul itu. Di Jalan Cileungsi itu (waktu belum cerai), dipukul," ungkapnya.
Sebagai ayah, pengalaman tersebut meninggalkan luka tersendiri bagi Suyoto.
"Orang apa sih. bikin sakit hati orang tua," katanya.
Simak Video "Video: Keji! Ayah di Gorontalo Aniaya Bayi Sambil Video Call Istri"
(mso/mso)