Di pinggiran keriuhan Hari Jadi Kuningan, seorang pemuda berdiri mematung. Tangannya erat memegang tali kekang seekor kuda yang berhias elok.
Namanya Angga, usianya baru 22 tahun. Di balik kemeriahan parade yang melintas, ia bukan bagian dari barisan peserta. Angga adalah penyintas ekonomi yang menggantungkan hidup pada jasa kuda tunggang.
Sembari menawarkan tumpangan kepada setiap pasang mata yang lewat, Angga bercerita bahwa profesi ini bukanlah hal baru baginya. Ia sudah akrab dengan pelana sejak masih berseragam SMP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kala itu, sepulang sekolah, langkah kakinya langsung menuju Alun-Alun pusat kota Kuningan untuk menjemput rezeki. Kecintaannya pada hewan gagah ini menjadi bahan bakar utamanya bertahan selama belasan tahun.
"Sudah lama, dari sebelum alun alun ini berubah saja sekitar tahun 2010 an. Sudah mulai. Dari kecil hobi. Tapi ini bukan kuda sendiri, punya saudara," tutur Angga.
Angga mengenang masa-masa keemasan profesinya. Dulu, Jalan Siliwangi adalah ladang yang subur bagi penyedia jasa kuda tunggang. Keramaian yang tak putus membuatnya mudah mengantongi ratusan ribu rupiah hanya dalam hitungan jam. Namun, roda nasib berputar. Wajah kota yang kini bersolek lewat revitalisasi justru membawa dampak yang tak terduga bagi dompetnya.
Penataan kawasan Alun-Alun Kuningan yang kini tampak lebih modern, menurut Angga, justru menyisakan kesepian bagi para pencari nafkah seperti dirinya. Suasana yang dulu hidup dengan pedagang dan kerumunan kini terasa berbeda. Padahal, di balik jasa sewa itu, ada tanggung jawab besar untuk merawat sang kuda yang butuh perhatian ekstra agar tetap bugar.
"Dulu mah ya pengen Rp 100 ribu dapat dalam waktu 1 jam dapat. Rp100 ribu belum tentu sehari juga. Kadang mah nggak dapat sehari. Dulu makan di tempatnya masih ada yang jualan, kalau sekarang mah nggak ada yang jualan. Jadi area sini sepi. Sekarang saja, meski banyak orang tapi tetap sepi. Ngerawat sendiri di Purwawinangun. Gampang-gampang susah. Ya kalau perawatannya kurang ya kadang gampang sakit," tutur Angga.
Ketidakpastian pendapatan dan sulitnya mencari celah kerja di tanah kelahiran sempat membawa Angga mengadu nasib ke ibu kota. Ia menghabiskan waktu sebagai buruh pabrik di Jakarta. Namun, ketika kontrak kerjanya berakhir, ia terpaksa pulang dan kembali memegang tali kekang kuda di Kuningan.
Kini, di tengah hiruk-piruk kota yang merayakan hari jadinya, Angga hanya bisa berharap pada keberuntungan. Di antara aroma rumput dan derap langkah kuda di Purwawinangun, ia menyimpan mimpi untuk kembali mendapatkan pekerjaan yang lebih stabil, entah itu di perantauan atau di tanah sendiri.
"Merantau ke Jakarta 1 tahun sampai 2 tahun. Terus Habis kontrak di pabrik. Tapi sekarang mah udah di sini, kerja di sini aja. Ngarit, cari pakan saja. Semoga bisa kayak dulu lagi. Ya pengen mah pengen merantau lagi kalau ada kontrak lagi mah," pungkas Angga.
(dir/dir)
