Cuan Menggiurkan dari Ternak Jangkrik

Cuan Menggiurkan dari Ternak Jangkrik

Erick Disy Darmawan - detikJabar
Jumat, 11 Sep 2026 07:00 WIB
Budidaya jangkrik milik Toto Rumanta.
Budidaya jangkrik milik Toto Rumanta. (Foto: Erick Disy Darmawan/detikJabar)
Majalengka -

Budidaya jangkrik menjadi usaha baru yang ditekuni Toto Rumanta, warga Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka. Baru sekitar satu bulan menjalankan usaha tersebut, Toto sudah bisa menghasilkan sekitar 100 kilogram jangkrik dalam sekali panen.

Toto memulai usaha budidaya jangkrik dengan modal sekitar Rp 1 juta. Namun, modal tersebut hanya digunakan untuk membuat boks atau kandang jangkrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara untuk bibit, Toto menjalankan usaha dengan sistem kemitraan. Telur jangkrik diperoleh dari mitra sehingga ia tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membeli bibit.

"Modal awal Rp 1 juta. Itu cuma modal boksnya saja. Kalau jangkriknya mah sistem kemitraan, kita dikasih telur dari mitra kita," kata Toto kepada detikJabar belum lama ini.

ADVERTISEMENT

Saat ini Toto memiliki 10 boks untuk membesarkan jangkrik. Dalam satu siklus budidaya, ia menggunakan sekitar 2 kilogram telur.

Proses pembesaran jangkrik dari telur hingga siap dipanen membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Perawatannya pun relatif sederhana.

"Perawatannya simpel, paling nyemprot air saja tiap hari buat minumnya. Paling tantanganya kalau banyak cicak aja pada dimakan jangkriknya," ujarnya.

Untuk kebutuhan pakan, Toto menggunakan pakan anak ayam dengan harga sekitar Rp270 ribu per karung. Ia membeli dua karung untuk stok selama satu bulan. Namun, dalam satu siklus hingga panen, pakan yang terpakai hanya sekitar satu setengah karung.

Selain pakan tersebut, Toto juga menggunakan rumput. Pemberian rumput dilakukan mulai saat jangkrik berusia sekitar 15 hari.

Setelah sekitar satu bulan dibesarkan, jangkrik kemudian dipanen. Dalam sekali panen, Toto menyebut, hasilnya bisa mencapai sekitar 100 kilogram.

"Satu kali panen itu 100 kilogram. Keuntungannya sekitar Rp3 juta," katanya.

Ia menjelaskan, jangkrik hasil budidayanya tidak dipasarkan sendiri. Setelah panen, hasilnya diambil oleh pihak mitra untuk selanjutnya dipasarkan sebagai pakan burung dan ikan.

"Jangkriknya itu biasanya untuk pakan burung, ikan. Kita mah cuma ngebesarin saja. Kalau urusan penjualan mah kemitraan kita," jelas Toto.

Mitra Toto berasal dari Desa Cisetu, Kecamatan Rajagaluh, Majalengka. Ia bermitra dengan Dadan melalui usaha Humaira Bird Food.

Meski baru sekitar satu bulan menjalankan usaha, Toto melihat budidaya jangkrik memiliki peluang untuk dikembangkan. Dengan sistem kemitraan, ia cukup fokus pada proses pembesaran hingga jangkrik siap dipanen.

"Ya sangat menguntungkan untuk tambahan penghasilan. Saya sehari-hari mah usaha jualan kerupuk," pungkasnya.

(orb/orb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads