Kebakaran Gunung Ciremai: 40 Hektare Lahan Hangus Terbakar

Kebakaran Gunung Ciremai: 40 Hektare Lahan Hangus Terbakar

Fahmi Labibinajib - detikJabar
Rabu, 09 Sep 2026 14:56 WIB
Kebakaran di Gunung Ciremai.
Kebakaran di Gunung Ciremai. (Foto: Istimewa)
Kuningan -

Upaya pemadaman kebakaran lahan dan hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) masih terus dilakukan. Kondisi angin yang kencang serta medan yang terjal dan mudah terbakar jadi kendala dalam proses pemadaman tersebut.

Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar memaparkan bahwa dalam laporan yang diterimanya, hingga hari ketiga kebakaran, ada sekitar 40 hektare lahan di kawasan TNGC yang terbakar. Menurutnya, meski sejumlah titik telah berhasil dipadamkan, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman karena asap masih terlihat di beberapa titik lokasi.

"Sekarang berdasarkan laporan, sudah sekitar kurang lebih 40 hektare area yang terbakar. Namun sampai perkembangan hari ini, sudah mulai padam di beberapa titik," tutur Dian saat meninjau lokasi kebakaran, Rabu (9/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia memaparkan penanganan karhutla tidak cukup hanya memastikan kobaran api di permukaan telah padam. Pemantauan dan proses pendinginan tetap harus dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api. Apalagi kondisi angin yang kencang yang membuat api melompat dan melewati sekat bakar.

ADVERTISEMENT

"Persoalan di hutan itu kan tidak bisa dilihat hanya dari padam asapnya, karena dimungkinkan, dan saya lihat tadi ada beberapa titik yang belum padam sepenuhnya. Kita lihat ke arah atas, teman-teman juga mungkin ada yang membuat sekat bakar, tapi ini rawan karena angin besar di Kuningan hari-hari ini, jadi api itu menyeberang, melompat," tutur Dian.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kuningan Indra Bayu Permana memaparkan proses pemadaman terkendala beberapa faktor seperti akses menuju titik api yang terjal dan dipenuhi bebatuan, cuaca panas, arah angin yang berubah-ubah, serta keterbatasan sumber air.

Vegetasi yang kering akibat kemarau panjang turut mempercepat penyebaran api. Untuk mengatasi hal tersebut, petugas gabungan melakukan pemadaman api dan penyekatan dengan cara manual, dan dibantu dengan menggunakan mesin pompa, selang, nosel, jetshooter, serta kendaraan dobel gardan milik TNGC.

"Memang ada beberapa kesulitan, di antaranya akses jalan cukup terjal dan banyak batu-batu, angin yang berubah-ubah arah, cuaca panas, sulitnya sumber air. Namun kita upayakan supaya sebaran api tidak meluas," tutur Indra.

Dalam data BPBD Kuningan, lokasi kebakaran berada di kawasan lahan TNGC, meliputi Blok Cileutik, Blok Manguntapa, dan Blok Cimaung di wilayah Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan. Kebakaran terjadi di beberapa titik, dengan area terdampak didominasi pohon sonokeling. Menurutnya, tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Hingga Rabu (9/9/2026), penanganan kebakaran masih dilanjutkan kembali oleh tim gabungan yang terdiri dari Balai TNGC, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat peduli api (MPA) di kawasan TNGC. Upaya difokuskan pada pemadaman titik api, penyekatan untuk mengantisipasi perluasan kebakaran, serta pendinginan pada area yang telah terbakar.

Diberitakan sebelumnya, kebakaran hutan dan lahan mulai terjadi sejak Senin (7/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB. Saat itu, kepulan asap di kawasan lahan TNGC di blok Cileutik kemudian merembet ke Blok Cimaung dan Blok Manguntapa. Berdasarkan video resmi TNGC terlihat api menyala di area lahan yang terdiri atas ranting dan pepohonan. Akibat kebakaran tersebut asap mengepul hingga menutupi area hutan yang dipenuhi pepohonan.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads