Sumpia Udang Asal Talun Cirebon Menembus Pasar Berbagai Kota

Sumpia Udang Asal Talun Cirebon Menembus Pasar Berbagai Kota

Devteo Mahardika - detikJabar
Selasa, 08 Sep 2026 11:00 WIB
Sumpia udang asal Cirebon.
Sumpia udang asal Cirebon. (Foto: Devteo Mahardika)
Cirebon -

Dari luar, sumpia mungkin terlihat seperti camilan sederhana. Bentuknya kecil menyerupai lumpia, dengan kulit tipis yang digoreng hingga berwarna keemasan dan menghasilkan tekstur renyah ketika digigit.

Namun, di balik ukurannya yang mungil, tersimpan cerita tentang ketekunan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Cirebon.

Salah satunya adalah usaha produksi sumpia udang milik Maksum, warga Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Selama lebih dari dua dekade, ia konsisten memproduksi camilan bercita rasa gurih, asin dan sedikit manis tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha itu dirintis Maksum sejak tahun 2000. Kala itu, produksi sumpia masih dilakukan dengan cara sederhana. Seiring meningkatnya permintaan, proses produksinya perlahan berkembang hingga kini menggunakan peralatan semi modern.

ADVERTISEMENT

"Saya mulai produksi sejak tahun 2000. Dulu masih sederhana, sekarang sudah menggunakan alat semi modern supaya produksinya bisa lebih banyak," ujarnya, Senin (7/9/2026).

Bagi Maksum, sumpia udang bukan sekadar makanan ringan. Produk tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat di lingkungan sekitar.

Dalam sehari, ia mampu memproduksi hingga 1 ton sumpia udang. Jumlah produksi tersebut tentu tidak dikerjakan seorang diri.

Maksum melibatkan warga sekitar dalam sejumlah tahapan produksi. Mulai dari menyiapkan bahan, membuat adonan, mengolah isian, membentuk sumpia hingga proses pengemasan.

Keterlibatan warga tersebut menjadi salah satu dampak nyata keberadaan UMKM yang dijalankannya. Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, usaha rumahan seperti milik Maksum mampu menciptakan lapangan pekerjaan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Dari Udang Rebon Menjadi Camilan Renyah

Untuk menghasilkan sumpia dengan cita rasa khas, Maksum menggunakan sejumlah bahan utama seperti tepung terigu, tepung panir, rempah-rempah dan udang rebon.

Bahan-bahan tersebut kemudian diolah melalui beberapa tahapan hingga menjadi sumpia berukuran kecil yang siap digoreng dan dipasarkan.

Udang rebon menjadi salah satu bahan yang memberikan karakter rasa tersendiri. Perpaduan gurihnya udang dengan bumbu dan tekstur renyah membuat sumpia ini cocok dijadikan camilan sehari-hari.

"Awal usaha ini tahu dari keluarga saya di Kuningan, setelah itu saya coba-coba ternyata banyak yang minat dan alhamdulillah bertahan sampai sekarang," paparnya.

Ukurannya yang kecil juga membuat sumpia praktis disantap kapan saja, baik sebagai teman minum teh maupun sekadar camilan di rumah.

Tak mengherankan jika produk tersebut memiliki pelanggan di luar wilayah Cirebon.

Menembus Pasar Jawa Timur hingga Palembang

Perjalanan usaha Maksum tidak berhenti di pasar lokal. Produk sumpia udangnya kini dipasarkan ke sejumlah daerah di luar Jawa Barat.

Pasarnya bahkan telah menjangkau berbagai kota di Jawa Timur, seperti Blitar, Kediri, Tuban, Gresik, Surabaya dan Lamongan. Produk tersebut juga dipasarkan hingga Palembang.

Untuk setiap kemasan seberat 5 kilogram atau satu ball, sumpia udang miliknya dijual dengan harga sekitar Rp115 ribu.

Jangkauan pasar yang semakin luas membuat kapasitas produksi harus terus dijaga. Sebab, permintaan dari berbagai daerah datang secara berkelanjutan dan menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku UMKM.

"Kebanyakan yang pesan sih dari luar kota, jadi kami benar-benar harus jaga kualitasnya," terangnya.

Maksum mengaku, salah satu kendala yang masih dihadapi hingga saat ini adalah proses distribusi serta ketersediaan bahan baku.

Bagi usaha dengan kapasitas produksi hingga satu ton per hari, kelancaran pasokan bahan baku menjadi faktor penting agar proses produksi tidak terganggu. Begitu pula dengan distribusi, karena produk harus dikirim ke berbagai daerah dengan kondisi tetap baik ketika sampai di tangan konsumen.

Berharap Sumpia Cirebon Bisa Menembus Pasar Ekspor

Meski menghadapi berbagai tantangan, Maksum tidak ingin berhenti pada pasar domestik.

Ia memiliki harapan agar usaha yang telah dirintis selama lebih dari 20 tahun tersebut dapat berkembang lebih besar dan mampu menembus pasar internasional.

Menurutnya, fasilitasi untuk membuka akses ekspor sangat dibutuhkan oleh pelaku UMKM. Dengan masuk ke pasar luar negeri, produk-produk lokal tidak hanya memiliki pasar yang lebih luas, tetapi juga berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.

"Saya berharap produksi sumpia ini bisa terus berkembang. Kalau bisa, kami difasilitasi untuk ekspor supaya UMKM bisa bersaing di pasar luar negeri," harapnya.

Harapan itu menjadi gambaran bahwa di balik camilan sederhana terdapat mimpi besar seorang pelaku usaha.

Dari sebuah usaha yang dirintis sejak tahun 2000 di Kecamatan Talun, sumpia udang kini mampu diproduksi hingga satu ton sehari dan dikirim ke berbagai kota di Indonesia.

Sumpia yang berukuran kecil itu pun membawa cerita yang jauh lebih besar tentang ketekunan, pemberdayaan masyarakat, dan harapan agar produk UMKM Kabupaten Cirebon suatu hari mampu berdiri sejajar di pasar global.

(sud/sud)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads