Aroma rempah menyeruak dari Pamburatan, salah satu bangunan di kompleks Keraton Kasepuhan. Di dalam bangunan itu, sejumlah perempuan tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Di antara mereka, ada yang menyiapkan bahan alami yang sudah tercampur, ada pula yang duduk menghaluskan racikan menggunakan alat tradisional berbahan batu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivitas itu merupakan bagian dari tradisi mipis boreh, yakni proses pembuatan lulur di Keraton Kasepuhan Cirebon. Proses pembuatannya pun tidak bisa dilakukan sembarangan.
Salah seorang keluarga Keraton Kasepuhan, Ratu Dini Andhiyani mengatakan pembuatan boreh membutuhkan waktu cukup panjang. Prosesnya bahkan bisa berlangsung hampir sepekan.
"Prosesnya ini cukup lama, hampir satu minggu," kata Dini saat berbincang dengan detikJabar di Keraton Kasepuhan Cirebon, baru-baru ini.
Prosesnya dilakukan dengan memipis atau menghaluskan bahan-bahan yang telah disiapkan. Racikan tersebut terdiri dari sejumlah bahan alami.
Menurut Dini, terdapat beberapa macam bahan yang digunakan dalam boreh tersebut. Setelah dihaluskan, racikan tidak langsung selesai. Bahan itu kemudian menjalani proses pemanggangan secara manual menggunakan kayu bakar dan alat tradisional.
Proses pemanggangan bisa dilakukan hingga beberapa kali. Jika hasilnya belum sesuai, prosesnya diulang. Racikan kembali dipanggang, lalu dihaluskan lagi. Begitu seterusnya hingga dianggap sudah sesuai.
"Kalau belum halus, balik lagi, dibakar lagi, sampai wangi," ujarnya.
Ada pula pembagian tugas dalam proses pembuatan boreh. Perempuan menjadi pihak yang melakukan proses mipis atau penghalusan. Sementara untuk proses pemanggangan, terdapat laki-laki yang bertugas menyiapkan kayu.
"Kalau udah proses pemanggangan, itu ada bagian laki-laki yang bagian untuk mengambil kayunya," kata Dini.
Di Keraton Kasepuhan, pembuatan boreh juga memiliki aturan tersendiri. Perempuan yang sedang berhalangan tidak diperbolehkan ikut dalam proses tersebut.
"Untuk perempuan yang sedang berhalangan, tidak boleh membuat ikut membuat boreh," kata Dini.
Air yang digunakan dalam pembuatan boreh pun bukan air biasa. Air tersebut berasal dari air yang sebelumnya telah digunakan dalam Siraman Panjang, yakni prosesi mencuci benda-benda pusaka berupa guci dan piring.
"Air yang dipakai adalah air yang dipakai untuk Siraman Panjang," kata dia.
Di Keraton Kasepuhan, proses pembuatan lulur atau boreh ini menjadi salah satu rangkaian tradisi yang rutin dilakukan menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Boreh yang telah selesai dibuat nantinya dibawa dalam prosesi Panjang Jimat pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Boreh atau lulur ini nanti masuk ke dalam iring-iringan panjang jimat yang nanti akan dibawa dan diarak di acara prosesi panjang jimat," kata Dini.
Sementara itu, salah seorang abdi dalem Keraton Kasepuhan, Satu, menjelaskan bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan lulur tersebut. Menurutnya, racikan boreh dibuat dari berbagai rempah dan bahan alami yang dipilih untuk menghasilkan lulur khas Keraton Kasepuhan.
"Jadi untuk pembuatan boreh atau lulur ini bahannya adalah rempah-rempah," kata Satu.
Ia kemudian menyebut sejumlah bahan yang digunakan dalam racikan tersebut. Di antaranya kayu cendana, kayu gaharu, akar wangi, cengkeh, adas dan beberapa bahan alami lainnya.
Menurut Satu, lulur berbahan rempah itu bisa digunakan untuk perawatan tubuh, salah satunya bagi ibu-ibu setelah melahirkan.
"Lulur atau boreh ini untuk menjaga kesehatan ibu yang habis melahirkan. Karena ibu yang melahirkan itu capek dan pegal. Nah nanti pegal-pegalnya itu dihilangkan dengan lulur ini. Nanti dipakainya di kening atau badan," terang Satu.
(sud/sud)
